Oleh Herman Batin Mangku*
LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Memasuki kawasan Kota Baru, suasananya seakan membawa kita ke dunia lain. Jika di banyak tempat orang berjubah, berjenggot, dan bersorban kerap dianggap “berbeda”, maka di sini justru kami—empat orang berpenampilan biasa—yang terasa “asing” di tengah lautan jamaah tabligh.
Hari itu, Selasa (11/11/2025), kami menyaksikan langsung geliat persiapan Ijtima Akbar Dunia di Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Di atas lahan seluas sekitar 50 hektare, ribuan jaulah dari berbagai provinsi datang dengan biaya sendiri. Sudah lebih dari seribu jamaah yang lebih dulu tiba, mempersiapkan tempat bagi sekitar sejuta jamaah yang akan hadir akhir bulan ini, 28–30 November 2025.

Kami memutuskan salat Asar lebih dulu di Masjid Al Hijrah, masjid besar yang berdiri di depan kompleks calon Kantor Gubernur dan DPRD Lampung. Meski bangunannya belum rampung, para jamaah menjadikannya bersih dan nyaman. Tempat wudhunya tertata rapi, dan di dalamnya terdengar lantunan tilawah dari berbagai penjuru.
Tak jauh dari situ, seorang jaulah tampak mengatur pemasangan tenda raksasa dari rangka besi. Ketika kami ajak berbicara, ia menjelaskan dengan ramah bahwa tenda itu nilainya mencapai Rp1 miliar lebih hasil sumbangan jamaah. “Tenaga kerjanya dibayar Allah,” katanya sambil tersenyum. Subhanallah, kalimat sederhana tapi penuh makna.

Ratusan tenda bambu berjejer rapi di berbagai sudut. Mereka membuat kantong air, dapur umum, hingga tempat istirahat sederhana di bangunan kosong yang sebelumnya terbengkalai. “Bahkan kami sering menemukan pakaian dalam perempuan berserakan di gedung-gedung ini,” ujar seorang jamaah, menggambarkan betapa para jaulah telah mengubah “sarang hantu” menjadi tempat ibadah.
Selesai salat berjamaah, kami berjalan ke arah gedung Kantor Gubernur. Di depannya, tampak deretan kloset duduk yang belum berdinding. Di teras bangunan itu, kami bertemu Mukhlis, jaulah dari Sumatera Utara yang sudah dua bulan tinggal di Kota Baru. Dengan janggut lebat dan mata teduh, ia menyambut kami dengan keramahan luar biasa.

“Apakah harta banyak dan kesibukan bisa membeli kedamaian?” tanyanya balik ketika kami menanyakan alasan ia betah tinggal di sini. Kami terdiam. “Ketenangan itu datangnya dari Allah SWT,” lanjutnya pelan. “Semakin banyak harta, semakin gelisah; semakin sibuk, semakin lupa bersujud.”
Ia lalu bercerita dengan perumpamaan sederhana. Seorang ayah membelikan sepeda baru untuk tiga anaknya: anak pertama dibelikan tunai, anak kedua dicicil, sementara anak bungsu harus menabung sendiri. “Yang terakhir justru paling sayang dan merawat sepedanya,” ujarnya. “Karena sesuatu yang diperoleh dengan susah payah, nilainya terasa jauh lebih berharga.”
“Begitu pula mencari ridha Allah,” tambahnya. “Kami datang jauh-jauh, biaya sendiri, tidur di tenda, makan seadanya—semua itu membuat ibadah terasa lebih nikmat dan bermakna.” Jika masih ada yang menunda salat karena waktunya masih panjang, dia merasa rugi tidak mendengar azan dari dalam masjid. Untuk beribadah bersama jamaah tabligh, dia harus berjuang dua bulanan.

Biaya besar kegiatan ini seluruhnya hasil swadaya jamaah. “Untuk tenda saja Rp1 miliar, belum bambu dan fasilitas lain,” kata Mukhlis. “Kalau semua dihitung, mungkin ratusan miliar nilainya. Tapi yang penting, semua lillahi ta’ala.”
Senja mulai turun ketika kami bergeser ke deretan warung dadakan di samping Gedung DPRD. Kami menyeruput kopi hangat, dikelilingi tatapan ramah para jaulah yang heran melihat kami tanpa sorban dan janggut.
Seorang jamaah dari Muko-Muko, Bengkulu, bergabung di meja kami. Namanya Jaminan (56). Sudah dua bulan ia di sini, meninggalkan kebun sawitnya untuk berkumpul bersama para jaulah. “Istiqamah itu seperti matahari,” katanya lirih. “Selalu hadir, memberi terang, walau kadang terhalang awan.”
Ia datang hanya membawa bekal Rp1,5 juta, tapi wajahnya teduh dan bahagia. Di tengah obrolan hangat itu, seorang teman saya tiba-tiba berucap lantang, “Fa bi’ayyyi âlâ’i rabbikumâ tukadzdzibân” — Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Seorang jaulah yang lewat tersenyum dan ikut mengulang ayat itu. Ia ternyata seorang tukang cat mobil yang rela meninggalkan pekerjaannya selama dua bulan demi beribadah bersama para jamaah tabligh dari seluruh Indonesia dan dunia.
Melihat semua itu, teman saya yang lain berbisik, baru ketemu 2-3 jaulah sudah begini, bagaimana jika seribu dan sejuta di Hari H, mungkin pulangnya langsung ikut melihara jenggot walau hanya sedikit sepeti Iyay Mirza. Alhamdullilah (Bersambung) .
*Pemred Club
