BANDUNG, HELOINDONESIA.COM - Pesantren menghadapi tantangan berat belakangan ini karena beberapa faktor, antara lain orientasi pragmatis para pendaftar dan penurunan kepercayaan sebagian anggota masyarakat terhadap lembaga pendidikan keagamaan ini, seperti disampaikan Pemimpin Pesantren Tahfidz Zawiyah Al Mahawib, Bandung, Iis Sofiah Robiah Adawiyah M.Pd.
“Ada beberapa kejadian yang sebetulnya tidak mewakili pesantren pada umumnya. Tapi karena terjadi di pesantren, sangat mudah jadi sorotan. Dan karena itu sangat mudah pula jadi perhatian, mudah pula orang menilai,” kata Iis, seusai acara Bahas Buku Hidup Sehari Penuh, karya Kafil Yamin, di aula Pesantren Tahfidz Zawiyah Al Mawahib, pada Sabtu pekan lalu (5/9/2026).
“Sebetulnya kasus pelecehan seksual dan hukuman fisik untuk menegakkan kedisiplinan dan aturan adalah peristiwa yang umum. Tapi bila terjadi di pesantren, sorotan media dan publik lebih cepat dan lebih kuat,” kata Ibu tiga anak ini kepada Heloindonesia.com
“Ibaratnya, kain putih mudah terlihat kotor kena debu atau bercak noda. Tapi kain hitam atau warna gelap lainnya tak terlihat kotor. Padahal tingkat kekotorannya sama,” ujarnya.
Dampaknya cukup terasa. Jumlah pendaftar ke sekolah-pesantren menurun, termasuk pedaftar ke Al Mawahib. “Beberapa yang sudah daftar tidak melanjutkan proses pendaftarannya. Meski mereka tak mengatakan alasannya secara terbuka, tapi memang ada kekhawatiran para orangtua tentang perlakuan terhadap anak-anak mereka di pesantren,” ucap jebolan Fakultas Tarbiyah UIN SGD Bandung ini.
Baca juga: Global Ethics Forum 2026 Resmi Diluncurkan, Forum Dialog Lintas Sektor akan Digelar di Bali
Bunda Iis, demikian anak-anak didiknya memanggilnya, menjelaskan bahwa Madrasah Aliyah Bina Insan Mulia dan Pesantren Tahfidz Zawiyah Al Mawahib yang dipimpinnnya jauh dari praktik kekerasan dan pelecehan seksual. Hubungan antara siswa-santri dan para guru sudah terjalin sebagai hubungan anak dan orangtua. “Dan antar siswa-santri sudah terjalin hubungan sebagai keluarga besar,” katanya.
Madrasah Aliyah Bina Insan Mulia dan Pesantren Al Mawahib juga memupuk cinta kepada lingkungan alam. “Kami menyadarkan para siswa-santri bahwa dengan bernafas saja kita sudah harus berterima kasih kepada Tuhan. Kemudian rasakan air yang membasuh sekujur badan kita, yang kita minum. Bumi yang kita pijak. Buah dan sayuran yang kita makan,” ujar mantan Kepala MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 1 Bandung ini.
“Kaliankah yang menumbuhkannya atau kami?” ucapnya mengutip Q.S. Al-Waqi’ah ayat 64.
“Dengan penghayatan terhadap hidup dan kesadaran seperti ini. Akhlak kepada alam dan sesama makhluk Allah terbangun kokoh. Tak mungkin ada kekerasan dan pelecehan. Yang adalah cinta, kesantunan dan keadaban,” kata Iis.
Tentang orientasi para siswa ke pendidikan yang lebih mengedepankan keterampilan (skill), menurut aktifis organisasi yang kini menjabat sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung ini adalah sesuatu yang wajar. Justru untuk memenuhi tuntutan ini lah MA Bina Insan Mulia dan Pesantren-Madrasah Tahfidz Zawiyah Al Mawahib memasukkan pelajaran public speaking, Bahasa Korea, Teknologi Informasi dan penataan lingkungan setelah keterampilan dasar Islam seperti qira’ah al-Qur’an, Sejarah Islam, dan Hadits.
Namun, Dewan Pakar Muslimat NU Kabupaten Bandung ini yakin bahwa penurunan jumlah peminat ke madrasah-pesantren sekarang ini bersifat sementara. “Kalau pesantren terus membangun diri dan istiqamah menjaga tradisi dan ilmu-ilmu keagamaan, penghargaan masyarakat akan terbangun kembali,” ujarnya.
“Mungkin perlu juga pesantren mengalami fase seperti ini untuk introspeksi,” ucapnya mengakhiri percakapan. (Kafyama)