LAMPUNG SELATAN, HELOINDONESIA.COM -- Jumat subuh (22/2/2026), langit di Desa Rangai Tritunggal, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, masih pucat ketika sebuah pemandangan memilukan menggetarkan hati warga. Di pinggir jalan samping Masjid Babusallam, terbaring jasad seorang anak perempuan tanpa identitas.
Tubuh kecil itu dibungkus kain putih, ditutup kardus yang diikat rapi seolah seseorang terakhir kali berusaha menjaga kehormatannya sebelum pergi meninggalkan dunia. Tak ada tangis keluarga. Tak ada pelayat. Hanya sunyi subuh dan tatapan cemas warga yang mulai berdatangan.
Peristiwa itu pertama kali diketahui sekitar pukul 05.30 WIB oleh dua warga yang melintas, Sarman Butar-Butar (66) dan Siti Aisah (40). Keduanya curiga melihat kardus terikat di tepi jalan dekat area masjid. Perasaan tidak enak membuat mereka mendekat, lalu segera melaporkan temuan tersebut kepada aparatur desa.
Saat perangkat desa tiba dan membuka sedikit kain penutup, terlihat kaki manusia dari dalam balutan putih itu. Suasana mendadak berubah tegang. Warga yang semula penasaran perlahan diliputi rasa iba dan takut.
Tak lama kemudian, personel Polsek Katibung bersama Unit Lantas Tarahan datang mengamankan lokasi. Garis pengamanan dipasang agar proses pemeriksaan berjalan lancar di tengah kerumunan warga yang terus berdatangan.
Ketika kain dan kardus dibuka sepenuhnya, petugas menemukan jasad seorang anak perempuan berusia sekitar 11 hingga 13 tahun. Di samping tubuh mungil itu terdapat plastik berisi obat-obatan dan sepucuk surat wasiat yang membuat banyak orang tak kuasa menahan haru.
Dalam surat tersebut, orangtua korban meminta maaf karena tidak mampu memakamkan anaknya secara layak. Mereka menulis bahwa sang anak meninggal akibat penyakit diabetes. Keluarga itu mengaku terlantar, baru tiga hari berada di Lampung, tidak memiliki tempat tinggal, bahkan merasa telah ditipu orang.
Mereka hanya menitipkan satu permohonan sederhana: agar jasad anak mereka diurus dan dimakamkan dengan layak. Selembar surat itu seperti mengetuk nurani warga Katibung. Di tengah keterbatasan dan ketidakjelasan identitas korban, rasa kemanusiaan justru tumbuh begitu besar.
Warga bergotong royong membantu proses pengurusan jenazah. Ada yang memandikan, menyalatkan, hingga mengantar ke pemakaman. Anak perempuan tanpa nama itu akhirnya tidak pergi sendirian. Ia dipeluk oleh kepedulian orang-orang yang bahkan tak pernah mengenalnya semasa hidup.
Kapolsek Katibung IPTU Dita Hidayatullah, S.H., M.H mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan warga.
“Begitu menerima informasi dari masyarakat, personel segera menuju lokasi untuk mengamankan TKP, melakukan pemeriksaan awal, dan memastikan proses evakuasi berjalan aman,” ujarnya.
Menurutnya, pengamanan lokasi dilakukan untuk menjaga seluruh barang bukti tetap utuh demi kepentingan penyelidikan. “Saat ini kami masih melakukan penyelidikan, mengumpulkan keterangan para saksi, serta berkoordinasi dengan INAFIS dan pihak rumah sakit untuk proses identifikasi lebih lanjut,” katanya.
Jenazah kemudian dievakuasi menggunakan ambulans Puskesmas Rawat Inap Katibung menuju RS Bhayangkara di Kota Bandarlampung untuk pemeriksaan dan identifikasi lebih lanjut.
Hingga kini, polisi masih mendalami identitas korban serta keberadaan orang tua yang meninggalkan surat tersebut. Polisi juga mengimbau masyarakat tidak berspekulasi sambil menunggu hasil penyelidikan resmi.
Namun di balik semua proses hukum itu, ada satu kenyataan yang membekas di hati warga: seorang anak kecil mengakhiri hidupnya jauh dari rumah, dibungkus kain putih di tepi jalan, hanya ditemani surat penuh permintaan maaf dari orangtuanya yang tak sanggup melawan kerasnya hidup. (Prapthy)
ISI SURAT WASIAT
Jenazah ditemukan bersama selembar surat dari orang tuanya. Dalam surat itu tertulis permintaan tolong agar jasad diurus dan dimakamkan secara layak karena almarhumah meninggal akibat penyakit diabetes. Orang tua korban mengaku terlantar dan tidak memiliki tempat tinggal karena baru 3 hari di Lampung dan merasa ditipu orang.