Sang Putra Fajar yang Tak Pernah Berhenti Nyalakan Harapan Pesawaran

Sabtu, 18 Juli 2026 11:02
Sang Putra Fajar Pesawaran Alzier didampingi Gubernur Iyay Mirza menerima nasi tumpeng dari Ketua DPRD setempat (Helo) HELO LAMPUNG

Penulis Herman Batin Mangku
Pimred Heloindonesia.com

FAJAR selalu datang tanpa suara. Ia tidak meminta tepuk tangan, tidak pula menagih pujian. Namun dari cahayanyalah kehidupan dimulai.Barangkali itulah alasan mengapa banyak orang mengenal M. Alzier Dianis Thabranie sebagai "Sang Putra Fajar".

Sebab jauh sebelum Kabupaten Pesawaran berdiri, ketika gagasan pemekaran masih dianggap angan-angan, Alzier telah memilih berjalan di jalan yang tidak mudah. Jalan penuh penolakan, perdebatan, dan perjuangan panjang demi satu keyakinan: masyarakat Pesawaran berhak memiliki masa depannya sendiri.

Jumat pagi, 17 Juli 2026, di halaman Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Pesawaran, sejarah kembali mengetuk ingatan.
Di hadapan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Ketua DPRD Achmad Rico Julian menyerahkan potongan pertama nasi tumpeng kepada Alzier Dianis Thabranie, Ketua Umum Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Pesawaran (P3KP).

Potongan nasi tumpeng itu bukan sekadar tradisi ulang tahun.
Ia adalah simbol penghormatan kepada seseorang yang pernah menanam benih, lalu rela menunggu bertahun-tahun hingga pohon itu tumbuh menaungi banyak orang.

Sembilan belas tahun lalu, Kabupaten Pesawaran lahir dari perjuangan yang tidak singkat. Hari ini daerah itu telah tumbuh menjadi rumah bagi ratusan ribu masyarakat yang menggantungkan harapan pada kemajuan daerahnya.

Di usia yang nyaris dua dekade itu, Alzier tidak berbicara tentang dirinya. Ia justru kembali berbicara tentang Pesawaran."Kalau kabupaten ini diibaratkan seorang laki-laki, usia 19 tahun sudah boleh menikah," ujarnya sambil tersenyum.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun maknanya begitu dalam.
Baginya, usia 19 tahun adalah usia kedewasaan. Saat sebuah daerah tidak lagi bergantung pada siapa pun, melainkan mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Mampu menarik investasi, menciptakan lapangan pekerjaan, menggerakkan roda ekonomi, dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Namun satu harapan yang paling kuat keluar dari bibirnya bukanlah soal gedung megah atau proyek pembangunan. "Saya berharap jangan ada lagi korupsi di Bumi Andan Jejama." Kalimat itu meluncur lirih, tetapi mengandung kegelisahan yang panjang.

Sebab Alzier memahami, sebuah daerah tidak akan kehilangan masa depan karena kekurangan sumber daya. Daerah justru akan kehilangan harapan ketika amanah rakyat dikalahkan oleh keserakahan.

Pesawaran memiliki pantai yang indah, laut yang kaya, perbukitan yang hijau, serta masyarakat yang pekerja keras. Semua itu adalah anugerah. Tetapi anugerah tidak akan berarti jika tata kelola pemerintahannya kehilangan arah.

Mungkin itulah sebabnya, di setiap momentum ulang tahun kabupaten yang ikut ia lahirkan, Alzier selalu mengingatkan hal yang sama: jangan pernah mengkhianati cita-cita awal berdirinya Pesawaran.

Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian dalam amanatnya mengajak seluruh masyarakat menjadikan HUT ke-19 sebagai momentum mempercepat pembangunan, memperkuat ekonomi kerakyatan, meningkatkan pelayanan publik, dan membangun pemerintahan yang profesional menuju Indonesia Emas 2045.

Harapan itu sejatinya sejalan dengan mimpi yang dahulu diperjuangkan Alzier. Karena sebuah kabupaten tidak dibangun hanya dengan beton dan aspal. Ia dibangun oleh kejujuran. Ia dirawat oleh persatuan. Ia dibesarkan oleh pemimpin yang lebih mencintai rakyat daripada jabatannya.

Menjelang berakhirnya upacara, doa dipanjatkan bersama sebagai ungkapan syukur atas perjalanan Kabupaten Pesawaran. Namun sesungguhnya, doa itu telah dipanjatkan jauh sebelum kabupaten ini lahir—ketika segelintir orang percaya bahwa mimpi besar bisa diwujudkan dengan keberanian dan pengorbanan.

Kini, di usia ke-19, Pesawaran telah memasuki gerbang kedewasaan.
Dan di sudut lapangan itu, Sang Putra Fajar kembali berdiri menyaksikan matahari yang dahulu ia perjuangkan untuk terbit.

Mungkin suatu hari nanti, nama-nama akan berganti. Pemimpin datang dan pergi. Kekuasaan berpindah tangan.
Tetapi sejarah selalu mengenang orang-orang yang memilih menyalakan cahaya ketika yang lain masih memandang gelap. Sebab fajar tidak pernah meminta dikenang. Ia hanya memastikan matahari tetap terbit.

Begitulah M. Alzier Dianis Thabranie—Sang Putra Fajar yang hingga hari ini masih menitipkan harapan agar Pesawaran tetap berjalan di jalan yang dicita-citakan sejak awal kelahirannya: menjadi rumah yang makmur, bermartabat, bersih dari korupsi, dan selalu berpihak kepada rakyat. Tabiiik yuuu

Berita Terkini