LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----- Pilu nun sabar. Sakompak basatu, berbaik ikhtiar. Syahdan demikianlah suasana kebatinan Bupati Agam, Benni Warlis, saat bersama tim meninjau langsung lokasi longsor susulan di Jorong (Dusun) Pasa Maninjau, Nagari (Desa) Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Kamis (1/1/2026).
Longsor susulan akibat pergerakan material longsor residu bencana banjir bandang atau "galogo" dan tanah longsor sebelumnya yang melanda wilayah 52 kabupaten/kota di tiga provinsi terdampak: Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, 21-26 November 2025.
Notabene, menyebabkan terputusnya akses jalan provinsi ruas Lubuk Basung–Bukittinggi yang tertutup total akibat timbunan material bebatuan, kayu, dan lumpur di kawasan BRI Lama Pasar Maninjau tersebut.
Dari kiriman foto-foto situasi terkini lokasi, seperti disitat diakses dari Bandarlampung, hari yang sama, tampak sekali dampak baru kerusakan gegara longsor itu, termasuk yang menimpa sedikitnya 40 rumah warga, yang dapat dibayangkan detik detik terjadinya di malam pergantian tahun, Rabu tadi malam.
Benni Warlis yang melihat langsung kondisi badan jalan terdampak, berdialog dengan aparatur Pemerintah Kecamatan Tanjung Raya, Nagari Maninjau, dan warga setempat; serta memantau upaya penanganan darurat yang dilakukan bersama petugas gabungan Basarnas, TNI, Polri, dan relawan, tak dapat menyembunyikan keprihatinannya.
“Kondisi di Maninjau sekarang boleh dikatakan mencekam, karena sungai yang kemarin itu sudah beralih alirannya ke lokasi sebelahnya. Maka semakin banyak yang terancam rumah penduduk. Jadi hari ini apa yang bisa dilakukan masyarakat bersama Basarnas, TNI, dan Polri, lakukan apa yang bisa dilakukan,” tutur arahan direktifnya.
Bupati bernama lengkap Benni Warlis Datuk Tan Batuah, pengampu program unggulan "Bangkik dari Surau" guna bentuk karakter religius masyarakat Agam ini bilang, situasi mencekam Maninjau kini akibat perubahan aliran sungai itu, "berpotensi menambah ancaman bagi permukiman warga."
Sebab itu, Benni menekankan, penanganan bencana tak hanya dilakukan di titik longsor, tapi jua butuh penanganan teknis dari hulu agar kejadian serupa tak kembali terulang. Beni mengafirmasi kinerja koordinasinya.
“Kami sudah sampaikan ke Gubernur (Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah, red) dan Balai Sungai untuk ditangani secara teknis," ujar Benni, menggarisbawahi upaya penanganannya dari hulu perlu keilmuan.
"Yang longsor kita selesaikan dengan alat berat, tapi tadi satu alat berat ikut tertimbun karena kurangnya perhitungan teknis. Penyelesaian dari hulu sampai ke bawah ini harus ada ilmunya, itu yang kita mintakan ke provinsi melalui BWS. Alhamdulillah, BWS sudah hadir hari ini,” imbuhnya sedikit lega.
Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Agam melaporkan, saat ini di lokasi terdapat empat unit alat berat dikerahkan. Naas salah satu di antaranya tertimbun material longsor.
Adapun terpisah, "Balai Sungai" atau BWS yang Beni sebut, yakni Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU yang mengelola sumber daya air di Sumatra Barat termasuk Agam, dengan tugas fungsi pendayagunaan sumber daya air, pelaksana pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur sumber daya air (bendungan, irigasi, pengerukan sungai), pengendalian banjir dan abrasi, irigasi, konservasi sungai, dan mitigasi bencana air.
Bulan lalu, 11 hari pascabencana Sumatra atau H7 masa tanggap darurat, BWS ini jua ikut bekerja keras kerahkan alat berat untuk buka akses jalan akibat terhalang material aneka sampah, kayu dan kayu gelondongan, bebatuan aneka ukuran, serta pengerukan sedimen sungai di Kecamatan Tanjung Raya ini demi meretas keterisolasian akses jalan pascabencana, memastikan konektivitas antarwilayah tetap terjaga serta mendukung distribusi logistik dan mobilitas masyarakat.
Dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam sendiri, bersama unsur terkait terus lakukan penanganan darurat, pembersihan material, dan mitigasi lanjutan lainnya sebagai upaya nyata cegah kendali risiko bencana dan jua potensi bencana susulan bagi rakyatnya.
Terpisah, jika untuk data berapa panjang jalan provinsi dan kabupaten/kota yang rusak, lumpuh total, dan butuh perbaikan setidaknya di wilayah Ranah Minang pun Kabupaten Agam didalamnya. Sekadar ilustrasi besaran skala bencana November.
Disitat kembali seperti diakses ulang, dari keterangan gamblang Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti di hadapan Rapat Kerja Komisi V DPR RI di Jakarta 8 Desember 2025 lalu, terkait langkah cepat tanggap darurat jalan nasional di wilayah terdampak, dari total 1.666 titik kerusakan jalan nasional per progres pendataan dan identifikasi lokasi terdampak tiga provinsi hingga 6 Desember 2025 pukul 22.00 WIB, terdapat 914 titik di Sumatra Barat: didominasi longsor 203 titik, banjir 119 titik, jembatan tergerus 56 titik.
Selain 477 titik di Aceh, didominasi banjir tanggul kritis 143 titik, longsor 46 titik, dan banjir tanggul jebol 36 titik. Dan 275 titik di Sumatra Utara, didominasi longsor 113 titik, jalan tergenang 17 titik, jalan putus 13 titik.
Terhadap infrastruktur bina marga terimbas ini, Wamen Diana bilang, pihaknya mencatat terdapat 72 ruas jalan nasional sepanjang 2.058 kilometer yang rusak akibat bencana Sumatra. Selain ada 31 jembatan nasional sepanjang 2.537 meter, rusak senada.
Dengan jalan daerah (jalan provinsi, jalan kabupaten/kota), Bu Wamen? "Sementara baru teridentifikasi 108 ruas jalan daerah, dan 48 jembatan daerah di tiga provinsi."
Berikutnya, sejumlah ruas jalan non tol yang masih atau sempat (atau hingga kini juga masih terputus dan normalisasinya masih terus dalam proses pengerjaan). Antara lain ruas Sicincin batas Kota Padang Panjang, di Sumatra Barat.
Lalu, ruas Mereudeu-Pidie Jaya, Bireuen, batas Aceh Utara, ruas Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Nagan Raya, ruas Geumpang-Pameu (59,6 km hubungkan wilayah Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie dan Kecamatan Pameu, Aceh Tengah), serta Genting Gerbang-Uning (sepanjang 15,3 km penghubung Gampong Genting Gerbang Kecamatan Silih Nara dan Uning Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah).
Di Sumatra Utara, ruas Tarutung-Sibolga, Tarutung-Sipirok, dan Sibolga-Batang Toru, Batang Toru-Singkuang.
Progres penanganan tanggap darurat jalan nasional tersebut, hingga 8 Desember itu tercatat tercapai 31,47 persen di Sumatra Barat, 48,34 persen di Aceh, 76,44 persen di Sumatra Utara. Kementerian PU sebut Diana, bersama stakeholder akan terus lakukan perbaikan demi memastikan konektivitas jalan kembali normal dan mendukung mobilitas masyarakat di wilayah terdampak.
Seperti diketahui, usai sebelumnya sempat menjadi wilayah terdampak terparah dengan jumlah penyintas tewas terbanyak di tiga provinsi, seperti disitat dari pembaruan terkini data dinamis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis, korban tewas akibat bencana di Kabupaten Agam, masih terbanyak se-Sumatra Barat.
Atau, terbanyak kedua setelah Kabupaten Aceh Utara, secara seluruh. Dari total jumlah 1.157 korban tewas per data BNPB, Kamis (1/1/2026) pukul 15.30 WIB, korban wafat berhasil ditemukan ditemukenali dipulasari dimakamkan di Aceh Utara ada 216 jiwa. Sedangkan di Agam tembus 192 jiwa.
Dan dari total 378,2 ribuan warga penyintas selamat yang berstatus pengungsi di tiga provinsi, di Kabupaten Agam kini tersisa sedikitnya 4.300-an jiwa lagi. Sebagian ada yang telah kembali ke kediamannya untuk memperbaiki kerusakan, sebagian lain juga ada yang memilih mengungsikan diri untuk sementara ke tempat lain yang dirasa lebih aman sekaligus memulihkan trauma psikis.
Terbayang andai itu saudara sedarah atau saudara bertalian darah dengan kita, warga penyintas selamat berstatus pengungsi ini sungguh kuat jiwanya, sungguh digdaya mentalnya, sungguh ajaib jetegarannya.
Sudah: diterjang banjir ragam ketinggian (mulai dari sedada dewasa: 1,5-2 meter, ada yang setinggi tiang listrik PLN atau pohon kelapa: 6-8 meter, adapula di sejumlah titik dilaporkan mencapai hingga 10-13 meter); sebagian lain plus plus diterjang material longsor, ada yang sempat terhanyut lantas Allah selamatkan lewat uluran tangan cepat sesama warga korban bencana.
Sudah itu: rumah seisinya hancur lebur tak tersisa dan ribuan terhanyut banjir bandang, listrik padam total tiga mingguan, akses internet dan akses telekomunikasi terputus sedikitnya dua pekan pertama, lalu pakaian tinggal yang melekat di badan, luluh lantak getir tiada terperi betapa sesak dada pilu demi membayangkan.
Belum lagi akses bantuan rupa-rupa logistik darurat telat merata akibat sulitnya akses, hingga banyak viral warga penyintas selamat mengeluhkan kata "lapar", "butuh air bersih" lantaran tak sedikit yang terpaksa menadah meminum air hujan
Dan tak sedikit pula sebagaimana viral dan sesontak bikin tenggorokan tercekat, tatkala ada korban selamat pengungsi yang sekadar beranikan diri request minta bantuan pada para relawan: "kalau ada mukena saya mau", "saya minta Iqro" dan lainnya bernada tanya ada Al Quran?"
Maha Besar Allah dengan segala FirmanNya.
Demi menyaksikan tayangan video amatir seorang bocah muslim Aceh korban selamat tengah khusyuk di tenda pengungsi, dengan temaram cahaya lampu minyak menerangi mushaf kecil di tangannya, lantunkan ayat suci di hadapan sesosok ibu setengah baya, sontak ingatkan salah satu sabda Rasulullah SAW seperti diriwayatkan kembali dalam Hadis Riwayat (H.R.) Muslim dan Abu Malik Al-Asy’ari R.A., “Sabar itu adalah cahaya.”
Lampu padam bukan iman padam, padam lampu bukan padam iman. Di tengah lelah, kegelapan, kedinginan, duka kehilangan, kepiluan, kehampaan dan segala macam keterbatasan, lantunan sang bocah ini tak berkurang khusyuknya, pada bagian lain jua mengingatkan pada Hadis Rasulullah lainnya seperti diriwayatkan dalam HR. Muslim dan Ma’qil bin Yasar R.A., “Ibadah di masa kekacauan seperti hijrah kepada-Ku.”
Sebab Allah tidak tidur, sebagaimana Bupati Agam Benni Warlis teguhkan di Jorong Pasa Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, pada 1 Januari 2026 pagi, sang bocah di sudut lain, jua bagian dari penyintas yang melakukan apa yang bisa dilakukan. Sabar, tawakal, dan berserah.
Pertolongan Allah, itu jua sebaik-baiknya pertolongan. #KuatkanSumatra. (Muzzamil)