Wushu, Sepakbola, dan NasDem Berduka, Selamat Jalan Opa Manila

Senin, 18 Agustus 2025 17:13
Opa Manila

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Kabar duka. Tokoh masyarakat asal Pulau Dewata Bali kelahiran Singaraja 8 Juli 1942, tokoh olah raga berjuluk Bapak Wushu Indonesia juga eks manajer Timnas Indonesia dan Persija Jakarta, dan tokoh veteran korps polisi militer: Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Purnawirawan I Gusti Kompyang (IGK) Manila berpulang, Senin (18/8/2025).

Salah satu dari 15 perwira remaja pertama lulusan Akademi Militer Nasional (AMN, kini Akmil) 1964 kecabangan Corps Polisi Militer ini wafat usai menghembuskan napas terakhir dalam perawatan medis RS Bunda Menteng Jakarta Pusat, Senin sekira pukul 9 pagi.

Terakhir, IGK Manila diketahui aktif sebagai politisi, menjabat sebagai Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai Nasional Demokrat (NasDem) sejak 2020 hingga akhir hayatnya.

Semasa hidup, almarhum pernah menjabat Kepala Polisi Militer Kodam IV/Sriwijaya dan Komandan Pusat Pendidikan Polisi Militer (1985), Wakil Komandan Pusat Polisi Militer (Wadan Puspom) ABRI (1988) dan terakhir sebagai Staf Ahli Panglima ABRI (1993).

Saat dinas aktif, dia tercatat pernah terlibat Operasi Penumpasan G-30S/PKI (1965), Operasi Dwikora (1966), Operasi PGRS (1967), Operasi Ganesha (1982), dan Kontingen GARUDA VII (UNEF Timur Tengah).

Setahun prapensiun 1996, dia 'dikaryakan' sebagai Ketua Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN, kini IPDN) 1995–1998 lalu menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan per 15 Mei 1998 – dibubarkan oleh Presiden Gus Dur per 1 April 2000 silam.

Selanjutnya, IGK Manila menjabat Otorisator BIKN (2000) dan Wakil Ketua Umum ORARI (2006) sebagai Direktur Akademi Olah Raga Indonesia (AKORIN) dengan nama panggilan radio amatirnya YB0AA, dan dia juga pernah menjabat Ketua BWSI PSSI (2007).

Peraih Tanda Jasa Satya Lencana GOM VIII, Satya Lencana Wira Dharma, Satya Lencana Penegak, Satya Lencana Kesetiaan VII tahun dan Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun, Satya Lencana Seroja, dan Satya Lencana Bintang Yudha Darma tersebut, legendaris kesuksesannya saat memanajeri tiga tim.

Pertama, klub sepak bola Bandung Raya hingga menjuarai Liga Indonesia 1996. Lalu Manajer Timnas Sepakbola Indonesia hingga meraih emas SEA Games 1991 usai Indonesia menang adu penalti 4-3 (0-0) atas Thailand di final Stadion Olimpiade Kamboja, Manajer Persija Jakarta juarai Liga Indonesia 2001 usai Macan Kemayoran menang 3-2 atas PSM Makassar di Stadion Utama GBK Jakarta.

Pamit dari Persija karena faktor usia, alasan kesehatan (2007), belasan tahun berselang publik menyapanya "Pak Gubernur", alias dia didapuk Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menjadi Gubernur ABN Partai NasDem.

Melalui keterangan tertulis unggahan semua akun ofisial media sosialnya, Partai NasDem pun menjuntai pita hitam tetanda berkabung.

"Keluarga Besar Partai NasDem berduka cita atas meninggalnya salah satu panutan terbaik di tubuh pergerakan Partai NasDem, Opa IGK Manila (Gubernur Akademi Bela Negara Partai NasDem)," keterangan unggahannya, Senin, circa pukul 11.14 WIB.

"Tiada kata yang dapat menggambarkan rasa kehilangan ini. Namun, doa terbaik seluruh keluarga besar Partai NasDem mengiringi langkah kepergian Opa Manila menuju keabadian. Terima kasih, Opa atas segalanya
Terima kasih…," pilu, haru, takzim NasDem.

Senada kehilangan, terpisah, pengusaha kakap, musisi jazz pendiri Java Jazz Festival dan mantan rekan duet Iga Mawarni, manajer top genre pertama RCTI, Duta Besar RI untuk Polandia 2014–2018, dan kini selain juru siniar Podcast Akal Suluh, juga Ketua Dewan Pakar Partai NasDem 2024–2029: Peter F. Gontha, turut mengantar kepergian Opa, sapaan IGK Manila selain Engkong Jenderal, dengan obituarinya.

Penulis buku 'A Moment of Recognition: A Memoir', yang diluncurkan di NasDem Tower Jakarta 11 Juni 2025 lalu, catatan bagaimana seseorang yang begitu mencintai negaranya bisa menerjemahkan diplomasi menjadi pengalaman nyata nan membekas di negara sahabat, dan diterbitkannya agar jadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.

Buku, melukiskan diplomasi tak melulu urusan protokol dan politik luar negeri, menunjukkan wajah Indonesia di dunia internasional bisa diintrodusir lewat ragam cara (musik, kuliner, bahkan olahraga), kisahkan masa tugas Peter saat Dubes meski bukan diplomat karir namun justru latar itulah yang membuatnya tampil beda dalam panggung diplomasi —diplomasi ekonomi, diplomasi politik, diplomasi bebas aktif, diplomasi kuliner, serta diplomasi dalam menunjukkan Indonesia negara maju.

Satu momen diplomatik berkesan, ketika dia berhasil cairkan kebekuan hubungan Korea Selatan-Korea Utara. Dubes kedua Korea untuk Polandia biasanya ogah bertegur sapa justru bersalaman di satu acara yang Peter gagas di Warsawa.

Bagi Peter itu bukan sekadar capaian pribadi tetapi potret betapa hangat, netralnya citra Indonesia di mata dunia. Tak heran, akhir era tugasnya, Presiden Polandia Andrzej Duda anugerahi Peter penghargaan Commander’s Cross of The Order of Merit of The Republic of Poland, salah satu penghargaan tertinggi negara tersebut untuk warga asing.

Buku itu Peter tulis bukan untuk dijadikan panduan, melainkan masukan dan warisan pemikiran bagi para penerus. “Semoga apa yang saya tulis itu dan pengalaman yang saya dapatkan di situ bisa jadi juga masukan bagi Dubes-Dubes berikutnya dari Indonesia.”

Beberapa hari lalu, putra Rudi Gontha dan kakak Dee Gontha ini baru saja menuliskan kenangannya tentang mendiang sang ayah.

"11 Agustus 1920, hari lahir ayah saya. Sosok keras dan jujur, yang berdiri tegak melawan korupsi di Permina (sekarang Pertamina) tahun 1963. Menulis di Majalah Times mengenai korupsi di Indonesia jaman Soekarno. Karena sikap tegasnya itu, ia dikejar penguasa dan terpaksa meninggalkan Indonesia. Ia adalah salah satu pejuang kemerdekaan Sulawesi Utara, untuk menjadikan antikorupsi, dan mengajarkan saya untuk tidak pernah mencuri atau mengambil yang bukan hak kita," kisah Peter.

"Beliau (Rudi Gontha, red) meninggalkan kita tahun 1987, dalam umur muda hanya 67 tahun, namun nilai dan keteladanannya tetap hidup dalam diri kami. Nama Gontha akan selalu kami junjung tinggi. Selamat beristirahat, Papa. Saya bangga padamu. Bagi saya, engkau adalah seorang pahlawan," tulis dia.

Hari ini Peter seolah lanjut, mengenang sosok "ayah" lainnya. Berikut sejumlah petikannya.

"OBITUARI. In Memoriam Mayor Jenderal (Purn.) I Gusti Kompyang (IGK) Manila. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Kita semua kehilangan seorang mentor, panutan, dan pejuang tanpa henti. Selamat jalan Jenderal tercinta. Surga tempatmu telah disiapkan Tuhan," takzim Peter.

Mengulas kehidupan dan pengabdian Manila, "Sebagai sosok yang disiplin, tegas, sekaligus penuh kasih, Jenderal IGK Manila tidak hanya berkiprah di dunia militer, tetapi juga aktif berkontribusi dalam dunia olahraga nasional. Beliau dikenal luas sebagai Bapak Wushu Indonesia, karena dedikasi dan perannya membangun fondasi serta memajukan cabang olahraga wushu di Tanah Air," tulis ia.

"Peran dalam Dunia Olahraga dan Sepak Bola. Selain wushu, Jenderal IGK Manila juga memiliki kiprah besar di sepak bola. Beliau pernah menjabat sebagai Manajer Persija Jakarta dan dikenal sebagai pengamat sepak bola nasional yang peduli pada masa depan olahraga ini. Pada 2013, beliau menyuarakan dukungan bagi rekonsiliasi PSSI dan KPSI demi persatuan sepak bola Indonesia. Kemudian pada 2016, beliau dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi Pemilihan (KP) PSSI dalam Kongres Luar Biasa di Ancol."

Ihwal warisan nilai dan teladan mendiang, sepanjang hidupnya, imbuh Peter, "Jenderal IGK Manila menorehkan teladan luhur: kedisiplinan, integritas, keberanian, serta semangat membangun generasi penerus. Beliau meninggalkan warisan nilai yang akan selalu dikenang —kerja keras, kejujuran, nasionalisme, dan pengabdian tanpa pamrih."

Doa dan harapan Peter F. Gontha, "Selamat jalan, Jenderal IGK Manila. Semoga amal ibadahmu diterima, segala khilaf diampuni, dan engkau memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa," takzim dia.

"Kami yang ditinggalkan akan terus mengenang serta melanjutkan perjuanganmu. Namamu akan senantiasa hidup dalam doa, kenangan, dan hati kami," pungkas Peter.

Adapun, Ketua DPW Partai NasDem cum Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino, selain menyebut Opa Manila sebagai teladan dalam pengabdian dan pengorbanan untuk perjuangan bersama, juga mendoakan.

"Semoga Atman beliau mencapai kedamaian abadi di sisi Ida Sang Hyang Widi Wasa, dan keluarga yang ditinggalkan ketabahan serta kekuatan. Selamat jalan pejuang sejati NasDem, nama dan jasamu akan selalu dikenang," doa Wibi.

Lainnya, Suryakanta Institute, dalam larung duka citanya menyebut, Opa Manila sebagai sosok inspiratif yang penuh keteladanan. Selalu memberi kesan mendalam bagi setiap insan yang mengenalnya. "Selamat jalan, warisan kebaikanmu akan senantiasa hidup," bela rasa Suryakanta.

Dari Bumi Ruwa Jurai, seperti terpantau, ucapan belasungkawa mendalam antara lain disampaikan Direktur Eksekutif DPW Partai NasDem Lampung, Dedi Damhudi (Dedam), mendampingi Ketua DPW Herman HN, Senin.

"Selamat jalan Opa," tulis singkat Dedam, di Instagram. (Muzzamil)

Berita Terkini