Keselamatan Siswa Di Tengah Paparan Abu Vulkanik, PJJ Sebagai Solusi Sementara Agar Pembelajaran Tetap Berjalan

Kamis, 10 September 2026 17:31
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bandarlampung Kusrina.( Hajim). HELO LAMPUNG

LAMPUNG,  HELOINDONESIA.COM ---- Sejumlah sekolah di Kota Bandarlampung menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama empat hari menyusul paparan abu vulkanik di sejumlah wilayah. Kebijakan tersebut diambil untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu.

Sesuai arahan Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana, sekolah tingkat TK, SDN, dan SMPN diliburkan selama empat hari. Selama masa tersebut, kegiatan belajar tetap berlangsung melalui pembelajaran jarak jauh.Paparan abu vulkanik dikhawatirkan menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan, seperti mata pedih, batuk, hingga sesak napas.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bandarlampung Kusrina mengatakan penerapan PJJ merupakan tindak lanjut atas imbauan Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kota Bandarlampung.

“Kalau untuk pembelajarannya sendiri memang tidak maksimal. Namanya juga pembelajaran jarak jauh, kita tidak bisa mengawasi anak-anak secara langsung,” ujar Kusrina saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (10/9/2026).

Menurut Kusrina, satu kelas biasanya terdiri atas 28 hingga 30 siswa. Dalam pembelajaran tatap muka, guru dapat mengawasi aktivitas siswa secara langsung. Namun, kondisi berbeda ketika pembelajaran dilakukan secara daring.

" Pengawasan terhadap siswa menjadi lebih terbatas. Selain itu, persoalan jaringan internet juga berpotensi menghambat proses belajar mengajar.Meski begitu, Kusrina memastikan kegiatan pembelajaran tetap berjalan," terangnya.

Guru masih dapat memberikan tugas hingga melaksanakan asesmen secara daring.
Hasil pembelajaran siswa nantinya dapat diperiksa dan dievaluasi setelah kegiatan belajar kembali dilaksanakan secara tatap muka.

Abu Vulkanik Lebih Tebal di Wilayah Pesisir

Kusrina mengatakan persebaran abu vulkanik di Kota Bandarlampung tidak merata. Sejumlah wilayah, terutama kawasan pesisir, mengalami paparan abu yang lebih tebal.Kondisi tersebut dipengaruhi arah angin yang membawa abu vulkanik ke wilayah tertentu.

“Memang tidak merata karena tergantung arah mata angin. Secara umum hampir merata, tetapi di beberapa wilayah, terutama daerah pantai, abunya lebih tebal,” jelasnya.

"Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan abu vulkanik selama kegiatan belajar berlangsung," tuturnya.

Siswa Diminta Gunakan Masker N95

Selain menerapkan PJJ, siswa juga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai standar untuk mengurangi risiko menghirup abu vulkanik. Salah satu yang direkomendasikan adalah masker N95 karena mampu menyaring partikel berukuran kecil.

" Sekolah juga diminta memperhatikan cara membersihkan abu vulkanik yang menempel di lingkungan sekolah.Abu tidak disarankan langsung disapu dalam kondisi kering. Cara tersebut justru dapat membuat partikel abu kembali beterbangan sehingga berisiko terhirup," jelas Kusrina.

“Kalau disapu, debunya langsung beterbangan. Kita mungkin tidak terasa, tetapi sebenarnya itu kurang bagus. Lebih baik dibersihkan menggunakan kain atau lap basah,” kata Kusrina.

" Penerapan PJJ dan langkah pencegahan tersebut bersifat sementara. Kebijakan diambil agar kegiatan pendidikan tetap berjalan dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan siswa serta tenaga pendidik selama paparan abu vulkanik masih terjadi," pungkasnya.( Hajim).

Berita Terkini