Ada Setitik Air di Keramaian Gedung Satu Atap Pemkot Bandarlampung

Kamis, 3 Agustus 2023 11:59
Ada Setitik Air di Keramaian Gedung Satu Atap Pemkot Bandarlampung

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Lima hari lagi, 10 Agustus 2023, Wanusi BS berusia 84 tahun. Namun, pria asal Komering Ilir, Sumatera Selatan ini terlihat masih bugar dan rajin "ngantor" ke Gedung Pelayanan Satu Atap Pemkot Bandarlampung.

Pakaiannyapun terbilang rapih dan bersih, baju batik, celana kain, sepatu hitam, dan berkaos kaki warna senada. Dia setiap pagi mengendarai sepeda motor bebek tuanya datang pagi dan pulang sore serajin pegawai-pegawai muda.

Wanusi BS bukan pegawai Pemkot Bandarlampung, bukan honorer, dan pensiunan. Dia berjualan materai dan pena dengan kotak kecil di ujung kotak pot panjang di salah satu pintu masuk gedung tersebut.

Kotak kecil bertuliskan "MTRAI RP12000" itu diletakkannya di bawah kedua kakinya. Dia juga menyiapkan steples buat membantu warga yang memerlukannya. Dengan keuntungan Rp2000 per materai, Wanusi BS mengais recehan. 

Baca juga: Tertunda Covid-19, Wali Kota Eva Umrohkan 500 Warga Tahun Ini

Di antara hiruk-pikuk warga yang mengurus banyak hal di gedung tersebut, Wanusi BS menunggu warga yang membutuhkan dagangannya. Dia jual materai Rp10 ribu seharga Rp12 ribu dan pena seharga Rp3 ribu.

Tak banyak yang diperolehnya. Menurut dia, sehari paling banyak bisa mendapatkan untung Rp20 -30 ribuan, belum bayar parkir dan beli bensin. Sering juga, katanya, tak dapat untung apa-apa. Namun, dia terus berusaha mengais rezeki halal.

Wanusi BS berterima kasih kepada Pemkot Bandarlampung yang mengizinkannya berjualan sekaligus membantu warga tak perlu jauh-jauh beli materai. "Mereka justru yang menyarankannya ketimbang keliling," katanya.

Sebelumnya, bapak tujuh anak ini berdagang apa saja dari satu kantor ke kantor lainnya, misalnya kanebo, lem korea, dll. Waktu muda, masih gagah dan transportasi tak semudah seperti saat ini, dia melayani kebutuhan sembako pakai perahu dari pulau ke pulau di Teluk Lampung hingga pakai sepeda motor ke pelosok-pelosok kabupaten di Lampung.

Dengan pendengaran yang masih normal dan komunikasi lancar, diceritakannya, kisahnya terdampar dari Komering Ilir ke Kota Bandarlampung pada tahun 1977. Saat Rumah Makan Begadang masih satu dan Pasar Bambukuning baru dibangun, katanya.

Baca juga: Wali Kota Eva Gelar Pasar Murah dan Umrohkan Guru Ngaji di Sukadanaham

"Hotel Ria dan pertokoan sekitarnya masih Asrama PM," katanya dengan mata yang masih tajam. Kini, dengan sisa tenaga, dan anak-anak yang sudah berumah tangga, Wanusi BS berusaha tetap mandiri mengais rezeki dan pulang agar bisa salat magrib di masjid dekat rumahnya di Kampung Kebun Sayur, Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang.

"Tinggal si bungsu lagi, perempuan, sudah lulus SMK dan bekerja di Alpa Mart," katanya bangga. Dia tinggal bersama si bungsu, istrinya tercinta, Sundari sudah mendahului pada tahun 2015. Ketujuh anaknya, tiga laki-laki dan empat perempuan. 

Ditanya apa resep tetap sehat jasmani dan rohani, Wanusi BS memberikan resepnya. "Sehat hati, bersih hati, tak pembenci, hati senang, ikhlas dan bersyukur," ujarnya. Subhanalloh, sesederhana itu. Bagi Wanusi BS, selagi sehat, terus produktif dan berpikiran positif.

Di antara hiruk-pikuk warga yang mengurus banyak hal di gedung tersebut, Wanusi BS. dengan sabar menunggu warga yang membutuhkan dagangannya. Dia juga siap membantu gratis mensteples berkas-berkas warga.

Wanusi BS potret generasi masa lalu, orangtua kita, yang terlihat dari aura wajahnya ketulusan menerima apa yang diberikan Alloh SWT, termasuk keikhlasannya sampai tak bisa umroh apalagi naik haji karena ketika masa produktif harus mengantarkan ketujuh anaknya lulus SLTA. Perjuangan yang tak mudah bagi seorang pedagang keliling sepertinya. 

Ada pelajaran esensi kehidupan dalam kesendirian dan kesunyian di tengah keramaian Gedung Pelayanan Satu Atap Pemkot Bandarlampung. Wanusi BS menjadi setitik air ketika hedonisme dan korupsi merajalela hingga membakar setiap sendi kehidupan kita saat ini.

"L'ys kulu ma yalmae dhahabana." (Tidak setiap yang berkilap itu adalah emas). Hasbunallah Wanikmal Wakil. Semangat! (Herman Batin Mangku)

Berita Terkini