Catatan Muzzamil
Kontributor Heloindonesia.com
LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Jalan panjang itu akhirnya bermuara. Muhammad Qodari, alumnus SMAN 2 (SMANDA) Bandarlampung angkatan 1992, kini resmi menjadi bagian dari Kabinet Merah Putih. Sebuah capaian yang, jika ditarik jauh ke belakang, bermula dari langkah pertama seorang remaja dengan koper sederhana ke Terminal Rajabasa.
Seusai menamatkan pendidikan di sekolah favoritnya, Qodari muda berangkat seorang diri. Ia menenteng koper, menaiki angkutan umum menuju Terminal Rajabasa. Dari sana, perjalanan berlanjut dengan bus antarkota menuju Terminal Cililitan, Jakarta Timur.
“Saya datang sendiri, naik angkutan sendiri, bawa koper sendiri,” kenangnya suatu waktu—sebuah kalimat sederhana yang menyimpan tekad besar.
Dari Terminal Cililitan, langkahnya tak berhenti. Ia berpindah ke mikrolet menuju Pasar Minggu, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus kecil ke Depok. Detail kecil itu menjadi penanda zaman—dan juga jarak yang telah ia tempuh.
Di kota itulah ia diterima sebagai mahasiswa S1 Psikologi Sosial di Universitas Indonesia—sebuah pintu awal menuju dunia yang kelak membesarkan namanya. “Waktu itu, Terminal Cililitan bahkan belum punya mal,” ujarnya, mengenang masa lalu saat serah terima jabatan Kepala KSP di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Agustus 2025.
Namun sejauh apa pun langkahnya menaklukkan Jakarta, Qodari tak pernah benar-benar pergi dari akarnya. Seperti pepatah lama: sejauh-jauhnya bangau terbang, akhirnya kembali ke rawa. Pada peringatan HUT ke-60 SMANDA, ia pulang ke almamaternya di Jalan Amir Hamzah, Tanjungkarang Pusat—bukan sekadar hadir, tetapi membawa jejak kepedulian.
Bersama rekan seangkatannya, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Saat renovasi Masjid Al Huda di kompleks sekolah, Qodari turut berdonasi hingga ratusan juta rupiah. Ia juga terlibat dalam santunan anak yatim di sejumlah panti asuhan di Bandarlampung, serta rutin berkurban setiap Idul Adha.
Kesuksesan tak membuatnya tercerabut dari asal—justru menguatkan ikatan itu. Di Jakarta, Qodari terus tumbuh seiring derasnya arus perubahan pascareformasi.
Tahun 1999, ia bergabung sebagai peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), sebuah lembaga yang kala itu dikenal aktif mendorong isu demokratisasi dan hak asasi manusia.
Pendidikan terus ia kejar. Gelar magister diraih di University of Essex, Inggris, dengan fokus pada perilaku politik. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai penulis produktif, kolumnis, sekaligus pengamat politik yang suaranya kerap menghiasi media massa.
Kariernya berkembang cepat. Ia pernah menjadi peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), lalu menjabat Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI). Dunia survei politik kemudian menjadi ladang yang ia tekuni serius.
Pada 2006, ia mendirikan Indo Barometer—lembaga survei independen yang memotret dinamika sosial-politik Indonesia. Dari sinilah namanya semakin dikenal luas. Wajahnya akrab di layar televisi, komentarnya ditunggu publik, dan analisisnya menjadi rujukan.
Qodari juga dikenal sebagai penulis. Salah satu karyanya, Kabar-kabar Kebencian: Media Massa dan Prasangka Agama, menjadi bagian dari kontribusinya dalam diskursus media dan demokrasi. Ia turut menulis dalam berbagai buku penting tentang politik Indonesia pascareformasi.
Gaya bicaranya yang lugas—khas Sumatera—menjadi ciri yang mudah dikenali: tegas, langsung, dan bernas. Tak heran jika ia kerap dijuluki mulai dari “pakar” hingga “tukang survei”—julukan yang ia sikapi dengan santai.
Pada 2016, ia kembali mengejutkan publik.
Qodari meraih gelar doktor Ilmu Politik dari Universitas Gadjah Mada dengan predikat sangat memuaskan. Disertasinya tentang split-ticket voting dalam Pemilu 2014 mengukuhkan dirinya sebagai salah satu doktor pertama di Indonesia yang fokus pada studi survei pemilu.
PANGGUNG KEKUASAAN
Namanya kembali menjadi sorotan saat menggagas wacana Jokowi–Prabowo 2024 (Jokpro2024). Gagasan itu sempat mengguncang ruang publik dan memicu perdebatan luas, terutama setelah ia tampil penuh semangat di program Mata Najwa.
Kini, perjalanan panjang itu mencapai babak baru. Pada Senin, 27 April 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Qodari sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah di Istana Negara.
Ini bukan kali pertama ia dipercaya. Sebelumnya, Qodari telah dilantik sebagai Wakil Kepala Kantor Staf Presiden pada 2024, lalu menjadi Kepala KSP pada 2025, sebelum akhirnya mengemban posisi barunya hari ini.
Pelantikan tersebut juga diikuti sejumlah pejabat lain, menandai dinamika lanjutan Kabinet Merah Putih hingga akhir masa jabatan 2029.
Dari Terminal Rajabasa hingga Istana Negara, kisah Qodari adalah tentang keberanian melangkah—tentang seorang anak daerah yang tak gentar menantang ibu kota, dan tak lupa jalan pulang.
Barangkali benar semboyan yang ia pegang: no guts, no glory.
Dan hari ini, kisah itu belum selesai—ia baru saja membuka bab berikutnya.
Selamat bekerja, Bung Qodari.