Helo Indonesia

Catatan Perjalanan Kawasan TN Sebangau (2): Kaki Selalu Bersih Kalau Jalan Diiringi `Musik`

Satwiko Rumekso - Ragam -> Traveling
Minggu, 8 Desember 2024 14:23
    Bagikan  
Sungai dan Hutan
Gandhi Wasono

Sungai dan Hutan - Suasana desa Karuing yang diapit dua bentang alam, hutan dan sungai Katingan.

HELOINDONESIA.COM - Baru-baru ini Gandhi Wasono, menjelajah dua pekan di kawasan hutan Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah berikut laporannya:

Bagi orang penyuka travelling terutama yang gemar menjelajah daerah baru atau hobi foto dengan obyek alam liar hampir pasti Karuing dengan lingkungan alamnya menjadi salah satu tempat yang sangat menarik untuk disinggahi.

Di sepanjang tepian sungai sejak dari desa Karuing hingga Desa Pagatan yang paling ujung menghadap laut Jawa yang berjarak ratusan kilometer terdapat puluhan desa.

Kayu Ulin

Antar satu desa dengan desa lain tidak ada jalan darat semua melalui jalur air. Jarak antar desa juga bervariasi, ada yang cukup 30 menit dengan menggunakan ces tapi ada yang memerlukan waktu 1,5 jam lamanya untuk bisa sampai tujuan. 


Sedang dari Karuing ke arah hulu atau orang menyebut daerah atas yang masuk wilayah Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya jaraknya ratusan kilometer pula. Di sepanjang aliran sungai terdapat desa-desa yang dihuni oleh suku Dayak.

Yang menarik masing-masing suku memiliki perbedaan adat istiadat, kepercayaan, agama dan bahasa. Masyarakat Dayak, ada yang menganut kepercayaan asli yakni Kaharingan, Kristen juga Islam.

Bahkan soal bahasa daerah suku Dayak memiliki ragam bahasa yang sangat banyak. Dimana antar suku yang tinggal di satu kampung berbeda sama sekali dengan kampung lainnya.            

Desa Karuing sendiri dihuni 184 KK terdiri dari 560 jiwa dan masuk golongan suku Dayak Katingan yang mayoritas beragama Islam. Karena lokasi desa berhimpitan dengan kawasan hutan sehingga udaranya bersih segar ditambah di desa ini tidak ada kendaraan bermotor hanya sesekali sepeda onthel melintas. 

Jalan utama desa dari ujung ke ujung sepanjang 1.340 meter terbuat dari kayu ulin selebar 1.5 meter. Jadi ketika berjalan diatasnya ada “musik” alias suara glodakan yang mengiringi sepanjang perjalanan. Jalan desa tersebut diapit oleh deretan rumah penduduk. 

Satu deret rumah warga membelakangi sungai dan satu deret lainnya membelakangi hutan desa. Karena lembab dan semua bangunan berada diatas panggung sehingga desa ini nyaris tidak berdebu. Selama dua pekan saya di Karuing kalau jalan-jalan keluar rumah sering nyeker karena kaki selalu bersih karena kaki tidak menyentuh tanah.  


Karena tidak ada saluran listrik PLN masing-masing rumah menggunakan panel surya tapi sumber daya hanya mampu untuk lampu dengan wat rendah dengan waktu terbatas.

Sekolah

Sebagian warga memiliki diesel pembangkit listrik selain untuk tambahan penerangan juga untuk ngecas handphone. Pun demikian saluran seluler juga tergantung dengan cuaca. Kalau pas terik matahari BTS seluler bisa bekerja seharian tetapi kalau hujan atau mendung jangan kaget handphone tiba-tiba mati karena pasokan listrik dari panel surya berhenti.

Fasilitas pendidikan di desa tersebut terdapat sekolah TK, SD dan SMP. Jika selepas SMP ingin melanjutkan ke SMA maka siswa harus ke Kasongan, ibukota Kabupaten Katingan atau ke Palangkaraya, ibukota propinsi.

“Kalau ingin melanjutkan SMA harus kos di luar daerah. Itulah salah satu penyebab anak Karuing sebagian besar hanya tamatan SMP karena orangtua nya tidak mampu menyekolahkan keluar desa,” kata Jeki warga setempat yang mendampingi kemanapun kami pergi.(Bersambung)