Sentra Telur, Pemasok Daging, Kok Masih Kurang Protein? Ini PR Lampung

Kamis, 3 September 2026 11:51
Ilustrasi HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Ada daging, ada telur, bahkan produksinya surplus. Namun, konsumsi protein hewani masyarakat Lampung justru masih rendah. Paradoks inilah yang kini menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Provinsi Lampung.

Sebagai salah satu lumbung dan sentra produksi ternak utama, Lampung semestinya tidak kesulitan memenuhi kebutuhan pangan hewani masyarakatnya. Kenyataannya, konsumsi protein hewani masih berada di bawah rata-rata nasional maupun regional Sumatera.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi protein hewani—meliputi daging, telur, dan susu—masyarakat Lampung tercatat hanya 15,62 gram per kapita per hari.

Angka tersebut menempatkan Lampung di posisi kelima terendah secara nasional, sekaligus masih di bawah rata-rata konsumsi nasional yang mencapai 17,42 gram per kapita per hari.

Persoalan itu semakin terlihat dari sisi pengeluaran. Rata-rata pengeluaran penduduk Lampung untuk daging, telur, dan susu hanya Rp65.184 per kapita per bulan. Angka ini menjadi yang terendah kedua di Sumatera setelah Aceh dan terpaut jauh dari Kepulauan Riau yang mencapai Rp125.002 per kapita per bulan.

Ironisnya, persoalan tersebut bukan karena Lampung kekurangan produksi.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Lili Mawarti, mengatakan Lampung justru mengalami surplus komoditas pangan hewani. Masalahnya, surplus produksi belum otomatis berubah menjadi konsumsi yang lebih tinggi di tingkat rumah tangga.

“Provinsi Lampung sebenarnya mengalami surplus yang sangat aman untuk komoditas pangan hewani. Namun, ada disparitas antara ketersediaan dan tingkat konsumsi masyarakat,” ujar Lili Mawarti di Bandarlampung.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa surplus produksi tidak serta-merta menjamin akses pangan bergizi. Daya beli, pola konsumsi, hingga pengetahuan masyarakat tentang pentingnya protein hewani ikut menentukan.

Berdasarkan Prognosis Supply-Demand 2026 Disnakkeswan Lampung, neraca sejumlah komoditas peternakan bahkan mencatat surplus cukup besar.

Daging sapi/kerbau surplus 1.213,8 ton dengan ketahanan stok 14 hari. Daging ayam ras surplus 22.996,1 ton dengan ketahanan stok 68 hari. Sementara telur ayam ras mencatat surplus paling besar, mencapai 46.863,7 ton, dengan ketahanan cadangan hingga 138 hari.

Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata “ada atau tidak ada” pangan hewani, melainkan “terjangkau atau tidak, dikonsumsi atau tidak, dan dipahami penting atau tidak.”

Lili menyebut rendahnya konsumsi protein hewani dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor, mulai dari pendapatan, preferensi konsumen, kebiasaan dan tradisi keluarga, hingga literasi gizi.

Namun, pendapatan bukan satu-satunya jawaban. “Daerah seperti Aceh dan Bengkulu yang PDRB per kapitanya di bawah Lampung tercatat memiliki tingkat konsumsi protein hewani yang lebih tinggi,” katanya.

Artinya, persoalan konsumsi tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan produksi. Ada pekerjaan lain yang tak kalah penting: meningkatkan daya beli, mengubah pola konsumsi, memperkuat edukasi gizi, serta memastikan pangan bergizi sampai ke meja makan keluarga.

Dari Hulu ke Hilir

Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung melalui Disnakkeswan menyiapkan strategi dari dua sisi, yakni pasokan (supply) dan permintaan (demand).

Dari sisi pasokan, pemerintah mendorong penyaluran bantuan ternak produktif, seperti unggas dan kambing perah, langsung kepada masyarakat perdesaan.

Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membuka akses keluarga terhadap daging, telur, dan susu secara mandiri.

Sementara dari sisi permintaan, intervensi diarahkan pada peningkatan kemampuan ekonomi dan perubahan perilaku konsumsi.

Programnya antara lain fasilitasi akses permodalan melalui kemitraan usaha, bimbingan teknis pengolahan hasil ternak menjadi produk bernilai tambah, serta edukasi gizi secara masif.

Salah satu kampanye yang didorong adalah Gerakan Konsumsi Telur Dua Butir per Hari. Pemerintah juga akan mengintegrasikan penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Program Keluarga Harapan (PKH), sekaligus menjaga harga pangan hewani tetap terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Upaya itu dilakukan melalui penetrasi pasar secara berkala serta program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT).
Lili mengatakan, seluruh program tersebut diarahkan agar surplus produksi peternakan Lampung tidak berhenti sebagai komoditas yang dikirim keluar daerah.

“Melalui integrasi program hulu ke hilir, kita ingin memastikan komoditas peternakan yang berlimpah ini tidak hanya mengisi pasar luar daerah, tetapi menjadi sumber gizi utama bagi anak-anak dan keluarga di Lampung demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting,” pungkasnya.

Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan lumbung pangan bukan hanya seberapa banyak yang diproduksi dan dijual, tetapi juga seberapa banyak yang masuk ke piring dan memenuhi kebutuhan gizi rakyatnya. (Pemerintah Provinsi Lampung)

Berita Terkini