Penulis: Prof. Dr. Nairobi
Guru Besar dalam bidang Ekonomi Publik dan Dekan FEB Unila)
HARI Raya Idul Adha menghadirkan ibadah kurban setiap tahun. Umat Islam melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan agama. Masyarakat membeli hewan kurban dari peternak, pedagang, atau lembaga pengelola kurban. Kegiatan itu menggerakkan proses ekonomi dari desa sampai kota.
Skala kurban nasional menunjukkan besarnya perputaran ekonomi tersebut. Kementerian Agama mencatat realisasi hewan kurban 2025 sebanyak 1.856.962 ekor. Data itu terdiri atas 627.130 ekor sapi dan kerbau serta 1.229.832 ekor kambing dan domba. Angka itu menegaskan bahwa kurban merupakan kegiatan ekonomi tahunan yang besar, teratur, dan dapat dipersiapkan.
Peternak membesarkan sapi, kambing, dan domba beberapa bulan sebelum hari raya. Mereka menyediakan pakan, obat, tenaga kerja, dan kandang selama masa pemeliharaan. Pedagang menyalurkan ternak dari sentra produksi ke pasar kurban. Panitia lalu memilih, membeli, dan menyiapkan hewan untuk pemotongan.
Rangkaian tersebut membentuk satu siklus ekonomi tahunan yang berulang. Kurban memberi manfaat ekonomi pada sektor hulu peternakan. Peternak memperoleh pendapatan dari penjualan ternak. Pekerja kandang menerima upah dari kegiatan pemeliharaan. Penjual pakan mendapatkan tambahan permintaan dari proses penggemukan ternak.
Tenaga kesehatan hewan memperoleh pekerjaan dari pemeriksaan dan pengawasan hewan kurban.
Kegiatan itu menghidupkan ekonomi pedesaan. Uang dari pembeli di perkotaan mengalir ke daerah sentra ternak. Peternak membelanjakan hasil usahanya untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha berikutnya. Warung, toko pakan, dan penyedia jasa lokal ikut merasakan perputaran uang tersebut.
Kurban dengan demikian menjadi sumber permintaan yang penting bagi peternakan rakyat. Kurban juga membuka manfaat ekonomi pada sektor hilir. Jagal menyembelih hewan di lokasi pelaksanaan. Panitia mengatur pemotongan, penimbangan, dan pembagian daging. Relawan membantu pengemasan dan distribusi kepada warga. Pedagang perlengkapan menjual pisau, tali, terpal, kantong, dan kebutuhan teknis lain.
Proses itu menciptakan pekerjaan harian bagi banyak orang. Warga memperoleh penghasilan tambahan sebagai jagal, pengangkut, atau tenaga kebersihan. Warung makan dan pedagang kecil mendapatkan tambahan pembeli di sekitar lokasi kurban. Lingkungan sekitar menikmati perputaran uang dalam waktu singkat tetapi cukup padat. Kurban karena itu tidak berhenti pada ibadah, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi nyata.
Distribusi daging kurban membawa manfaat langsung bagi kelompok penerima. Panitia membagikan daging kepada keluarga miskin, pekerja informal, tetangga, dan kelompok rentan lainnya. Rumah tangga penerima memperoleh tambahan konsumsi protein hewani tanpa harus membeli. Pembagian itu membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan, meskipun dalam waktu terbatas.
Kegiatan ini juga memperkuat hubungan sosial. Warga menyaksikan proses kurban secara bersama-sama. Mereka ikut membantu pembagian dan menjaga keteraturan pelaksanaan. Lingkungan merasakan semangat gotong royong yang lebih kuat. Nilai ekonomi dan nilai sosial bertemu dalam satu kegiatan yang sama.
Manfaat ekonomi kurban belum selalu dinikmati secara seimbang oleh peternak pembesar. Banyak peternak kecil masih menghadapi keterbatasan modal, mahalnya pakan, dan lemahnya akses pasar. Mereka sering menjual ternak melalui rantai perantara yang panjang. Keadaan itu mengurangi keuntungan yang seharusnya mereka terima.
Waktu pembelian yang terkonsentrasi menjelang hari raya juga menambah tekanan. Peternak sulit merencanakan pembesaran ternak jika mereka tidak memiliki kepastian pasar sejak awal. Mereka menanggung biaya produksi dalam waktu lama, tetapi mereka tidak selalu menguasai harga pada saat penjualan. Pola ini membuat sebagian nilai tambah kurban berpindah ke tangan perantara.
Pemerintah perlu memandang kurban sebagai peluang ekonomi tahunan yang strategis. Pemerintah dapat menyusun program pembesaran ternak yang mengikuti kalender Iduladha. Dinas peternakan dapat memetakan kebutuhan hewan kurban berdasarkan wilayah. Data itu dapat membantu peternak menyusun rencana produksi dengan lebih baik. Pemerintah juga perlu memberi dukungan langsung kepada peternak pembesar. Pemerintah dapat menyalurkan subsidi pakan pada masa penggemukan.
Pemerintah dapat menyediakan pembiayaan murah melalui koperasi dan lembaga keuangan syariah. Pemerintah dapat memperluas layanan kesehatan hewan dan pendampingan teknis. Dukungan itu akan menurunkan beban biaya dan meningkatkan kualitas ternak.
Lembaga lain juga dapat mengambil peran yang saling melengkapi. Masjid, BAZNAS, koperasi, dan panitia kurban dapat membuat kontrak pembelian lebih awal dengan kelompok peternak. Perguruan tinggi dapat memberi pendampingan manajemen usaha dan pemasaran. Pemerintah daerah dapat menghubungkan semua pelaku tersebut dalam satu ekosistem kurban yang lebih tertata. Kerja sama itu akan memperpendek rantai pasok dan memperkuat posisi tawar peternak.
Kurban menghadirkan peluang ekonomi yang besar, pasti berulang, dan tersebar luas di tengah masyarakat. Peluang itu seharusnya tidak berhenti pada transaksi musiman, tetapi berkembang menjadi instrumen penguatan ekonomi rakyat. Pemerintah perlu hadir melalui kebijakan yang memberi ruang lebih besar kepada peternak pembesar sebagai pelaku utama di sektor hulu.
Bantuan dan subsidi kepada peternak pembesar menjadi langkah yang penting dan masuk akal.
Subsidi pakan dapat menurunkan biaya produksi. Bantuan modal dapat memperluas skala usaha. Layanan kesehatan hewan dapat menjaga kualitas ternak. Kontrak pembelian yang difasilitasi pemerintah dapat memberi kepastian pasar bagi peternak. Melalui langkah-langkah itu, manfaat ekonomi kurban akan lebih banyak dinikmati oleh masyarakat produsen, bukan hanya oleh pelaku perdagangan di tengah rantai distribusi. ***