Helo Indonesia

Kerajaan Sebagai Sumber Ethnowellness jadi Peradaban Suatu Bangsa

Jumat, 25 April 2025 21:49
    Bagikan  
Manuskrip kerajaan
Foto: tangkapan layar

Manuskrip kerajaan - Manuskrip keraton atau kerajaan menghasilkan sebuah tradisi kesehatan dan kebugaran secara turun temurun.

HELOINDONESIA.COM - Manuskrip keraton atau kerajaan menghasilkan sebuah tradisi kesehatan dan kebugaran secara turun temurun.

Tradisi ini juga beredar di masyarakat. Tentu saja masyarakat bisa mengetahui adanya tradisi ini lantaran rahasia tersebut bocor ke tengah masyarakat.

"Manuskrip dari keraton atau kerajaan itu ada filosofinya bahwa untuk memimpin harus sehat, bugar dan perkasa," ungkap Antropolog Dr Jajang Gunawijaya seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Jumat (25/4/2025).

Dikatakan Jajang, keraton atau kerajaan menjadi sumber dari ethnowellness menjadi sebuah peradaban pada suatu suku bangsa.

Baca juga: Wolfdogs Nagoya Lakukan Epik Comeback Dramatis 3-2 Atas Suntory Sunbirds Osaka

"Di sisi sungai Brantas sebagai pusat kerajaan, nenek moyang terakhir dan sungai Citarum unggul dan sistem pemerintahan masyarakat perdagangan maka ada jasa-jasa di sekitar perdagangan," jelas Jajang.

Lalu ada organisasi yang memungut pajak dan peradaban pada masyarakat. Semacam itu tentu harus ada organisasi kekuasaan yang bisa menjaga irigasi, yang bisa menjaga perdagangan.

"Tidak hanya pertanian, tapi juga masyarakat pesisir. Ada spesialisasi kerja, ada surplus maka ada perdagangan. Karena ada perdagangan, ada jasa di perdagangan," tambahnya.

Kemudian ada organisasi yang memungut pajak atau retribusi. Ada namanya kaum santai yang menikmati surplus produksi yang membuat aturan kebudayaan dan peradaban.

Baca juga: Tambang Batu Penyebab Banjir Jalan Terus Walau Baru Disegel DLH-Polda

Pada masyarakat semacam itu maka ada organisasi kekuasaan yang bisa menjaga irigasi, perdagangan, juga kemaritiman.

"Intinya ada surplus yang diperdagangkan ada surplus yang diperdagangkan, maka organisasi seperti itu kita sebut kerajaan," tambah Jajang.

Kelompok kaum santai ini merupakan aristokrat yang tidak bekerja dengan menggunakan fisik, tapi dia menggunakan otak, menggunakan cita rasanya, sehingga menciptakan sesuatu.

"Adanya kerajaan tentu saja berbasis pada perdagangan, ada spesialisasi kerja dan ini merupakan pusat pemerintahan lokal atau kerajaan atau ada peran aristokrat," terangnya.

Baca juga: Program ABBAS di Semarang Bukti Kepedulian Sosial Masih Ada di Masyarakat

Kerajaan inilah tentu dia hidup dari pajak, hidup tanah yang banyak.

"Kita mengacu pada teori kekuasaan Tuhan bahwa alam semesta adalah milik Tuhan. Nah kenapa milik Tuhan? Ta memang karena ciptaan Tuhan. Tapi Tuhan tidak langsung mengurus, maka yang diutus oleh Tuhan itu adalah wakil-wakil Tuhan, yakni raja, keluarganya dan keturunan-keturunannya," papar Jajang.