HELOINDONESIA.COM -Siapa yang gak kenal Break The Silence (BTS) Korea Selatan? Hampir semua generasi milenial dan Gen Z mengenal artis-artis asal Korea.
"Gelombang Korea itu luar biasa sekali di Indonesia. Mulai dari makanannya, skin care-nya sangat-sangat di agung-agungkan budayanya," ujar praktisi perawatan kecantikan tradisional Indonesia, Deta Indriana seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Sabtu (11/1/2025).
Deta mengutip pernyataan Profesor Andrew Kim yang menyatakan bahwa Hailyu Wave atau gelombang Korea ini mempengaruhi kesuksesan ekonomi negara gingseng tersebut.
"Korea Selatan ini mengangkat kebudayaannya, maka perekonomiannya naik. Semakin makmur rakyatnya. Nah berarti kita harus sadar, ternyata ketika sebuah negara itu mengangkat sebuah kebudayaannya, maka tidak hanya fashion atau kulinernya saja, tapi semua perekonomian, industrinya itu juga ikut terangkat," papar Deta.
Baca juga: Asisten Medis Mendengar Suara dari Kamar Mayat yang Menyimpan Jasad Wanita
Dengan demikian, Deta mengatakan bahwa fenomena Korea itu menjadi tantangan, menjadi penyemangat bagi mereka yang bergerak di bidang industri kecantikan atau spa wellness.
"Ada penelitian yang menyebutkan, ternyata di era globalisasi dapat menimbulkan perubahan pola hidup masyarakat yang lebih modern," ujarnya.
Akibatnya, masyarakat cenderung untuk memilih kebudayaan baru yang dinilai lebih praktis dibanding budaya lokal.
Deta mengungkapkan, ada beberapa faktor mengapa budaya sendiri dilupakan. Karena kurangnya generasi penerus yang memiliki minat untuk belajar mewarisi kebudayaannya sendiri.
Baca juga: Diduga Melakukan Penipuan di Tubaba, HW Ditangkap Polisi
Jadi apa upaya yang harus dilakukan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaannya?
Deta mengatakan, pertama adalah culture eksperience, harus memiliki pengalaman terkait budaya.
"Jika di bidang kuliner Anda harus mengetahui kira-kira kalau makanan yang Jogja tuh khasnya apa. Bagi yang bergerak di industri kecantikan atau spa, berarti Anda juga harus tahu kira-kira kebudayaan perawatan apa ya yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Sumatera Utara, Sumatera Barat," paparnya
Kedua, lanjut Deta, pengetahuan atau knowledge tentang budaya juga kita perlu tambahkan.
Baca juga: Blackbox Jeju Air Berhenti Merekam Selama Empat Menit Terakhir
Apalagi, dalam standar usaha spa wellness di Peraturan Menteri Pariwisata nomor 11 tahun 2019 itu pun sudah disinggung bahwa kita itu harus mengangkat kebudayaan Indonesia.
"Etnowellness Nusantara ini adalah salah satu yang penting kita angkat dan perlu kita kaji lebih dalam. Kenapa? Karena di situ kita bisa tahu di Betawi ada namanya Tangas Betawi, ada pulen legit," ungkapnya.
Sebagai seorang pengusaha dan praktisi, menurut Deta tidak ada kata terlambat untuk mengetahui tentang hal ini. Sebab ada yang namanya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)
Menurutnya, SKKNI itu sudah merancang yang namanya etnowellness Nusantara. Ada unit kompetensi terkait etnowellness Nusantara.
Baca juga: Pemain Liga Inggris Ditangkap Polisi saat Latihan karena Sebar Video Mesum
"Mungkin orang tahunya hanya Jawa ataupun Bali. Ternyata di Indonesia itu banyak sekali tradisi perawatan kecantikan. Ada Perawatan Kusuk Batak, Peranakan Semarang, So'oso Madura, dan lainnya," ujar ya.
Semua etnowellness itu, sambung Deta, ada ciri khasnya perawatan dari berbagai daerahnya.
"Itu menjadi tantangan bagi kita untuk mempelajari lebih dalam. Misalnya kita tahunya hanya lulur mangir, ternyata ada namanya So'oso Madura. Selain lulur ada yang namanya berendam dan sebagainya," tandas Deta.
