LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Ketum DPP Laskar Lampung Ir. Nerozelly Agung Putra mengatakan penyesatan jika dikatakan Karnaval Budaya Tari Ngigel agar masyarakat bisa lebih mengenal budaya Lampung dan menjadikannya sebagai edukasi.
Alasan Panglima Nero, panggilannya, jika memang agar masyarakat lebih mengenal budaya Lampung dan menjadikannya sebagai edukasi atau pendidikan/pelajaran itu salah besar. "Karnavalnya justru memberi pelajaran sesat dan menyesatkan tentang Tari Ngigel," katanya, Selasa (5/8/2025).
Baca juga: Penyimbang dan Perwatin Klarifikasi Tak Bermaksud Lecehkan Tari Ngigel
"Inji nyawa ke mak menyalahi (Ini menjelaskan, bukan menyalahkan)," ujar Panglima Nero gelar Suttanku Raja Ngarang Dunio jak Buay Koenang panggeh Buay Koenang Nyahajo Anjak Haji Pemanggilan Dilem Pegawo Siwo Bumei Menopesayan. Mepejeng Pusekampun Nengah di Baris Bataian
Menurutnya, jika memang untuk memperkenalkan dan memberikan edukasi Tari Ngigel, ya tidak seperti yang terjadi di Karnaval Budaya Tari Ngigel. Pria dan wanita tak "joget" bersama dengan pakaian adat dan gerakan Tari Ngigel.
Sepanjang sejarah budaya Lampung, sejak nenek moyang, tak pernah diajarkan dan tak pernah ada Tari Ngigel dilakukan ramai-ramai bercampur antara pria dan wanita seperti joget di acara kawinan pakai orgen tinggal, kata Panglima Nero.
Baca juga: Niat Mulia Tercoreng, Tari Ngigel Lampung Dilecehkan Bak Joget Organ Tunggal
Pria menari dengan para kaum pria demikian pula terpisah yang wanita, terutama yang masih gadis, ditempat tertutup lainnya. Gerakannya juga sudah ada pakemnya. "Jadi, Karnaval Budaya Tari Ngigel sesat dan menyesatkan," tandasnya.
Tak hanya Panglima Nero yang mengecam penyelenggaraan Karnaval Budaya Tari Ngigel dalam rangka memeriahkan puncak HUT ke-351 Kota Bandarlampung, banyak penyimpangan yang juga mengecam Tari Ngigel dipertontonkan bak joget orgen tunggal.
Sebelumnya, para penyimbang dan perwatin yang diminta Pemkot Bandatlampung memeriahkan Karnaval Budaya Tari Ngigel mengklarifikasi tak bermaksud melecehkan tarian tersebut bahkan sebaliknya sebagai kegiatan pelestarian budaya daerah.
"Karnaval Budaya Tari Ngigel bukan prosesi adat, namun merupakan acara gelar budaya sebagai bentuk pelestarian budaya Lampung di Kota Bandarlampung," Yakub, tokoh adat dari Anek Langkapura yang bergelar Radin Kepalo Migow.
Tujuannya, kata dia, masyarakat bisa lebih mengenal budaya Lampung dan menjadikannya sebagai edukasi bagi masyarakat Kota Bandarlampung yang heterogen. Kegiatan tersebut sudah koordinasi dengan para penyimbang dan perwatin se-Kota Bandarlampung. (HBM)
-