Helo Indonesia

Niat Mulia Tercoreng, Tari Ngigel Lampung Dilecehkan Bak Joget Organ Tunggal

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Senin, 4 Agustus 2025 21:13
    Bagikan  
NGIGEL
HELO LAMPUNG

NGIGEL - Tabuy Tari Ngigel ni di Tugu Adipura (Foto Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Niat penyelenggara untuk memuliakan warisan budaya Lampung justru tercoreng oleh ulah peserta yang melecehkan kesakralan tari adat dalam sebuah pawai budaya. Peristiwa ini terjadi di kawasan Tugu Adipura, Kota Bandarlampung, Minggu pagi (3/8/2025), dan menuai gelombang kecaman publik.

Pawai budaya yang bertajuk "Tari Ngigel" itu awalnya bertujuan memperkenalkan dan melestarikan salah satu tarian klasik Lampung yang sarat makna filosofi. Namun, niat luhur itu berubah menjadi tontonan yang dianggap merusak nilai budaya, ketika sejumlah peserta pria dan wanita yang berpakaian adat Lampung menari bersama secara bebas—tanpa memperhatikan pakem dan etika tarian tradisional.

Potongan video aksi tersebut diunggah ke laman Facebook milik tokoh Lampung, Asnawi, dan langsung viral. Dalam video itu tampak para penari menari secara berbaur dan bergoyang dalam formasi lingkaran, gerakannya menyerupai joget di acara organ tunggal. Tak pelak, kolom komentar pun dibanjiri kecaman dari masyarakat adat dan netizen yang menilai tarian itu telah dilecehkan.

undefined

Tari Ngigel: Simbol Keanggunan dan Kesopanan

Tari Ngigel merupakan tarian klasik khas Lampung yang menggambarkan kelembutan, kehalusan, dan keanggunan seorang perempuan mulia. Geraknya lembut, fokus pada bagian tangan dan bahu, disampaikan dengan ekspresi tenang dan sopan—melambangkan budi pekerti tinggi dalam adat Lampung. Tarian ini biasanya ditampilkan dalam prosesi adat penting, seperti penyambutan tamu agung atau upacara adat kerajaan.

Namun, dalam peristiwa pawai tersebut, gerakan khas Ngigel berubah total. "Pawai Budaya Tari Ngigel mirip seperti joget di organ tunggal," ujar Asnawi kecewa. Ia bahkan menyebutkan dalam bahasa Lampung: "Tabuy diguway ni Lampung, pakaian mirul kak joget-joget jama ragah-ragah, Tari Igol gegoh organan." (Artinya: Rusak sudah adat Lampung, perempuan joget-joget bersama pria, Tari Ngigel malah jadi seperti organ tunggal.)

Kecaman dari Tokoh Adat dan Budaya

Ketua Umum Laskar Lampung, Ir. Nerozelly Agung Putra, juga mengecam keras kejadian tersebut. Ia menilai, aksi para penari telah merusak nilai kesakralan budaya yang dijunjung tinggi dalam masyarakat Lampung.

"Tidak ada dalam adat kami joget-joget bersama, apalagi antara laki-laki dan perempuan. Ini bentuk pelecehan budaya. Bahkan lebih parah, mereka mengenakan pakaian adat Lampung tapi menari tak sesuai filosofinya," tegasnya.

Ia menambahkan, penggunaan pakaian adat tidak boleh sembarangan. Ada aturan, nilai, dan penghormatan tersendiri yang menyertai setiap elemen pakaian tersebut. "Kita harus sikapi kesesatan budaya ini. Jangan sampai anak cucu kita tidak tahu mana yang adat, mana yang joget pasar," katanya.

Ke Mana Para Penyimbang Adat?

Kritik tajam juga datang dari budayawan M. Izhar Yusuf. Ia mempertanyakan di mana peran para tokoh adat dan pemangku budaya dalam mengawasi kegiatan semacam ini.

"Tebumbang sai tuhow mak naway, sai sanak mak ngelulieh, jimow luah seagow-agow. Kedow kaban penyimbang adat tiyan sai di Bandarlampung?" (Artinya: Yang tua tidak mengajari, yang muda tidak bertanya. Akhirnya, semua berlaku semaunya. Ke mana para penyimbang adat di Kota Bandarlampung?)

Senada, Elnida Mauni, mengusulkan agar acara ini diberi sanksi adat. "Kak keno sepalo acara ijo," ujarnya. (Artinya: Acara ini seharusnya dikenai denda adat.)

Pelecehan terhadap bentuk-bentuk budaya tradisional tidak hanya merusak citra kesenian itu sendiri, tetapi juga mencederai identitas kolektif masyarakat. Tari Ngigel bukan sekadar tarian, ia adalah simbol kehormatan perempuan Lampung yang tak seharusnya dipertontonkan tanpa pemahaman makna dan etika. (HBM)

 -