Helo Indonesia

Menciptakan Ekosistem Seni Rupa Inklusif

Annisa Egaleonita - Hiburan -> Seni Budaya
Jumat, 7 November 2025 13:18
    Bagikan  
Menciptakan Ekosistem Seni Rupa Inklusif

Ist

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Hampir satu dekade, Sekolah Seni Tubaba di Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung, bekerja dengan memfungsikan seni sebagai software yang bermanfaat untuk memperkaya pengalaman manusia dan mempromosikan kesetaraan.

Menurut Direktur Semi Ikra Anggara, Jumat (07/11/2025) program Seni bagi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang telah dijalankannya selama sembilan tahun, telah melibatkan 5.000 peserta didik secara gratis.

undefined

Dia melanjutkan, pada mulanya program ini tidaklah populer, pendekatan kami banyak menggunakan metode modern dan kontemporer dianggap aneh.
Seiring berjalannya waktu, perlahan terjadi perubahan sudut pandang. Setiap tahun dukungan publik semakin besar, termasuk dari kalangan penyandang, keluarga dan lembaga disabilitas.

“Setelah sembilan tahun bekerja dalam mempromosikan seni yang inklusif di Tubaba, tahun ini SST menyelenggarakan program ke sejumlah kota di Provinsi Lampung. Bekerja Sama dengan SLBN PKK Provinsi Lampung (Bandar Lampung), Sekolah Seni Payungi (Metro), SLBN Lampung Timur, SLBN di Tubaba sembari tetap menjalankan program disabilitas di lingkungan Sekolah Seni Tubaba sendiri,”ujarnya.

Menutup wawancara, Semi Ikra Anggara menyatakan bahwa mengalami seni adalah satu upaya dalam meningkatkan kualitas diri. Adik-adik disabilitas, seperti juga kita, adalah bagian tak terpisahkan dalam membangun kebudayaan sebuah kota, mereka adalah Subjek pemilik masa depan sebuah kota. Melalui seni pula, termasuk melalui karya mereka, kita dapat berefleksi bahwa tatapan kualitas estetika berdasarkan fitrah lahir seorang anak manusia di muka bumi adalah ilusi.

Saat dikonfirmasi Askoni, kepala Sekolah SLBN Tubaba menyatakan dukungannya, dia senang karena peserta didik yang diampunya bisa belajar kepada seniman profesional.

“Ini bukan hanya belajar terkait teknis, tapi bagaimana pembelajaran tentang nilai-nilai kebaikan diinternalisasi melalui penciptaan proses karya seni. Ini adalah praktik pendidikan karakter yang sesungguhnya,”pungkasnya.

Koordinator program Seni Rupa, Suvi Wahyudianto, menyatakan bahwa workshop bagi penyandang disabilitas bukan bertujuan menciptakan lukisan yang dianggap bagus dalam kaidah estetika formal, melainkan praktik aktualisasi diri dalam semangat pembebasan dan kesetaraan para pelakunya.

Lebih jauh, kandidat doktor Seni Rupa sekaligus peraih peraih UOB South-Asean Painting Award 2018 (Singapura) dan penerima Prince Claus Seed Award 2024 (Belanda) menyatakan workshop yang diampunya tidak memaksakan peserta didik bertungkus lumus dalam aspek-aspek teknis. Melainkan pembebasan imajinasi dan praktik seni berdasarkan keuangan dan imajinasi mereka.

Walhasil pada kanvas dapat kita saksikan kode-kode visual secara bebas, tanpa atas tanpa bawah, bermain dengan volume objek. Kode-kode visual tersebut begitu bebas, saling mengisi pada bidang kosong, kanvas menjadi penuh sehingga tercipta lukisan non hierarkis.

Didukung oleh PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Persero, pameran hasil workshop keliling Lampung “SETARA” digelar pada tanggal 31 Oktober-17 November 2025 di Galeri Sekolah Seni Tubaba, Kota Budaya Ulluan Nughik, Panaragan, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Setiap hari pameran dibuka dari pukul 10:00-17:00 WIB.

(Rohman).