DI USIA ketika banyak orang memilih memperlambat langkah, Nilla Nargis Yohansyah, S.H., M.Hum. justru terus bergerak. Ia menulis, mengajar, berbisnis, dan beribadah dengan ketekunan yang sama. Hidupnya berjalan di antara buku-buku hukum, lembar refleksi spiritual, ruang kelas, dan dapur usaha—semuanya terikat oleh satu benang halus: keyakinan bahwa ilmu dan iman harus hidup berdampingan.
Perempuan kelahiran Tanjungkarang, 25 Januari 1957 ini tumbuh dalam tradisi keluarga yang menempatkan pendidikan dan nilai agama sebagai fondasi utama. Dari sanalah ketekunannya menempa diri berangkat. Gelar Sarjana Hukum diraihnya dari Universitas Lampung, lalu Magister Hukum dari Universitas Gadjah Mada.

Dunia akademik menjadi rumah pertamanya, tempat ia mengabdikan diri sebagai dosen dan pendidik hukum.Namun bagi Nilla, mengajar tidak pernah dimaknai sekadar menyampaikan materi. Ruang kelas adalah ruang pengabdian.
Mendidik mahasiswa sama artinya dengan mendidik anak sendiri—sebuah amanah moral yang tidak bisa ditawar.
“Ilmu bukan hanya untuk dipahami, tapi untuk membentuk sikap hidup,” ujarnya ketika menyerahkan buku kepada wartawan utama Junaidi Ismail pada Hari Ibu yang digelar Pengda Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya Provinsi Lampung akhir 2025.
Keyakinan itu pula yang mendorongnya menulis. Ia menulis bukan untuk mengejar popularitas, melainkan sebagai ikhtiar menyebarkan nilai. Dari tangan dan perenungannya lahir tiga buku yang mencerminkan keluasan pandangannya sebagai pendidik dan warga bangsa: Merawat Hati, Metamorfosis Kemiskinan, dan Sendi-Sendi Hukum Acara Perdata.
Dalam Merawat Hati, Nilla berbicara tentang keluarga, ketenangan batin, dan pentingnya komunikasi yang jujur serta penuh kasih. Buku ini tidak hadir sebagai ceramah, melainkan sebagai refleksi. Ia mengajak pembaca menengok ke dalam diri—bahwa keluarga yang sakinah lahir dari kesadaran spiritual, bukan semata kecukupan materi.
Berbeda dengan itu, Metamorfosis Kemiskinan membawa pembaca menelusuri wajah lain realitas sosial. Diterbitkan pada 2010, buku ini mengkritik cara pandang sempit terhadap kemiskinan. Bagi Nilla, kemiskinan bukan sekadar soal kurangnya penghasilan, melainkan hasil dari relasi kompleks antara budaya, struktur sosial, dan kebijakan publik. Pendidikan, lapangan kerja, dan kehadiran negara harus saling menguatkan jika kemiskinan ingin benar-benar diatasi.
Sementara Sendi-Sendi Hukum Acara Perdata, yang ditulis bersama Hj. Marindowati, menegaskan posisinya sebagai akademisi hukum. Buku ini mengurai hukum acara perdata secara sistematis dan membumi—mulai dari gugatan, mediasi, hingga proses persidangan.
Bagi Nilla, hukum harus dipahami bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai instrumen keadilan yang melindungi warga negara. “Hukum harus bekerja untuk manusia, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Menariknya, perjalanan hidup Nilla tidak berhenti di dunia akademik dan kepenulisan. Ia juga memilih jalan yang jarang ditempuh sebagian akademisi: wirausaha. Dunia usaha baginya bukan antitesis dari dunia pendidikan, melainkan ruang latihan kemandirian dan kejujuran.
Setiap langkah bisnis ia iringi dengan doa. Bahkan saat membuka rumah makan, ia lebih dulu bersujud, memohon petunjuk. Ibadah tidak dipisahkan dari aktivitas ekonomi. Dalam keseharian, ia dikenal tekun menjalani salat wajib dan sunnah. Spiritualitas bukan simbol, melainkan disiplin hidup.
“Selalu ada Allah dalam semua yang kita lakukan, termasuk dalam berbisnis,” katanya lirih, namun penuh keyakinan.
Kesalehan personal itu justru berjalan seiring dengan ambisi duniawi yang jujur. Nilla tidak menutup cita-citanya menjadi miliarder. Baginya, kekayaan bukan tujuan akhir, melainkan sarana.
“Dengan kekayaan, kita bisa berbuat lebih banyak. Dan saya ingin menunjukkan bahwa mengajar adalah pengabdian, bukan tempat mencari pemberian,” ujarnya.
Ia pernah merasakan bagaimana dosen diposisikan rentan, bahkan diremehkan.
Ada mahasiswa yang mencoba memberi “hadiah” demi kemudahan nilai. Sikapnya tegas: menolak. Ia ingin berdiri setara, merdeka secara moral dan ekonomi.
Pengalaman sebagai mantan anggota KPU Provinsi Lampung turut membentuk keteguhan prinsipnya. Integritas, baginya, tidak bisa ditawar dalam peran apa pun—baik sebagai pendidik, penyelenggara negara, maupun pelaku usaha.
Kini, di usia matang, Nilla Nargis Yohansyah menjelma sebagai potret perempuan Lampung multitalenta. Ia berilmu tanpa kehilangan iman, berambisi tanpa mengorbankan nilai, mandiri tanpa meninggalkan kepedulian sosial. Tulisannya terus lahir, sebagian bahkan ia niatkan untuk dibagikan gratis sebagai bagian dari syiar Islam.
Dari ruang kelas hingga meja usaha, dari lembar buku hingga lantai sajadah, hidup Nilla berjalan dalam kesadaran yang sama: bahwa semua peran, jika dijalani dengan sungguh-sungguh, bisa menjadi jalan pengabdian.
“Jangan pernah melakukan sesuatu dengan main-main,” katanya suatu kali. Sebuah pelajaran sunyi, namun kuat—tentang bagaimana perempuan Indonesia, dengan ketekunan dan keyakinan, mampu menyulam ilmu, iman, dan ikhtiar menjadi kehidupan yang utuh dan bermakna.(Rls/Herman Batin Mangku (HBM)
