Oleh Hendrik Ibrahim*
LANGKAH perdana Timnas Indonesia U-17 harus menerima pil pahit di ajang Piala Dunia U-17 2025. Skuad Garuda Muda yang tampil penuh semangat terpaksa mengakui keunggulan Timnas Zambia U-17 dengan skor 1-3 dalam laga Grup H yang berlangsung di Doha, Qatar, Asia Barat, Selasa (3/11/2025).
Meski kalah, permainan tim muda Indonesia tetap mendapat apresiasi karena menampilkan determinasi dan keberanian. Gol cepat Zahaby Gholy dimenit ke 12 sempat memberikan harapan lewat serangan cepat dan kelengahan lini pertahanan Zambia.
Namun keunggulan itu tak bertahan lama dan Zambia membalikan keadaan dan skor 1-3 bertahan hingga babak pertama. Memasuki babak kedua, Indonesia mencoba tampil lebih agresif. Pergantian pemain dan sejumlah perubahan strategi.
Beberapa kali, pesepak bola Indonesia menciptakan peluang emas, namun penyelesaian akhir yang kurang sempurna serta kokohnya pertahanan lawan membuat semua peluang gagal hingga wasit meniup pluit panjang babak kedua.
Atas kekalahan padaa laga pembuka Piala Dunia U-17, Indonesia harus segera berbenah dan mempersiapkan diri untuk laga berikutnya demi menjaga asa lolos dari fase grup. Performa Garuda Muda tetap memberikan sinyal positif bagi masa depan sepak bola Indonesia.
Struktur permainan terlihat lebih tertata, dan adaptasi terhadap tekanan pertandingan kelas dunia mulai terbentuk.
Fokus utama kini adalah memperbaiki transisi bertahan dan finishing jelang laga kedua kontra Brazil U-17, Jumat (7/11/2025) yang akan menjadi penentu langkah Timnas Garuda Muda Indonesia di turnamen ini.
Timnas Garuda Muda harus bisa melupakan hasil laga perdana dan hasil ini tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan semangat. Laga perdana ini menjadi ujian mental bagi skuad Garuda Muda.
Kekalahan 1-3 memang menyakitkan, namun semangat juang dan keberanian mereka membuktikan bahwa Indonesia tidak datang hanya untuk menjadi pelengkap.
Barangkali, akibat "demam panggung", para pemain Indonesia U-17 jadi gerogi, kurang gereget, dan berani. Hal itu terlihat dari akurasi passingnya masih kurang - sering salah pasing, jarak antar lininya terlalu jauh - kurang mau minta bola sama penyelesaian akhir yang kurang sempurna (ga ada predator di kotak penalti )
Dengan evaluasi yang tepat dan dukungan penuh dari federasi serta masyarakat, generasi muda ini bisa menjadi fondasi emas sepak bola Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang.
Tabik, salam olahraga
* Pengamat sepak bola nasional asal Lampung
-
