Memasuki Usia Pangkur, Saatnya Memperbanyak Kontemplasi

Jumat, 11 September 2026 10:42
GAF HELO LAMPUNG

Penulis Gufron Azis Fuandi
Ustadz

SECARA bahasa, kata pangkur berasal dari kata mungkur yang berarti mundur, pergi, atau menjauhkan diri. Dalam kronologi perjalanan hidup manusia (sangkan paraning dumadi), fase ini berada di tiga tahapan terakhir sebelum kematian yakni:

Pangkur (usia tua), masa untuk kontemplasi, dan membelakangi nafsu dunia. Orientasinya mendekatkan diri pada Allah sebelum berpisahnya nyawa (ruh) dengan raga. Karena ini menjadi masa persiapan untuk fase berikutnya, megatruh.

Hal ini selaras dengan hadits nabi Saw: "Umur umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali di antara mereka yang melewati usia tersebut." (Hr. Tarmidzi dan Ibnu Majah)

Dalam mocopat perjalanan hidup, tembang pangkur ini berada pada siklus umur 60 tahun. Karenanya angka 60 dalam bahasa Jawa disebut sewidak, yang memiliki kerata basa (singkatan filosofis) sejatine wis wayahe tindak (sejatinya sudah waktunya pergi/menghadap Yang Maha Kuasa).

Tembang Pangkur ini ditulis oleh Sunan Derajat, salah satu dari Walisongo sebagai pengingat bagi siapa saja yang sudah mulai masuk umur 60 tahun.

Tembang Pangkur adalah tembang macapat Jawa yang berisi nasihat, ajaran moral, dan penggambaran manusia yang semestinya mulai meninggalkan hawa nafsu duniawi.

Petakilan atau banyak tingkah, pamer dan usil dimasa tua ini sungguh tidak tepat. Kalau pun masih punya energi lebih sebaiknya digunakan dan diorientasikan untuk menambah sangu, bekal menghadap-Nya.

Rasulullah bersabda: "Allah telah menutup alasan bagi seseorang yang telah Dia akhirkan ajalnya hingga mencapai usia 60 tahun." (HR. Bukhari No. 6419)

Dalam kitab Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan makna mendalam dari hadits ini. Makna "Allah menutup uzur" adalah orang tersebut tidak bisa lagi berdalih di hadapan Allah kelak dengan berkata, "Seandainya usiaku dipanjangkan, aku pasti akan beramal salat, bertobat, atau memakai jilbab..."

Usia 60 tahun sudah lebih dari cukup sebagai kesempatan untuk belajar dan berbenah. Menjadi pengingat untuk meredam angkara murka dan hawa nafsu negatif yang biasa bergejolak di masa muda.

Kulit yang mulai kendur, pandangan mata kabur dan uban mulai bertabur adalah pengingat agar meniti jalan yang benar. Pepatah Cina mengatakan:

天堂有路你不走,地獄無門自投來
(Tiān táng yǒu lù nǐ bù zǒu, dì yù wú mén zì tóu lái)  
Artinya: "Ada jalan menuju surga tetapi kamu tidak mau lewat, tidak ada pintu menuju neraka tetapi kamu malah menerobos masuk."

Di grup WA alumni sekolah dan kuliah sudah mulai sering ada kabar lelayon, telah meninggal teman kita...
Setelah pangkur, fase selanjutnya memang megatruh. Berpisahnya (pegat) ruh dari badan.

Kronologi sangkan paran ing dumadi diakhiri dengan tembang Pucung yang ditulis oleh Sunan Giri. Ini fase akhir ketika jasad manusia dibungkus kain kafan (dipoci/dipocong) dan kembali ke tanah.

Sebelas (11) tembang mocopat dari yang pertama "Maskumambang"sampai "Pucung" yang ditulis oleh para Walisongo merupakan tafsir kultural atas ayat ayat Al-Quran tentang perjalan hidup manusia agar lebih mudah difahami secara kekinian (pada waktu itu) dan kedisinian. Tembang tembang ini terinspirasi dari ayat ayat Al-Quran berikut: "Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah..." (Ar-Rum: 54).

"...kemudian dibiarkannya kamu sampai membesar (anak-anak)..."
(Ghafir: 67).

...kemudian setelah lemah itu Dia menjadikan (kamu) kuat..." (Ar-Rum: 54).
"...apabila dia telah dewasa dan usianya sampai forty years (40 tahun) ia berdoa: 'Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu...'"
(Al-Ahqaf: 15).

"...kemudian setelah kuat itu Dia menjadikan (kamu) lemah kembali dan beruban..." (Ar-Rum: 54)

"...dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling tua (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang tadinya telah diketahuinya..."
(Al-Hajj: 5).

اللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمُورَنَا فِي طَاعَتِكَ وَطَاعَةِ رَسُولِكَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ
Allahumma thowwil 'umuuronaa fii thoo'atika wa thoo'ati rosuulika waj'alnaa minash-shoolihiin.
Artinya:
"Ya Allah, panjangkanlah umur kami dalam ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepada Rasul-Mu, dan jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang saleh."

Wallahu a'lam bi
Allahul musta'an.
(Gaf).

Berita Terkini