BALAM, HELOINDONESIA.COM – Kota Bandarlampung tak merah lagi, puluhan pot-pot besar yang menghias trotoar jalan utama, Jl. A. Yani, mulai dari Tugu Adipura, Enggal, hingga Tugu Pengandin, Durian Payung, mulai berubah warna jadi biru. Bagian atas dan bawahnya tetap warna kuning emas.
Sebelumnya, bulan Juli lalu, pot-pot besar penghias Kota Bandarlampung tersebut kurang belaian. Bahkan ada pot yang sampai roboh dibiarkan berminggu-minggu, pohon bouegenvill mati pun dibiarkan kering merana berbulan-bulan.
Pantauan Heloindonesia.com beberapa hari ini, pot-pot besar penghias jalan protokol A. Yani sudah dicat ulang sehingga bersih, cerah, dan jadi indah kembali lagi.
Bulan lalu, pot merah terguling di trotoar
Hanya itu tadi, pot warna sebelumnya merah kini berubah jadi warna biru. Kebetulan, di jalan ini, ada Sekretariat Partai Nasdem Lampung dan PWI Lampung yang ikonnya warna juga biru.
Walau cat pot-pot besar telah berubah warna dari biru jadi merah ke biru sesuai misi Wali Kota Eva Dwiana menjadikan kotanya cantik namun trotoarnya masih cemang-cemong, banyak yang sudah rusak dan kotor trotoar licin bermotif tapis.
Baca juga: Jarang Dibelai, Wajah Jalan Utama Balam Jadi Cemong
Sebelumnya, wajah jalan-jalan protokol di Kota Bandarlampung kian kehilangan pesonanya. Trotoar yang retak dan kusam, pot-pot bunga yang pecah bahkan terguling berminggu-minggu, hingga tanaman hias yang dibiarkan kurus kering kekurangan pupuk dan jarang dibelai (jablai) menjadi pemandangan di pusat kota.
Trotoar dan hiasan yang bisa bikin kota cantik malah tampak kusam dan tak terawat di sejumlah ruas jalan utama seperti Jalan Ahmad Yani, Kartini, Brigjen Katamso, dan Radin Inten II. Seolah tak ada lagi tangan yang merawat ruang publik yang semestinya menjadi etalase ibu kota Provinsi Lampung.
Pot bunga pecah dan sisa batang roboh dibiarkan lama membuat cemong Kota Bandarlampung
Penelusuran Heloindonesia.com, Senin (13/7/2026), di keempat jalan jantung kota kawasan yang dikenal sebagai "segi empat emas" Kota Bandarlampung—pusat aktivitas bisnis, perhotelan, pusat perbelanjaan, rumah makan, perkantoran, hingga layanan publik—justru memancarkan kesan tua, kusam, dan kurang terawat.
Di Jalan Ahmad Yani, sebuah pot besar berisi tanaman bougenville tampak terguling di atas trotoar. Sudah berminggu-minggu pot itu tergeletak begitu saja tanpa tanda-tanda akan dikembalikan ke tempatnya. Tak jauh dari lokasi tersebut, sedikitnya tiga pot besar lainnya sudah lama kehilangan tanaman.
Sementara pot yang masih berisi tanaman terlihat merana, kurus, dan minim perawatan, seakan hanya bertahan hidup tanpa sentuhan pupuk maupun pemangkasan. Keberadaannya yang semula dimaksudkan mempercantik kota kini justru menghadirkan kesan sebaliknya.
Kondisi serupa terlihat di Jalan Kartini. Deretan pot bunga berbahan semen berbentuk persegi banyak yang pecah dan dibiarkan berbulan-bulan, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun. Sebagian lainnya kosong tanpa tanaman, menyisakan wadah kusam yang kehilangan fungsi sebagai penghias kota.
Beranjak ke Jalan Brigjen Katamso, pemandangan tak jauh berbeda. Pot-pot bunga bantuan sejumlah BUMN dan BUMD masih berjajar di median jalan, namun banyak di antaranya telah retak, pecah, dan dipenuhi tanaman yang tumbuh tak terurus.
Sementara di Jalan Radin Inten II, pot bunga nyaris tak lagi terlihat. Hanya tersisa satu atau dua pot berukuran kecil yang juga sudah kosong tanpa tanaman. Kondisi trotoarnya pun tak kalah memprihatinkan.
Pot sengklek di Jl. Jend Katamo banyak bagian yang rusak, retak, bahkan hancur, sehingga mengurangi kenyamanan pejalan kaki sekaligus menciptakan kesan kurang baik bagi tamu maupun wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandarlampung.
Keindahan sebuah kota tidak hanya diukur dari megahnya gedung atau ramainya pusat perbelanjaan, tetapi juga dari perhatian terhadap ruang-ruang kecil yang menjadi wajah keseharian.
Pot bunga yang terawat, trotoar yang rapi, dan tanaman yang hijau mungkin tampak sederhana, tetapi dari sanalah sebuah kota menunjukkan kepeduliannya kepada warganya sekaligus menyambut setiap orang yang datang dengan kesan pertama yang baik.
Kini, pertanyaannya tinggal satu: siapa yang akan mengembalikan wajah cantik Kota Bandarlampung agar segar, cantik, dan menel lagi? (HBM)