Situs Megalitik Ribuan Tahun Digusur Tambang Galian C di Lampura

Sabtu, 14 Desember 2024 10:49
Situs Megalitik Canguk Gaccak dan Makam makam puyang masyarakat adat Abung Siwo Mergo.(Foto Kolase Helo) Helo Lampung

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Mulai terkuak, Situs Canguk Gaccak hilang dari lokasinya di Kabupaten Lampung Utara. Informasinya, situs megalitik berusia ribuan tahun itu lenyap digusur tambang galian C di Desa Sekipi, Kecamatan Abung Tinggi.

"Bangsa Indonesia telah kehilangan situs berusia ribuan tahun akibat tergusur tambang galian C di Kabupaten Lampung Utara," ujar Arkeolog Lampung Oki Laksito kepada Helo Indonesia, Sabtu (14/12/2024).

Tokoh masyarakat sudah sejak tahun 2018 mengingatkan adanya penambangan galian yang mengancam kawasan cagar budaya di wilayah tersebut, termasuk makam puyang masyarakat adat Abung Siwo Mergo.

Akuan Abung gelar Nadikiang Pun Minak Yang Abung pernah mengatakan pada tahun 2018 bahwa masyarakat adat Lampung Abung Siwo Mergo (Sembilan Marga) bermula dari kawasan Canguk Gaccak.

Dalam satu kawasan tersebut, selain ada komplek situs megalitik Canguk Gaccak, ada komplek makam.

1. Makam bagian atas terdiri dari Puyang Nuban, Puyang Minak Maju Lemaweng, Puyang Minak Munggah Daging. 

2. Makam bagian bawah terdiri dari Tambak Minak Riyo Begeduh, Minak Trio Diso, Minak Pelatih Tuhi/Minak Rajo Dunio. 

3. Makam di bawah tambak adalah Unyu/Nunyai.

Kawasan makam masih aman, tapi Situs Megalitik Canguk Gaccak sudah hilang tergusur penambangan galian C. Di situs megalitik ini sebelumnya ada lima dolmen, batu melingkar (stone enclouser), enam menhir, serta batu datar.

Komplek warisan benda cagar budaya seperti Batu Bedil di Kabupaten Tanggamus dan Baru Brak di Lampung Barat tersebut telah raib dari lokasinya ribuan tahun, namun telah hilang lenyap dalam sekejap oleh penambangan galian C.

Arkeolog Oki Laksito yang meninjau warisan megalitik jejak awal keberadaan masyarakat Lampung itu langsung terduduk sambil memegang satu dolmen sisa yang sudah tidak berada di komplek situs megalitik sebelumnya pada Senin (9/12/2024).

Dia bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) lainnya butuh beberapa menit untuk kembali menerima kenyataan pahit tak berbekasnya Situs Megalitik Canguk Gaccak yang telah menjadi warisan benda cagar budaya Indonesia.

Menurut Oki Laksito, Situs Megalitik Canguk Gaccak merupakan bukti bahwa nenek moyang masyarakat Lampung sudah memiliki peradaban tinggi sejak prasejarah.

Benda cagar budaya nasional berupa dolmen dan menhir Situs Canguk Gaccak hilang dari dekat Sungai (Way) Abung, Desa Sekipi, Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung.

Situs yang telah terdaftar di Dinas dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu berupa kawasan situs megalitik yang terdiri dari lima dolmen, batu melingkar (stone enclouser), enam menhir, serta batu datar hilang. 

Von Heine Geldern menggolongkan tradisi megalitik dalam dua tradisi, yaitu megalitik tua yang berkembang pada masa neolitik (2500-1500 SM) dan megalitik muda yang berkembang dalam masa paleometalik (1000 SM–abad 1 M).

Megalitik tua menghasilkan bangunan yang disusun dari batu besar seperti menhir, dolmen, undak batu, limas berundak, pelinggih, patung simbolik, tembok batu, dan jalan batu.

Meskipun biasa dikaitkan dengan masa prasejarah, tradisi megalitik tidak mengacu pada suatu era peradaban tertentu, namun lebih merupakan bentuk ekspresi yang berkembang karena adanya kepercayaan akan kekuatan magis atau non-fisik dan didukung oleh ketersediaan sumber daya di sekitarnya. (HBM)


 - 

Berita Terkini