Oleh Hendrik Ibrahim*
THE GUARDIAN of Saburai sempat menunjukkan tajinya di kandang sendiri setelah berhasil menundukkan Serdadu Tridatu dengan skor tipis 2-1 pada laga pekan ke-12 Super League 2025 di Stadion Sumpah Pemuda, Jumat sore (7/11/2025).
Pada pertandingan tersebut, The Guardian of Saburai menunjukkan peningkatan signifikan dalam penguasaan bola dan variasi serangan. Kombinasi antara lini tengah dan sayap terlihat lebih cair dibanding pekan-pekan sebelumnya.
Namun, tim ini masih memiliki kelemahan pada sektor pertahanan. Koordinasi antarbek sering kali kurang sigap dalam mengantisipasi umpan silang. Hal ini terlihat saat gol penyama dari Serdadu Tridatu terjadi akibat kegagalan lini belakang menutup ruang.
Sementara itu, Serdadu Tridatu tampil cukup disiplin di babak pertama, namun kehilangan keseimbangan setelah kartu merah yang membuat pressing mereka menurun drastis. Minimnya rotasi pemain cadangan juga memperburuk situasi di lapangan.
Kelemahan dan Perbaikan
Kelemahan The Guardian of Saburai:
1. Transisi bertahan lambat ketika kehilangan bola di area tengah.
2. Kurangnya komunikasi lini belakang, terutama saat menghadapi bola udara.
3. Efektivitas finishing masih bisa ditingkatkan.
Perbaikan yang Diperlukan:
Pelatih Paul Munster perlu memperkuat koordinasi antara bek tengah dan fullback agar tidak mudah ditembus lewat crossing.
Latihan taktis untuk mempercepat transisi dari menyerang ke bertahan wajib dilakukan agar tidak kecolongan di serangan balik.
Penajaman penyelesaian akhir menjadi fokus penting jika ingin naik ke papan atas klasmen.
Kemenangan ini membuat The Guardian of Saburai berada di papan atas klasemen sementara, sedangkan Serdadu Tridatu harus puas di peringkat 10.
Jika mampu memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada, bukan hal yang mustahil Bhayangkara Presisi Lampung berpotensi ikut meramaikan persaingan papan atas dan menjadi pesaing serius dalam perebutan gelar musim ini.
Jalannya Pertandingan
Tuan rumah The Guardian sempat tampil agresif sejak kick-off. Dukungan penuh suporter “Sikambara” membuat anak asuh Coach Paul Munster bermain penuh percaya diri. Tekanan mereka berbuah hasil di menit ke-4 Dendy Sulistyawan melepaskan tendangan fist time usai menerima umpan Ryan Kurnia untuk menaklukkan kiper Mike Hauptmeijer.
Bhayangkara kembali membuat ketar ketir tamunya, menit ke-13 Ilja Spasojevic sempat merobek jala Serdadu Tridatu sayangnya pelanggaran sudah lebih dulu terjadi sehingga tidak merubah kedudukan dipapan skor dan bertahan hingga babak pertama selesai.
Memasuki babak kedua Bali United melakukan pergantian pemain dengan menarik keluar Brandon Wilson untuk digantikan Andhika Wijaya.
Effek positif perubahan ini berbuah hasil, melalui skema serangan cepat, mereka berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-60 lewat gol Andhika Wijaya melalui tendangan keras kaki kirinya.
Namun momentum berubah drastis di menit ke-82 Bali United harus bermain dengan 10 orang ketika Tim Receveur diganjar kartu merah dan dipaksa keluar lebih cepat oleh wasit lantaran menerima kartu kuning kedua. Bermain dengan 10 pemain membuat tim tamu kesulitan mengimbangi tempo tinggi lawan.
Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh The Guardian of Saburai. Unggul jumlah pemain Bhayangkara Presisi Lampung langsung menggandakan skor di menit ke-84 memanfaatkan sepak pojok, Slavko Damjanovic berhasil merobek jala Bali United melalui tandukan keras yang tak mampu dijangkau kiper lawan dan merubah skor 2 - 1 untuk keunggulan tuan rumah.
Tambahan waktu 5 menit diberikan sebagai injury time di akhir babak kedua tidak dapat dimaksimalkan Bali United untuk menyamakan kedudukan. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 2-1 tetap bertahan untuk keunggulan tuan rumah "The Guardian of Saburai" Bhayangkara Presisi Lampung.
Tabik, salam olahraga
* Pengamat sepak bola nasional asal Lampung
-
