Helo Indonesia

Sudah Diproduksi China, Batik Nusantara Harus Dijaga Keindahan Tradisionalnya dengan Sentuhan Futuristik

Jumat, 15 November 2024 22:05
    Bagikan  
Batik
Foto: ist

Batik - Desainer Ai Syarief saat memamerkan karya batiknya dan menarik minat para pecinta fashion dunia.

HELOINDONESIA.COM - Batik Indonesia itu bukan cuma tradisi leluhur saja. Batik bukan sekadar hanya kain biasa. Tapi menjadi salah satu khas budaya nusantara.

Karena itu, batik harus dijaga dan dikembangkan agar tidak punah dan tak lekang ditelan jaman.

Karena itu, pembuatan batik ke depannya harus berpikir futuristik. Bagaimana ide-ide kreatif ditampilkan menjadi sebuah finishing good yang berkualitas dan bisa diterima oleh masyarakat dunia.

“Seorang antropolog mengatakan sebuah bangsa itu bisa hilang kalau budayanya hilang. Karena apa? Bangsa tanpa budaya sama seperti tidak punya identitas diri. Bangsa ini bisa punah karena identitasnya hilang. Salah satu identitas bangsa yang harus dijaga adalah kain batik,” ujar Ketua UmumThe Indonesian Wellness Spa Professional Association (IWSPA), Yulia Himawati dalam webinar Indonesia Wellness Tourism International Festival 2024 (IWTIF 2024), Jumat (15/11/2024).

Baca juga: Pemkot Bandarlampung Meraih Nilai 93.97  Kepatuhan Tertinggi Predikat A Layanan Publik.

Yulia mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidak menutup diri dengan adanya globalisasi. Pengaruh-pengaruh asing seperti model-model fashion Korea sangat mempengaruhi penampilan anak muda Indonesia.

“Kita berharap batik makin berkembang seiring dengan jaman, yakni batik yang menggabungkan antara keindahan tradisional dengan sentuhan futuristik,” papar Yulia.

Karena itu, lanjut Yulia, IWTIF 2024 tidak hanya digelar secara online saja, tapi juga offline. Salah satu event yang akan digelar adalah lomba membatik.

“Insya Allah kita juga akan menyelenggarakan workshop tentang membatik. Kita akan mengajak para pemula agar tahu betapa sulitnya membuat kain batik,” jelasnya.

Baca juga: Punya Banyak Inovasi, Komisi Informasi Banten Apresiasi Keterbukaan Informasi Publik di Tangsel

Di acara itu akan disampaikan kepada anak-anak muda harus menghargai para pembatik. Apalagi kalau kain yang digunakan itu sutera. Tentu jatuhnya akan mahal sekali. Belum lagi harus beberapa kali pencelupannya,” papar Yulia.

Secara umum, Yulia menjelaskan bagaimana melukiskan motif-motif batik. Hasil gambarnya itu semua mengandung arti dan memiliki filosofinya.

“Ada yang dinamakan seruntung, parang dan macam-macam. Seruntung saja ada beberapa macamnya. Nah itu juga harus kita ajarkan dan edukasikan kepada anak-anak muda semua supaya mereka lebih paham,” katanya.

Problema saat ini, ungkap Yulia, harga batik terbilang mahal, terutama batik tulis.

“Jadi PR bagi kita bagaimana bisa membantu UMKM-UMKM yang menjual batik dengan harga terjangkau oleh masyarakat, tetapi si pengrajinnya juga diuntungkan. Sebab, jangan sampai para pembatik putus asa mati-matian bikin batik tulis berbulan-bulan, akhirnya tidak merasakan benefit dari usahanya itu,” tandas Yulia.

Baca juga: Delapan Kartu Sakti Program Reihana-Aryodhia Untuk Masyarakat Bandarlampung

Ayi Syarief, seorang desainer menceritakan betapa kagetnya ia keyika kakaknya yang tinggal di Amerika menelepon dan mengabarkan kalau sudah banyak yang menjual pakaian batik di negara itu tapi buatan China.

“Lewat telepon kakak saya emosi kalau di sana banyak batik buatan China. Saya bilang biarin saja. Karena pasti berbeda. Saya jelaskan di Jakarta orang-orang sudah paham dan menyebutnya kalau yang diprint itu bukan batik. Tapi mengikuti motif batik saja,” jelas Ai Syarief.

Yang menjadi perhatian Ai Syarief saat ini, di tempat-tempat pembuatan batik, baik di Solo, Yogyakarta, NTT, NTB, Sumatera Utara pembuat ulos tidak ada regenerasi.

“Yang membuat batik dan ulos kebanyakan semakin sepuh. Bahkan yang menyedihkan, anak-anak mereka lebih memilih bekerja di Indomaret atau Alfamart dibandingkan mengikuti profesi orangtuanya sebagai pembatik atau pembuat kain ulos,” terangnya.