Helo Indonesia

Tiga Bank Dunia Tarik Dana Rp11 Triliun dari Indonesia, Ini Alasannya

Satwiko Rumekso - Ekonomi
1 jam 19 menit lalu
    Bagikan  
Economic Association (IEA), Lili Yan Ing
@liliyaning

Economic Association (IEA), Lili Yan Ing - Lili Yan Ing sebut 3 Bank Asing Cabut dari Indonesia

HELOINDONESIA.COM -Kabar mengenai tiga bank internasional yang menarik aliran dana dari Indonesia menjadi sorotan publik. Sekretaris Jenderal International Economic Association (IEA), Lili Yan Ing, menegaskan bahwa langkah tersebut tidak dapat diartikan sebagai ketiga bank itu meninggalkan Indonesia, melainkan bagian dari perubahan strategi bisnis pada tingkat global.

Penjelasan itu disampaikan Lili melalui unggahan di akun TikTok pribadinya. Dalam video tersebut, ia mengulas fenomena capital outflow yang dilakukan sejumlah bank asing sekaligus menjelaskan faktor di balik keputusan tersebut.

Baca juga: 79 Tahun Pahlawan TRIP, Khofifah : Senjata Generasi Muda Kini IT dan Ilmu Pengetahuan

Lili menyebut ada tiga bank besar dunia yang menarik aliran dana keluar dari Indonesia, yakni Standard Chartered, Citibank, dan HSBC. Nilai dana yang ditarik diperkirakan mencapai 640 juta dolar AS atau sekitar Rp11,5 triliun.

Menurut Lili, alasan utama pengalihan dana tersebut adalah perubahan fokus bisnis dari retail consumer banking menuju wealth management di tingkat global.

“Standard Chartered menjual usaha retail consumer kepada Bank Danamon, Citibank menjual retail consumer kepada UOB, dan HSBC menjual retail consumer kepada OCBC,” jelas Lili.

Ia menilai langkah tersebut memiliki sisi positif bagi perkembangan sektor perbankan di kawasan Asia. Pengalihan bisnis dari bank-bank global kepada bank domestik dan regional menunjukkan adanya penguatan peran bank lokal dalam melayani pasar konsumen.

“Dari sisi positifnya adalah bila kita lihat ada pengalihan dari perbankan besar dunia dialihkan kepada bank-bank domestik dan bank regional. Dan ini sebetulnya adalah indikasi yang baik bagi perkembangan bank domestik dan bank regional di Asia,” ujarnya.

Namun, Lili juga menyoroti sisi negatif dari fenomena tersebut. Menurutnya, bank-bank besar dunia tidak lagi melihat prospek ekspansi yang cukup menarik untuk bisnis consumer retail mereka di Indonesia.

Penilaian itu, kata dia, berkaitan dengan kondisi perekonomian nasional yang sedang menghadapi tekanan pada kelas menengah dan daya beli masyarakat.

“Ini sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami penurunan middle income class serta penurunan daya beli masyarakat,” ungkap Lili.

Karena itu, bank-bank tersebut memilih mengalihkan fokus bisnisnya kembali ke pasar global dengan menitikberatkan pada layanan pengelolaan kekayaan atau wealth management yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan strategi bank-bank internasional tidak semata-mata mencerminkan penurunan kepercayaan terhadap Indonesia, tetapi juga merupakan bagian dari penyesuaian model bisnis global di tengah perubahan struktur pasar dan perilaku konsumen.***(AdiG)