Penulis Gufron Azis Fuandi
Ustadz
FRASA "Islam ala Rasulullah" artinya adalah Islam yang sesuai dengan ajaran, tuntunan, dan contoh nyata dari Nabi Muhammad SAW. Istilah ini adalah esensi utama dari agama Islam itu sendiri. Dalam bahasa agama, hal ini biasa disebut sebagai Islam yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah (Hadis).
Berikut adalah beberapa aspek penting yang menggambarkan "Islam ala Rasulullah":
(1). Akidah yang Murni. Mentauhidkan Allah SWT secara murni dan menjauhi segala bentuk syirik (menyekutukan Allah).
(2). Ibadah yang Sesuai Syariat.
Melaksanakan salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya tepat seperti yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, tanpa ditambah-tambah atau dikurangi.
(3). Akhlak yang Mulia (akhlakul karimah).
Menampilkan perilaku jujur, adil, amanah, pemaaf, menyayangi sesama, dan lemah lembut, bahkan kepada orang yang memusuhi sekalipun.
(4). Islam yang Rahmatan lil 'Alamin.
Menjadi rahmat bagi seluruh alam. Rasulullah mengajarkan perdamaian, keadilan sosial, perlindungan terhadap HAM, hak-hak wanita, anak-anak, bahkan kelestarian lingkungan dan hewan.
(5). Keseimbangan (Wassatiyah).
Tidak ekstrem berlebihan dalam beragama hingga menyiksa diri, dan tidak juga meremehkan hukum-hukum agama. Tidak berlebihan dan tidak berkekurangan.
Jadi frasa "Islam ala Rasulullah" pada akhirnya memberikan gambaran dan contoh bagaimana Islam seharusnya difahami, dipraktekkan dan diperjuangan.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Quran bahwa Rasulullah adalah satu-satunya teladan terbaik bagi umat Islam: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab: 21).
Karenanya, "Islam ala Rasulullah" adalah standar keislaman yang wajib diikuti oleh setiap muslim, bukan sekadar sebuah pilihan.
Belakangan ini ramai dibicarakan tentang sebuah buku berjudul "Islam ala Prabowo". Sebuah buku yang diinisiasi oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar. Buku ini diluncurkan dalam acara formal dengan dukungan MUI dan Baznas RI.
Judul buku yang viral ini, akan memancing orang untuk memahami tentang bagaimana gaya, metode, atau cara Presiden Prabowo Subianto dalam berislam atau tepatnya dalam menerapkan nilai-nilai Islam di dalam kehidupan pribadi, karier militer, hingga kepemimpinannya sebagai kepala negara.
Buku ini diterbitkan, tentu, bukan hanya sekedar untuk menambah wawasan pembaca tentang keislaman Prabowo tetapi boleh jadi agar menjadi contoh bagaimana cara Presiden Prabowo dalam menerapkan Islam.
Mengingat ditulisnya sebuah biografi tujuan utamanya adalah agar bisa menginspirasi, memunculkan keteladanan serta memotivasi pembaca untuk mengambil pelajaran hidup dan meniru sang tokoh dalam memahami dan mempraktekkan nilai-nilai yang dianut nya, dalam hal ini nilai ajaran Islam.
Di luar konteks sastra, biografi seringkali digunakan untuk instrumen personal branding atau komunikasi politik. Terutama untuk biografi yang bersifat pesanan (authorized biography) oleh tokoh politik, pejabat, atau figur publik. Tetapi saya percaya, buku ini bukan pesanan dari Presiden, mungkin dari para pengagumnya.
Buku ini mengingatkan saya dengan sebuah ungkapan Arab yang merupakan atsar dari Umar bin Khattab ra:
(النَّاسُ عَلَى دِينِ مُلُوكِهِمْ).
“An-nasu ‘ala dini mulukihim"
"Rakyat akan mengikuti agama rajanya"
Melihat atsar ini, buku di atas bisa difahami maksudnya.
Meskipun demikian ada juga biografi yang ditulis bukan untuk ditiru perjalanan hidup tokohnya tetapi justru agar tidak ditiru. Seperti biografi "Kusni Kasdut" (1979) yang ditulis oleh Parakitri T Simbolon.
Biografi jenis ini disebut biografi reflektif atau biografi edikutif-kritis. Karena jenis biografi ini ditulis tentang perjalan hidup seorang tokoh sejak dari kisah perjuangannya, penyimpangannya, penyesalannya hingga akhirnya yang buruk. Seperti dalam kisahnya Kusni Kasdut diatas.
Dalam Bahasa Indonesia, kata "ala" (betasal dari bahasa Arab) berarti menurut, cara, seperti atau gaya. Misalnya dalam frasa, berjalan ala model, maka berarti cara berjalan atau bergaya seperti seorang model.
Seorang ustadz pernah menjelaskan hadits riwayat Imam Bukhari tentang, Shollu kama ra-aitumuni usholli" (صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي), "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat."
Katanya, melihat hadits ini janganlah kita hanya shalat saja yang ala Rasulullah Saw tetapi juga dalam berhaji, bersedekah, memimpin, berkeluarga dan lainnya haruslah ala Rasulullah. Dengan kata lain, dalam berislam kita harus ala Rasulullah Saw, harus mencontoh apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Alias berislam ala Rasulullah Saw.
Wallahu a'lam bi shawab.
(Gaf).