HELOINDONESIA.COM - Kemajuan teknologi memang sangat membantu dan mempermudah beragam aktivitas manusia.
Namun demikian, di satu sisi, teknologi juga memberikan dampak negatif ketika salah menggunakannya.
Beberapa referensi menyebutkan faktor majunya teknologi justru sangat mengganggu kesehatan fisik dan mental seseorang.
Hal ini diungkapkan psikolog dari Universitas Indonesia (UI), Saskhya Aulia Prima dalam webinar yang digelar Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) pada November lalu.
Baca juga: Ketua Komisi C DPRD Kendal Soroti Kebocoran dan Sepinya Lapak Pedagang Pasar Weleri
Sisi negatif lainnya, Saskhya mencontohkan bahwa seorang anak saat ini bisa lebih dari 2 jam menggunakan gadget.
Kondisi demikian, menurutnya, bisa menurunkan kemampuan akademis & berpikir anak di masa depannya.
Penelitian lain mengungkapkan, sebanyak 1200 kali dalam sehari seorang pekerja bergonta-ganti aplikasi selama melakukan aktivitas bekerja.
Imbasnya, dalam 4 jam per minggu diperlukan pekerja tersebut untuk kembali berkonsentrasi setelah terdistraksi gadget.
Baca juga: Rose dan TWICE Debut di 5 Besar Billboard 200
Penelitian lain menyebutkan, 4 dari 5 orang saat bangun dari tidur, langsung mengecek smartphone di 15 menit pertama.
1 dari 5 Pelajar menerima 500 notifikasi per hari. Akibatnya, 90 detik pembelajaran terhapus ketika mendengar suara notifikasi
“Kenapa data-data tersebut perlu diperhatikan? Karena masalah-masalah itu yang bisa menjadi penyebab stres menumpuk, sehingga meningkatkan risiko mengalami mental health problem, meningkatkan permasalahan kesehatan fisik, mengurangi produktivitas kerja, mengganggu interaksi sosial, dll,” papar Saskhya.
Namun demikian, Saskhya memberikan tips faktor-faktor yang membangun lingkungan kerja yang sehat dan positif.
“Bangun komunikasi yang efektif di lingkungan yang beragam. Dibutuhkan leadership yang suportif, tersedianya wellness program sebagai work life balance,” terangnya.
Baca juga: PLA Merilis Target Pembunuhan Perang Elektronik untuk Kelompok Kapal Induk AS
Dia pun membandingkan perbedaan antargenerasi saat mereka melakukan pekerjaan di lingkungan kerja.
Menurutnya Generasi X atau Gen X lebih cenderung memprioritaskan pekerjaan dibanding hal lain.
“Dia lebih nyaman tatap muka, lebih nyaman pada diri sendiri dan lebih setia. Dalam pekerjaan pun stabil karena adanya kepastian finansial,” ujarnya.
Sementara, sambungnya, Generasi Milenial & Gen Z lebih memprioritaskan work-life balance.
“Mereka lebih nyaman berkomunikasi secara digital, lebih suka berkolaborasi & memiliki team oriented. Gen Z dan Milenial juga lebih mudah dan terbuka mencari kesempatan baru, lebih sesuai/tidak dengan misi pribadinya,” paparnya.
Baca juga: Bocor Parah, Anggota Dewan Sidak Pasar Weleri
Yang menjadi pertanyaan, apa yang perlu dimanage?
“Di antaranya manajemen prioritas, manajemen batasan diri/boundaries, manajemen support system, manajemen energi dan tentu saja manajemen waktu,” tandas Saskhya.
