Kasatpol PP Balam: Perda Harus Tegak, Martabat Pedagang K5 Dijaga

Senin, 5 Januari 2026 19:52
Satpol PP Balam (Foto Hajim/Helo) HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM --
Pukul 07.30 WIB, Senin (5/1/2025), Kota Bandar Lampung mulai bergerak. Di antara denyut pasar dan lalu lalang warga yang mengejar nafkah, sekelompok personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berdiri bersiap.

Bukan untuk menunjukkan kuasa, melainkan menjalankan peran negara di ruang paling dekat dengan rakyat: jalanan, pasar, dan bahu-bahu kota tempat kehidupan kecil bertumpu.

Sebanyak 18 personel Satpol PP diterjunkan ke kawasan Jalan Pisang dan Jalan Imam Bonjol — dua titik yang selama ini menjadi simpul kemacetan.

Di sana, pedagang kaki lima berjualan di tepi jalan, sebagian besar perempuan, yang sejak pagi menggantungkan harapan dari lapak sederhana. Di ruang inilah, ketertiban dan kebutuhan hidup sering kali berhadap-hadapan.

Sebelum turun ke lapangan, Kepala Satpol PP Kota Bandar Lampung, Ahmad Nurizki Erwandi, mengingatkan satu hal penting: Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2018 harus ditegakkan, tetapi martabat manusia tidak boleh diabaikan.

“Jangan arogan. Jaga marwah institusi. Mereka bukan pelanggar yang harus ditakuti, melainkan warga yang sedang berjuang hidup,” pesan itu menjadi pegangan seluruh personel.

Hamdi, pegawai fungsional Satpol PP Kota Bandar Lampung, memahami betul dilema tersebut. Penertiban, kata dia, bukan sekadar memindahkan lapak atau mengurai kemacetan, melainkan mengelola ruang kota agar adil bagi semua—baik pengguna jalan maupun pedagang kecil yang tak punya banyak pilihan selain berjualan di ruang publik.

Penegakan ketertiban umum memang mencakup banyak hal: pedagang kaki lima, reklame, kebersihan, hingga tata ruang. Namun di balik itu, tersimpan persoalan yang lebih besar—soal kemiskinan perkotaan, keterbatasan ruang usaha, dan belum meratanya akses ekonomi bagi masyarakat kecil.

Satpol PP sadar, tugas pengaturan lalu lintas berada di tangan Dinas Perhubungan dan Kepolisian. Meski demikian, mereka tetap hadir melalui koordinasi lintas instansi, karena kemacetan bukan hanya soal kendaraan, melainkan juga tentang bagaimana kota menyediakan ruang hidup yang layak.

Di jalanan Bandar Lampung pagi itu, negara hadir tidak dengan pentungan, melainkan dengan dialog. Tidak dengan bentakan, tetapi dengan senyum. Sebab ketertiban sejati bukan lahir dari ketakutan, melainkan dari rasa saling memahami.

Dan di situlah ujian sesungguhnya: bagaimana aturan ditegakkan tanpa melukai, dan bagaimana kota ditata tanpa mengorbankan mereka yang hidup di pinggirnya. (Hajim)

Berita Terkini