Oleh Hariyadi, S.T.P, M.T
DAPUR Makan Siang Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Setelah berbagai insiden keracunan, isu lain yg tidak kalah mengkhawatirkan pencemaran lingkungan akibat air buangan hasil kegiatan dapur MBG ke saluran umum lingkungan akibat minimnya atau tidak ada pengolahan limbah.
Secara disiplin keilmuan teknologi pengelolaan lingkungan, limbah cair dapur MBG bisa dikategorikan sebagai air buangan kegiatan domestik / rumah tangga, yang umumnya memiliki kandungan zat-zat atau unsur-unsur yang tidak berbahaya seperti lazimnya limbah cair buangan kegiatan di sektor industri.
Baca juga: Gubernur Kecolongan, Sidak Dapur MBG, Ada yang Limbahnya Ganggu Lingkungan
Hanya saja, berhubung volumenya tidak bisa dianggap sedikit, ribuan porsi per harinya, air buangan pengolahan bahan-bahan makanan hingga pembersihan (muncuci / mengepel lantai, dll) limbahnya musti dikelola secara efektif, efisien dan berkesinambungan,
Ada pilihan metodologi ataupun teknologi tepat guna yang mampu menetralisir limbah cair buangan seaman mungkin ke lingkungan atau tidak berdampak negatif terhadap masyarakat namun juga tidak memberatkan secara finansial.
Biaya investasi awal maupun biaya operasional dan perawatan berkalanya sebenarnya bisa berjalan secara otonom atau tidak mengharuskan adanya personel tetap untuk melakukan pengawasan terus-menerus pengoperasiannya.
Karakteristik Limbah Cair Dapur MBG & Konsep Pengolahannya
Berikut adalah gambaran sekilas mengenai karakteristik limbah cair buangan domestik dan cara pengolahannya (IPAL - Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang paling sederhana namun dirasa cukup efektif dan efisien, juga praktis diaplikasikan pada usaha kegiatan restoran atau rumah makan, khususnya diperuntukkan utk skala dapur MBG.
Kandungan limbah cair buangan dapur MBG didominasi oleh bahan-bahan organik dari sisa-sisa pengolahan makanan ataupun sisa-sisa makanan yang terdapat pada peralatan makanan pada saat proses pencucian.
Kekuatan limbahnya umumnya diukur dengan parameter BOD / COD (Biological / Chemical Oxygen Demand) yang tinggi, Total Padatan Tersuspensi (TSS) minyak dan lemak, yang secara alami berasal dari karbohidrat, protein, vitamin.
Nilai kandungan untuk parameter BOD/COD yang diistilahkan "organic loading / beban organik" menurut dugaan penulis _- berdasarkan kajian literatur -_ berturut-turut antara 1.500-3.000 PPM (BOD) & 3.000-4.000 PPM(COD) dengan volume hidrolik berkisar 4-5 kubik per hari, serta sedikit zat-zat berupa unsur logam atau pengotor lainnya, seperti: unsur plastik halus, sisa kotoran tanah, pasir dll yg bisa dipisahkan secara fisik melalui penyaringan dan sedimentasi / gravitasi pada tahapan awal (Pre-treatment).
Prinsip Pengolahan
Dengan meninjau karakteristik limbah cair buangan dapur MBG yg mayoritas adalah unsur-unsur organik yg mudah diuraikan di alam maka pilihan pengolahan limbah yang tepat adalah berbasis pengolahan secara biologis (biological treatment).
Dalam hal ini, dengah beberapa alternatif pilihan yang ada, secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok ditinjau dari kebutuhan oksigen, yakni: secara anaerob (minim oksigen) dan aerob (dibantu oksigen), atau kombinasi keduanya (fakultatif).
Dengan berbagai macam jenis reaktor pengolahan baik sistem kontak (berupa biofilm - limbah berkontak dgn mikroba pengurai), sistem semi terendam, misal (RBC-Rotating Biological Contactor / drum berputar dimana siklus terendam dan kontak antara limbah dan mikroba terjadi bergantian sembari drum berputar).
Atau sistem full terendam sistem sub-merge / semi tenggelam (activated sludge / lumpur aktif dimana limbah disupai terus-menerus ke dalam kolam berisi mikroba pengurai).
Namun perlu diingat bahwa pengolahan secara biologis itu sendiri tidak optimal jika berdiri sendiri, melainkan sering dikombinasikan dengan cara pengolahan lainnya yakni secara fisika (filtrasi/screening & sedimentasi, dll) baik diletakkan di bagian hulu - Pre-treatment dan/atau hilirnya - Post-trestment.
Atau, istilah lain, proses primer dan tersier, dimana proses secara biologis sendiri dikenal dengan istilah proses sekunder.
Teknologi Tepat Guna
Sudah banyak tersedia teknologi pengolahan limbah air buangan dari usaha rumah makan / restoran dan sejenisnya, namun umumnya butuh investasi yg lumayan mahal utk ukuran dapur MBG. Produknya biasanya sudah paket teknologi paten plug and play atau ready to use dan tersedia berbagai pilihan di pasar dgn berbagai kapasitas sesuai kebutuhan.
Lalu bagaimana mensiasatinya khusus utk penggunaan di dapur MBG dgn skala keekenomian yg tidak sebesar itu? Tidak ada cara lain, musti dilakukan dgn cara scale down dan tailor made menyesuaikan kebutuhan l.
Penulis coba memberikan solusi berupa "teknologi rakitan" yakni mengadopsi prinsip-prinsip yg sama pengolahan limbah air buangan seperti di restoran tetapi dengan di " custom / tailor made / dibuat mandiri".
Caranya dengan menggunakan material dan bahan yang tersedia dilokal dengan harga relatif murah dan cara instalasi yang sepraktis mungkin, tapi juga sama mampu bertahan lama > 5 tahun dan memberikan kinerja sesuai peraturan yg ada.
Ada beberapa asumsi yg penulis ajukan yg mendasari usulan disain Teknologi tepat guna IPAL(Instalasi Pengolahan Air Limbah) MBG, yakni:
1. Volume limbah / hidraulic loading adalah 2-3 M3 / hari atau 0,125 atau 0,3 M3 / jam.
- Kekuatan atau kadar bahan organik (BOD / COD) berturut-turut adalah 1.500-3.000 PPM dan 3.000-6.000 PPM.
2. Efisiensi pengolahan IPAL secara keseluruhan adalah minimal 95%, dimana target air effluent / air buangan setelah melewati proses sekunder khusus BOD/COD adalah masing-masing di bawah 50 PPM dan 100 PPM.
Selanjutnya, dilewatkan lagi dalam tahap post-trestment / polishing menggunakan media filtrasi (kombinasi pasir, ijuk dan arang dalam suatu wadah bak) sehingga kadar bisa diturunkan lagi hingga di bawah ketentuan baku mutu.
Ada 3 (tiga) tahap pengolahan umum yg utama dilakukan utk mengolah limbah air buangan domestik termasuk dari dapur MBG, yakni sbb:
1. Tahap pre-treatment (tahap pengolahan primer), yakni penyaringan/ filtrasi utk memisahkan limbah air buangan dari kotoran yg berukuran besar sebelum memasuki Tanki penyimpanan limbah kapasitas 4-5 M3.
Biasanya menggunakan screen bar / saringan pagar besi berjarak 2,5 - 5 mm atau bisa juga berupa wire mesh / saringan kawat dgn diameter yg sama. Termasuk juga di tahap ini, pemasangan instalasi greasetrap untuk menangkap minyak dan lemak dari limbah cair dan diolah terpisah.
2. Tahap Pengolahan Sekunder awal, menggunakan prinsip reaktor anaerob yg menggunakan media lumpur berisi koloni bakteri anaerob utk menguraikan limbah. Berhubung waktu tinggal yg lebih lama utk mampu mengurai bahan organik limbah cair maka biasanya ukuran reaktor 2x reaktor aerob (misal berupa Tanki vertikal 1 kubik - bisa menggunakan tanki toren air merek penguin dan sejenisnya yang telah dimodifikasi dgn diberikan beberapa penyekat / buffle) dan tankinya dilengkapi dengan banyak penyekat.
Apabila prosesnya berjalan optimal maka efisiensinya bisa mencapai 60-70% atau BOD/COD keluaran hanya tersisa 1.500 s.d 2.000 PPM. Keluaran dari tanki anaerob selanjutnya ditransfer (bisa secara gravitasi apapun menggunakan pompa) ke reaktor sekunder kedua yakni reaktor aerob atau fakultatif, berupa Tanki berukuran 0,6 - 0,7 kubik yg bentuknya agak dangkal atau horizontal dgn penetrasi oksigen sebanyak mungkin (Biasanya secara mekanis dgn bantuan blower ataupun aerator), secara teoritis tingkat penguraian secara optimal adalah 90-95%, dgn nilai BOD/COD berturut-turut<150 dan 200 PPM.
3. Tahap pengolahan akhir atau Tersier (Polishing / Pre-treatment), dimana air keluaran dari pengolahan sekunder (awal dan akhir) diolah lebih lanjut secara fisika dan kimiawi, yakni dengan metode filtrasi / penyaringan dalam 1 bak berisi berbagai campuran media, misal: kombinasi pasir (kasar dan halus), filter (busa / sponge / fiber / jaring nelayan bekas / sabut kelapa, dll)
Langkah terakhir menambahkan bahan kimia yaitu: flokulan dan koagulan, juga disinfektan - agar limbah cair yg telah diolah yg disebut effluen sudah aman dibuang ke lingkungan setempat - baik masuk saluran umum milik warga ataupun dibuang ke badan air (sungai, danau, laut) terdekat.
Kesimpulan, Saran dan Catatan:
- Sudah waktunya pengelola dapur MBG bertindak lebih pro-aktif utk membenahi sistem pengolahan limbah cair yg dihasilkan agar tidak makin mencoreng reputasi program pemerintah MBG yg sangat bermanfaat atau membantu masyarakat, utamanya para pelajar yg kelak menjadi generasi emas Indonesia.
- Tersedia teknologi yg sudah paten di pasar utk memperoleh solusi pengolahan limbah dapur BGN, namun kalau pun dirasa mahal maka tetap ada solusi teknologi tepat guna yg "tailor Made / Custom" namun tetap menyaingi produk di pasaran dari segi kinerjanya namun dgn harga lebih terjangkau.
- Material Tanki-tanki reaktor pengolahan limbah cair juga bisa menggunakan material beton pra-cetak kedap air yg lebih tahan lama dan relatif, walaupun mungkin lebih sulit pengaplikasiannya dikarenakan faktor beratnya dibandingkan Tanki berbahan dasar plastik. Pilihan kembali kepada masing-masing pengelola dapur BGN.
* Konsultan, Alumnus S-2 Teknik Lingkungan ITB.
-