Helo Indonesia

Baju Adat Lampung Bertaburan pada HUT ke-80 RI di Istana Negara

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Senin, 18 Agustus 2025 19:37
    Bagikan  
ADAT LAMPUNG
HELO LAMPUNG

ADAT LAMPUNG - Stella Christie bersama sang suami, Bartek Czech.

Oleh Prof. Admi Syarif, PhD

Pergi ke pasar Wayhalim beli kelapa,
Singgah sejenak di Tanjungsenang.

Janganlah lupa budaya bangsa,
Mari kita jaga, agar jaya Indonesia tercinta.

PERINGATAN Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di Istana Negara kemarin terasa begitu istimewa. Laksana panggung budaya, halaman Istana diselimuti warna-warni busana tradisional Nusantara. Para pejabat tinggi negara, tamu undangan, dan tokoh masyarakat tampil anggun dengan pakaian adat yang mereka kenakan, menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya urusan politik, melainkan juga momentum merawat identitas kebangsaan.

Menariknya, tahun ini cukup banyak tokoh memilih tampil dengan busana adat Lampung. Di antaranya Ibu Titiek Prabowo, Zulkifli Hasan, Anindya Bakrie (Ketua Umum Kadin Indonesia), Stella Christie (Wakil Menteri Sainstek Dikti), hingga sejumlah tokoh lainnya. Kehadiran mereka dengan balutan tapis Lampung sontak mencuri perhatian, sekaligus mempertegas eksistensi budaya Sai Bumi Ruwa Jurai di panggung nasional.

Seperti dilaporkan IND-Times, Stella Christie tampak memukau dengan tapis berwarna merah marun yang dipadukan dengan selendang putih bermotif sulam emas. Ia berjalan beriringan bersama sang suami, Bartek Czech, yang juga mengenakan busana adat Lampung dengan dominasi warna merah-putih.

Bartek tersenyum lebar, tampak bangga saat memberi hormat pada Sang Saka Merah Putih. “Merayakan HUT ke-80 RI di sini, bersama rakyat Indonesia, adalah kehormatan besar bagi saya dan keluarga,” ujarnya.

Tak kalah anggun, Anindya Novyan Bakrie tampil dengan tapis cucuk andak berhiaskan benang emas yang gemerlap terkena cahaya matahari pagi. Sebagaimana diberitakan Disway, Ketua Umum Kadin Indonesia periode 2024–2029 itu terlihat percaya diri. Balutan tapis pada dirinya bukan sekadar busana, melainkan penghormatan terhadap budaya daerah sekaligus wujud kecintaan pada Indonesia.

Ibu Titiek Prabowo pun mencuri perhatian dengan balutan tapis jung sarat berwarna hitam dengan motif emas menyala. Tapis jenis ini biasanya dikenakan pada upacara adat besar, melambangkan perjalanan hidup yang penuh makna dan doa akan masa depan. Di sisi lain, Zulkifli Hasan memilih gaya yang lebih sederhana dengan tapis bermotif garis emas, namun tetap memancarkan wibawa.

Sejarah Singkat Tapis Lampung

Tapis Lampung adalah kain tenun tradisional yang telah ada sejak abad ke-2 Masehi, berkembang pesat ketika wilayah Lampung menjadi jalur perdagangan lada pada abad ke-16. Kain ini ditenun dengan benang kapas atau sutra, kemudian dihias sulaman benang emas atau perak yang disebut cucuk.

Proses pembuatan tapis sepenuhnya dilakukan oleh perempuan Lampung, biasanya diwariskan secara turun-temurun dari ibu ke anak perempuan. Lebih dari sekadar pakaian, tapis berfungsi sebagai penanda status sosial, simbol kematangan seorang gadis, hingga busana sakral dalam acara adat seperti pernikahan, khitanan, dan penyambutan tamu agung.

Dari catatan sejarah, tapis dulu hanya digunakan oleh kalangan tertentu, terutama bangsawan dan pemimpin adat. Namun seiring waktu, pemakaiannya meluas dan kini menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Lampung. Pada 2021, UNESCO menetapkan Tapis Lampung sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, menegaskan posisi kain ini sebagai salah satu mahakarya budaya Nusantara yang diakui dunia. 

Menurut data Dinas Kebudayaan Lampung, terdapat lebih dari 60 motif tapis yang masing-masing punya filosofi. Tapis cucuk andak melambangkan keteguhan hati, tapis jung sarat melukiskan perjalanan hidup, sementara tapis lapangan biasa digunakan untuk acara seremonial.

Kehadiran para tokoh nasional dalam balutan busana adat Lampung di Istana Negara menjadi simbol bahwa budaya daerah bukan sekadar warisan lokal, melainkan kekuatan perekat bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi, tampilnya tapis Lampung dalam momen kenegaraan adalah cara elegan menjaga akar budaya tetap hidup sekaligus memperkenalkannya ke dunia internasional.

Semangat terus! Mari kita bangga, berbuat baik, dan bersama-sama membangun Indonesia yang lebih beradab, kuat, dan penuh warna budaya.

* Dosen Unila dan tukang tulis_

 -