Lada Hitam Kembali Berjaya di Tanah Lado Kampung Sinarjawa, Tanggamus

Sabtu, 13 September 2025 16:08
Petani lada senyum bahagia seiring melonjaknya harga lada hitam di tingkat petani (Foto Helo) HELO LAMPUNG

TANGGAMUS, HELOINDONESIA.COM  ---Matahari yang bersinar terik di Pekon Sinarjawa, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, kali ini bukan sekadar cuaca cerah biasa. Bagi para petani lada hitam, panas matahari justru membawa senyum lebar. Hasil panen yang sedang dijemur kering sempurna melonjak hingga Rp100 ribu per kilogram dalam beberapa hari terakhir.

Hendro Prastowo, salah satu petani setempat, tampak bersemangat saat menunjukkan biji lada hitam yang sudah kering. “Kami gembira sekali. Sudah lama tidak merasakan harga sampai seratus ribu per kilo. Panen kami terjual semua dengan harga bagus,” ujarnya sambil tersenyum puas.

Tantangan Panen di Tengah Cuaca

Namun, kebahagiaan itu tak selalu datang mudah. Menurut Mardiono (48), petani lainnya, proses pengeringan pascapanen sering menjadi tantangan besar. “Kalau musim hujan, kami sangat kesulitan. Lada harus benar-benar kering sebelum dijual. Tanpa terik matahari, kualitasnya bisa turun,” tuturnya.

Matahari memang menjadi sekutu penting para petani. Dengan cuaca cerah beberapa hari terakhir, proses penjemuran berjalan lancar. Hasilnya, kadar air berkurang, biji lebih ringan, dan kualitas panen terjaga.

Harga Komoditas Melambung

Tak hanya lada hitam, sejumlah komoditas lain juga ikut terdongkrak. Bos Yanto Tekad, salah satu pengepul di Air Naningan, menyebut kualitas panen sangat menentukan harga jual. “Sekarang lada hitam di angka Rp100 ribu per kilo. Kalau kopi robusta super, harganya Rp61 ribu per kilo. Panen bersih dan kering bisa laku lebih cepat di pasaran,” ungkapnya.

Kenaikan harga ini kontras dengan kondisi setahun lalu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat, pada periode 2024 harga lada hitam hanya berkisar Rp65–70 ribu per kilogram. Artinya, tahun ini petani bisa menikmati kenaikan lebih dari 40 persen.

Lampung, Sentra Lada Nusantara

Lada memang bukan sekadar komoditas biasa bagi masyarakat Lampung. Provinsi ini dikenal sebagai salah satu sentra lada terbesar di Indonesia, bersama Bangka Belitung dan Kalimantan Barat. Dari total produksi lada nasional yang pada 2024 mencapai sekitar 120 ribu ton, Lampung menyumbang lebih dari 15 persen.

Wilayah Tanggamus, Lampung Timur, dan Lampung Utara menjadi kantong utama penghasil lada hitam. Produk lada asal Lampung bahkan banyak diekspor ke pasar internasional, terutama ke Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah.

Tak heran jika perubahan harga lada selalu berdampak langsung pada kehidupan ribuan keluarga petani di daerah ini.

Ekspor Lada Lampung ke Pasar Dunia

Kiprah lada Lampung tidak berhenti di pasar domestik. Tahun 2022, Lampung mengekspor sekitar 13.898 ton lada biji dengan nilai mencapai Rp7,68 triliun dalam 611 kali pengiriman. Pada awal 2023, Lampung kembali melepas ekspor perdana 100 ton lada hitam ke China. Untuk lada bubuk, Lampung mencatat ekspor sekitar 9,3 ton dengan nilai Rp643 juta.

Secara global, Indonesia menempatkan diri sebagai salah satu eksportir lada terbesar. Vietnam masih menjadi pembeli utama dengan volume sekitar 8.285 ton atau 21,95% dari total ekspor lada Indonesia pada 2021, disusul India (14,03%), lalu Amerika Serikat, China, Belanda, dan Jerman. Lada asal Lampung turut berkontribusi pada rantai ekspor ini.

Harapan Petani

Bagi para petani Sinarjawa, harga tinggi ini diharapkan bisa bertahan lama. “Kalau harga stabil di atas Rp90 ribu, kami bisa lebih tenang. Bisa buat sekolah anak, modal menanam lagi, dan memperbaiki kebun,” kata Hendro.

Di tengah berbagai tantangan pertanian, dari cuaca tak menentu hingga biaya pupuk yang kian mahal, melonjaknya harga lada hitam setidaknya menjadi angin segar. Senyum para petani di Sinarjawa hari itu membuktikan, kerja keras di kebun masih bisa membawa harapan yang manis. (Irwan)


 - 

Berita Terkini