LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ---- Camat Enggal Supriyadi bersama Lurah Gunungsari, tim kesehatan dari Puskesmas Kebun Jahe, dua Ketua RT, serta pendamping PSM Kelurahan Gunungsari turun langsung ke lapangan untuk menemui Ibu Tasmi, warga RT 11, Lingkungan 1, Kelurahan Gunungsari.
Kunjungan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas beredarnya video yang sebelumnya viral di masyarakat dan menyebutkan bahwa Ibu Tasmi tidak mendapatkan bantuan pemerintah.
" Setelah dilakukan pengecekan secara langsung, informasi tersebut dinyatakan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Berdasarkan hasil verifikasi, Ibu Tasmi tercatat telah menerima sejumlah bantuan dari pemerintah," terang Camat Enggal Supriyadi,Sabtu.( 22/8/2026).
Camat Enggal Supriyadi menjelaskan, bantuan yang telah diterima Ibu Tasmi di antaranya beras sebanyak 5 kilogram dari Pemerintah Kota Bandarlampung, serta bantuan dari pemerintah pusat melalui program BPNT dan Bapenas.
Ibu Tasmi juga tercatat memiliki kartu KIS.
Saat dikonfirmasi mengenai pernyataannya dalam video sebelumnya,
Menurut Camat Enggal Supriyadi, karena faktor usia yang sudah lanjut membuat dirinya terkadang lupa atau dalam bahasa sehari-hari disebut lali. Kondisi tersebut membuatnya tidak selalu mengingat bantuan yang pernah diterimanya.
Selain melakukan verifikasi bantuan sosial, rombongan juga membawa tim kesehatan dari Puskesmas Kebun Jahe untuk memeriksa kondisi kesehatan Ibu Tasmi.
“Berdasarkan pemeriksaan awal, kondisi kesehatan Ibu Tasmi dinyatakan baik. Tim kesehatan tidak menemukan adanya kondisi yang mengkhawatirkan dan secara umum keadaan beliau dalam kondisi sehat,” ujar Supriyadi.
“Alhamdulillah, hari ini kita sudah turun langsung, melihat kondisi Ibu Tasmi, melakukan pemeriksaan kesehatan, sekaligus memastikan bantuan yang telah diterima,” kata Supriyadi.
Dengan adanya pengecekan langsung tersebut, informasi yang menyebutkan Ibu Tasmi tidak mendapatkan bantuan pemerintah perlu diluruskan. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah menerima sejumlah bantuan dari pemerintah.
Sementara itu, berdasarkan keterangan keluarga, Ibu Tasmi sehari-hari bekerja sebagai tukang kerok, bukan tukang urut. Ia membuka jasa kerok di bawah Pasar Ramayana dengan pelanggan yang mayoritas merupakan ibu-ibu yang berjualan di sekitar pasar.
“Jasa kerok tersebut biasanya dimanfaatkan pelanggan untuk membantu mengatasi keluhan masuk angin,” jelas Supriyadi.
Tarif jasa kerok yang dikenakan Ibu Tasmi berkisar Rp20.000 hingga Rp35.000 sekali layanan. Aktivitas tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan yang masih dijalankannya dalam keseharian.
Camat Enggal berharap pengecekan langsung tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi Ibu Tasmi sekaligus meluruskan informasi yang sebelumnya beredar di masyarakat.( Hajim).