Oleh Gino Vanollie*
Fenomena Bima, seorang tiktoker asal Lampung yang telah berhasil mengoncang publik daerahnya bahkan nasional menyingkap banyak hal yang selama ini secara tersamar menjadi gunjingan publik.
Kritik Bima terhadap Lampung yang tak maju-maju bak bola salju, menggelinding, melakbrak dan menyasar banyak persoalan. Suasana terasa gaduh dan liar.
Semoga Lebaran Idul Fitri 1444 H dapat meredakan dan membuat suasana kembali teduh. Semua kita, para pihak yang terlibat atau melibatkan diri, dapat berfikir lebih jernih dan tenang untuk membangun kesadaran kolektif sehingga dapat menemukan solusi konkrit atas persoalan yang muncul.
Kritik Bima harus jadi momentum terbaik untuk kita bangkit, membangun Lampung secara lebih solid. Terbangun komunikasi dan dialog yang konstruktif antarstakeholder secara lebih inten dan produktif. Terbangun iklim dialog yang lebih sepadan, dan terbukanya ruang partisipasi bagi semua, serta secara tegas meninggalkan model dialog yang searah, formalistik, kaku dan minim makna.
Problem kita selama ini karena kita gagal membangun dialog yang konstruktif, akibatnya potensi besar yang dimiliki Lampung tidak mampu dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal bagi kemajuan daerah. Seolah keunggulan dan potensi yang ada tak memberi intensif apapun bagi pembangunan. Yang terjadi justru begitu banyak persoalan terus melaju tanpa solusi konkrit.
Para pihak cenderung asyik sendiri. Kalaulah terlihat bersama, tidak lebih dari sekedar seremonial dan gimmik belaka.
Kegalauan, rasa risau dan prihatin akan kondisi ini, begitu terasa dan mengemuka dalam setiap perbincangannya warganet. Dalam beragam perspektif publik, tema "Alasan Kenapa Lampung Gak Maju Maju?" masih menjadi topik dan bahasan utama.
Bahwa Lampung memiliki keunggulan dan potensi besar, itu adalah fakta. Selain sebagai pintu gerbang pulau Sumatera dan penyangga Ibukota, provinsi ini juga diberkahi begitu banyak potensi sumber daya alam dan SDM unggul yang berlimpah.
Setidaknya kita memiliki 4 menteri yang punya kedekatan dengan Lampung di pemerintahan Jokowi-Makruf Amiin, yaitu Sri Mulyani (Menteri Keuangan), Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Menteri KLH Siti Nurbaya, dan Menteri BUMN Erick Tohir.
Ada 20 orang anggota DPR RI, 4 anggota DPD RI, 85 anggota DPRD provinsi, ratusan anggota DPRD kabupaten/kota, memiliki ratusan profesor dan doktor serta intelektual hebat yang bertebaran di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Tetapi tentang bagaimana peran dan fungsi mereka semua, rasanya belum terlalu terasa dan bermakna. Publik punya penilaiannya sendiri bahkan hari ini membandingkan peran mereka dengan Bima seorang diri.
Namun bahwa Infrastruktur jalan, pendidikan dan juga pertanian masih begitu banyak persoalan adalah realitas yang juga tak terbantahkan. Dengan alasan keterbatasan anggaran maka pemeliharaan jalan cenderung lambat, satu ruas diperbaiki, ruas lain rusak lagi, begitu seterusnya.
Begitu juga di bidang pendidikan, nampak belum ada terobosan baru sehingga mampu memberikan lompatan kemajuan, sehingga sumbangsih sektor pendidikan terhadap Indek Pembangunan Manusia (IPM) belum maksimal.
Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas provinsi Lampung adalah 8,61 tahun, di bawah rata rata nasional 8,69 dan menempatkan Lampung pada di posisi 26 dari 34 provinsi di Indonesia (BPS, 2022). IPM Lampung sebesar 70,45 menempatkan Lampung pada posisi terendah di Sumatera, posisi yang sudah hampir dua dekade (20 tahun) praktis tidak berubah.
Di bidang pertanian, dengan program Petani Berjaya, memang ada progres kebermajuan, tapi masih sangat sektoral, belum secara komprehensif mampu membangun pertanian yang maju dan kompetitif.
Hilirisasi produk pertanian yang diyakini mampu memberi nilai tambah, memberi tambahan devisa bagi daerah dan membuka peluang kerja yang lebih banyak, masih minim realisasi, lebih banyak berhenti pada tataran perencanaan dan wacana.
Petani singkong, karet dan juga sawit belum beranjak dari persoalan mendasarnya, harga yang serba tidak menentu. Sebagai ikon, lada lebih tragis lagi nasibnya. Penyakit mati bujang makin membuatnya langka, tanpa petani tau bagaimana cara mengatasinya.
Belum lagi persoalan pupuk, yang selalu saja hilang saat dibutuhkan, sehingga makin memperbesar penderitaan petani kita karena harus membeli pupuk yang mahal dan rawan palsu.
Melihat kondisi tersebut, dimana peran dan tanggung jawab para pihak dalam pusaran persoalan ini? Petani kita yang sudah lemah dan tak berdaulat ini, justru harus mencari solusi dengan caranya sendiri.
Terkait fenomena ?begal", yang hingga hari ini menjadi problem image dan stigma buruk bagi Lampung. Apa solusi konkrit yang bisa di tawarkan oleh para pihak, nyaris tidak ada. Ketika terjadi konflik tanah yang makin mengeras dan meluas, ketika tindak kekerasan makin sering terjadi, tawuran antarpelajar dan antargeng motor yang makin mengkhawatirkan, dimana peran lembaga masyarakat adat, dimana para sosiolog, para begawan, budayawan dan kaum intelektual, nyaris tidak terdengar. Semuanya terkesan abai dan tak peduli.
Khusus pada kasus begal, Kapolda Lampung telah melakukan langkah dan terobosan baru, yaitu dengan memberikan perhatian dan perlakuan khusus kepada putra putri terbaik dari daerah yang dicitrakan sebagai asal para Begal, untuk masuk polisi.
Sejalan dengan langkah Polda Lampung, Unila juga memberikan perhatian khusus melalui program jalur khusus untuk putra putri terbaik dari daerah daerah yang rawan begal ini untuk bisa masuk Unila.
Dengan terobosan ini diharapkan mampu memberi solusi dengan terbangunnya rasa saling percaya, terbangun komunikasi dan dialog yang lebih produktif dengan masyarakat. Sungguh satu langkah maju, berani dan cerdas, layak untuk kita beri apresiasi tinggi.
Namun demikian, langkah Polda Lampung dan Unila tentu tidak bisa jalan sendiri, perlu dukungan dan kerjasama dari stakeholder lain sehingga mampu menyelesaikan persoalan yang ada secara tuntas dan menyeluruh.
Model pendekatan solutif yang dilakukan pada fenomena Begal perlu terus dievaluasi dan dimantapkan, untuk bisa menjadi inspirasi dan dikapitalisasi dalam penyelesaian persoalan lainnya.
Oleh karena itu, koordinasi, komunikasi dan kolaborasi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota, antara pemerintah daerah dengan entitas entitas di luar pemerintahan harus benar benar produktif dan bermakna.
Para pihak sadar dan bertanggung jawab pada peran dan fungsinya masing masing, sehingga tidak terjebak dalam model kolaborasi yang formalistik, kolutif, atau salah satu pihak justru menghegemoni pihak lainnya.
Ari AP (penggiat budaya) menyatakan bahwa salah satu faktor yang membuat Lampung sulit maju sebagaimana yang kita harapkan adalah karena para pihak yang berkompeten telah mengkhianati peran dan tanggung jawabnya masing masing. Berkhianat karena tidak pernah menawarkan sesuatu yang solutif bagi persoalan yang ada. Secara formil ada, tapi secara substansial tak berasa, sebuah peran yang absurd. Tidak jarang justru berselingkuh. Seolah terlibat dalam banyak hal, tetapi sejatinya tak lebih dari proyek semata.
Hasilnya, Lampung dalam banyak hal masih tertinggal dari provinsi yang lain. Tentu, kita mengapreasi atas capaian-capaian dan penghargaan yang diperoleh provinsi Lampung dalam berbagai bidang. Tetapi apakah semua itu mampu mengangkat Lampung keluar dari persoalan-persoalan mendasar yang ada, rasanya belum dan masih jauh dari harapan.
Dengan demikian, menjadi hal yang penting dan strategis untuk kita berani keluar dari kemapanan semu dan situasi problematik ini. Kita harus mulai membangun budaya yang lebih kompetitif, produktif dah berkarakter secara bersama sama untuk kemajuan Lampung.
Untuk itu, ke depan rasanya kita mesti berani melakukan redifinisi dan reorientasi dalam banyak hal, dalam proses membangun daerah ini. Baik itu yang berkaitan dengan tradisi, adat istiadat, seni, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta hal-hal strategis lainnya.
Sekali lagi, tentu Kejayaan Lampung tidak mungkin bisa dicapai tanpa adanya kemauan yang kuat, ide dan gagasan yang brilian dari para pihak. Memajukan Lampung tidak cukup dengan cara yang biasa biasa saja, tapi mesti dengan langkah yang berani, progresif dan luar biasa. Kita optimis, Lampung Maju bisa. Semoga !
* Pengamat pendidikan
