Ryamizard Tutup Usia, Kisah Lengkap Jenderal Medan Tempur Menjaga Api Kebangsaan

Minggu, 31 Mei 2026 18:47
Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu dan saat jenazahnya tiba di rumah duka (AI/Helo) HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Kabar duka menyelimuti bangsa Indonesia. Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu mengembuskan napas terakhir di ruang Cardiac Intensive Care Unit (CICU) RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Minggu (31/5/2026) pukul 14.03 WIB.

Putra terbaik bangsa yang memiliki akar keluarga dari Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung, itu berpulang setelah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk negara. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang prajurit yang dikenal tegas dan berani. 

Ryamizard lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 21 April 1950. Darah militer mengalir kuat dalam dirinya. Sang ayah, Letjen TNI Musannif Ryacudu, merupakan perwira TNI yang disegani pada masanya.

Dari keluarga itulah tumbuh semangat pengabdian yang kelak mengantarkannya menjadi salah satu jenderal paling berpengaruh di Indonesia. Ia tumbuh dari medan tugas, dari berbagai operasi dan penugasan yang menempa karakter kepemimpinannya.

Selepas menempuh pendidikan di Akademi Militer Nasional dan lulus pada 1974 dari kecabangan Infanteri, Ryamizard mengawali karier panjangnya sebagai prajurit lapangan. Jalan hidup yang dipilihnya bukanlah jalan yang mudah.

Kariernya terus menanjak. Ia dipercaya memegang berbagai jabatan strategis, mulai dari Panglima Kodam Jaya, Panglima Kostrad, hingga Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) periode 2002-2005.

Dalam setiap posisi yang diemban, Ryamizard dikenal sebagai sosok yang lugas dan berani menyampaikan pandangan, terutama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Baginya, ancaman terhadap bangsa tidak selalu datang dari luar negeri.

Perpecahan, konflik sosial, serta lunturnya rasa cinta tanah air merupakan bahaya yang tak kalah besar. Karena itulah, sepanjang kariernya ia selalu menggaungkan pentingnya persatuan sebagai fondasi utama bangsa.

Pengabdian Ryamizard berlanjut ketika Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia pada 2014. Selama lima tahun menjabat, ia mendorong program Bela Negara sebagai gerakan nasional untuk menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.

Menurutnya, menjaga Indonesia bukan hanya tugas tentara yang memanggul senjata, melainkan tanggung jawab seluruh rakyat sesuai peran dan profesinya masing-masing. Gagasan itulah yang terus ia suarakan hingga masa purnatugas.

Namun di balik ketegasan seorang jenderal, Ryamizard juga menyimpan kisah-kisah getir yang menempa kehidupannya. Pada 1987, ia pernah selamat dari kecelakaan helikopter saat menjalankan tugas militer.

Peristiwa itu merenggut sejumlah nyawa rekan seperjuangannya. Ryamizard selamat meski mengalami cedera serius. Banyak orang meyakini, pengalaman berada di ambang maut itu semakin menguatkan keteguhan dan keberaniannya dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Cobaan yang lebih berat datang ketika putranya, Mayor Infanteri Pierre Tendean Ryacudu, gugur saat menjalankan tugas negara. Kehilangan darah daging sendiri menjadi luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Namun sebagai seorang ayah sekaligus prajurit, Ryamizard memilih menanggung duka itu dengan ketegaran. Baginya, pengorbanan sang putra adalah bagian dari pengabdian keluarga kepada bangsa.

Sepanjang hidupnya, Ryamizard dikenal sebagai sosok yang keras terhadap segala bentuk ancaman yang dianggap dapat memecah belah Indonesia. Nasionalisme bukan sekadar slogan baginya, melainkan prinsip hidup yang dipegang teguh hingga akhir hayat.

Ia juga kerap mengingatkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan persenjataan atau besarnya anggaran pertahanan. Yang lebih penting adalah cinta rakyat kepada tanah airnya, semangat gotong royong, dan rasa persaudaraan yang mampu menjaga bangsa tetap berdiri kokoh di tengah berbagai tantangan zaman.

Kini, sang jenderal telah pergi.
Seragam dan pangkat yang pernah melekat telah ditanggalkan oleh waktu. Namun jejak pengabdian, keteguhan prinsip, dan gagasan tentang persatuan akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Ryamizard Ryacudu meninggalkan warisan yang jauh lebih besar daripada jabatan yang pernah diembannya. Ia meninggalkan pesan bahwa Indonesia hanya akan tetap tegak apabila anak-anak bangsanya terus menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Selamat jalan, Jenderal.
Di medan kehidupan yang panjang, engkau telah menuntaskan tugasmu. Dan seperti banyak prajurit yang mengabdikan hidupnya bagi negeri, namamu akan tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. (HBM) 


Berita Terkini