Helo Indonesia

Anak Muda Kreatif Jakarta Pameran 4 Dekade Anshori Djausal di Contemporary Art Gallery

Herman Batin Mangku - Ragam
1 jam 45 menit lalu
    Bagikan  
ANSHORI DJAUSAL
HELO LAMPUNG

ANSHORI DJAUSAL - Visualisasi pameran Kayu Ara dengan pelaku utama Anshori Djausal

Catatan Herman Batin Mangku
Jurnalis

ADA pohon yang tumbuh bukan hanya untuk meninggi. Akarnya merambat ke dalam tanah, menyimpan air dan ingatan. Batangnya menahan musim. Dahannya memberi teduh. Dan ketika waktunya tiba, ia meninggalkan benih untuk kehidupan berikutnya.

Begitulah kira-kira tema pameran “Kayu Ara” hendak membaca perjalanan empat dekade seorang anak Lampung bernama Ir. Anshori Djausal, MT. Bukan sekadar melalui foto, dokumen, atau benda-benda yang pernah disentuh tangannya. Melainkan melalui ruang, cahaya, suara, teknologi, arsip, dan pengalaman artistik.

Sejumlah anak muda kreatif yang punya ide, menggagas, pameran tunggal jejak perjalanan Anshori Djausal di dua lantai Contemporary Art Gallery, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Mereka rencana akan menggelarnya selama sebulan penuh: 12 September hingga 12 Oktober 2026.

Pameran ini mencoba memotret dari kaca mata anak muda berbakat perjalanan kreativitas dan pemikiran Anshori Djausal selama empat dekade—seorang insinyur, arsitek, sekaligus budayawan yang sepanjang perjalanan hidupnya bergerak di antara teknologi, lingkungan, arsitektur, dan kebudayaan.

Yang menarik, inisiator pameran ini justru datang dari generasi yang lebih muda. Ada Angga Wijaya sebagai kurator, Hafiz Maha sebagai kepala artistik, Hartinis Permata Sari yang menangani hubungan masyarakat, dan Arief Rachman sebagai perancang sekaligus produksi pameran.

Mereka tidak sedang membuat sebuah monumen untuk seorang tokoh. Mereka sedang mencoba membuka kembali sebuah buku yang mungkin terlalu lama tersimpan di rak untuk kita bersama-sama simak kembali.

undefined

Membaca Kembali Seorang Anshori

Bagi generasi yang tumbuh di tengah percepatan teknologi, nama Anshori Djausal mungkin lebih mudah dikenali melalui Menara Siger. Namun perjalanan gagasannya jauh lebih panjang dari sebuah bangunan yang berdiri di pintu gerbang Lampung itu. Ada ferrocement, teknologi yang dikembangkan dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan tertentu.

Ada Kite Aerial Photography, yang memperlihatkan bagaimana teknologi sederhana dapat menjadi alat pemetaan dan dokumentasi. Ada pula perhatian terhadap lingkungan, konservasi, teknologi tepat guna, serta pelestarian pengetahuan dan kebudayaan lokal Lampung.

Di sanalah para penggagas “Kayu Ara” menemukan sesuatu yang penting. Anshori tidak hanya meninggalkan karya. Ia meninggalkan cara berpikir.
Cara melihat hubungan manusia dengan ruang. Cara mempertemukan teknologi dengan alam. Cara membaca tradisi bukan sebagai masa lalu, tetapi sebagai pengetahuan yang masih dapat digunakan untuk menjawab masa depan.

“Kami berharap pameran ini menjadi ruang refleksi dan pertukaran pengetahuan,” kata Angga Wijaya sebagaimana tertuang dalam konsep proposal pameran. Kalimat itu menjadi penting karena “Kayu Ara” tidak dimaksudkan sebagai ruang nostalgia. Ia justru ingin membuat masa lalu berbicara kepada masa kini.

Mengapa Kayu Ara?

Pilihan “Kayu Ara” bukan kebetulan. Dalam tradisi masyarakat Lampung, pohon memiliki kedudukan penting sebagai simbol kehidupan. Ia hadir dalam artefak budaya, upacara adat, dan pengetahuan masyarakat yang memandang manusia sebagai bagian dari alam.

Pohon mengajarkan satu hal sederhana: tidak ada kehidupan yang benar-benar berdiri sendiri.
Akar membutuhkan tanah, batang membutuhkan akar, daun membutuhkan cahaya, buah membawa benih, dan benih membawa kemungkinan masa depan.

Begitu pula pengetahuan. Ia lahir dari pengalaman generasi sebelumnya, tumbuh melalui tangan generasi sekarang, lalu diwariskan kepada mereka yang belum lahir. Dalam perspektif itulah perjalanan Anshori Djausal dibaca.

Empat dekade kehidupannya memperlihatkan upaya mencari jawaban atas berbagai persoalan yang terus berubah: krisis ekologis, perkembangan teknologi, urbanisasi, pembangunan, dan memudarnya pengetahuan lokal.

Karena itu, “Kayu Ara” hendak mempertemukan tiga percakapan besar: manusia dan lingkungan; teknologi dan tradisi; pengetahuan lokal dan seni kontemporer.

undefined

Arsip yang Kembali Bernapas

Salah satu kekuatan pameran ini terletak pada cara mereka memperlakukan arsip. Arsip tidak diletakkan sebagai benda mati. Ia dihidupkan kembali melalui ruang dan pengalaman. Foto, dokumen, catatan, karya, dan perjalanan hidup Anshori dirangkai menjadi sebuah narasi yang memungkinkan pengunjung melihat kembali bagaimana sebuah gagasan tumbuh.

Dengan pendekatan riset, dokumentasi, dan seni instalasi, “Kayu Ara” mencoba mengubah arsip menjadi pengetahuan yang dapat dialami. Pengunjung bukan sekadar melihat. Mereka diajak memasuki cerita.

Dari Pintu Lampung ke Ruang Pamer

Para anak muda merangcang ruang pameran dari mulai sebelum pengunjung memasuki ruang utama. Area depan pameran akan menjadi ruang merchandising sekaligus booth UMKM Lampung. Berbagai produk unggulan daerah ditampilkan sebagai bagian dari pengalaman budaya.

Di sini, identitas Lampung tidak hadir sebagai dekorasi, tetapi melalui produk, kreativitas, tradisi, dan aktivitas ekonomi masyarakatnya. Dari ruang tersebut, pengunjung bergerak menuju akses lantai dua.

Tangga menuju lantai dua, area yang dirancang sebagai gerbang menuju cerita utama. Grafis berskala ruang berfungsi sebagai wayfinding, sekaligus membangun atmosfer dan identitas visual pameran. Seolah-olah pengunjung sedang meninggalkan ruang sehari-hari dan memasuki halaman lain dari sebuah buku. 

Di lantai dua, lobi menjadi ruang pengantar. Biografi, linimasa kehidupan, dan arsip pilihan memperkenalkan sosok Anshori Djausal. Dari sana, pengunjung memasuki area inti: ruang immersive arsitektur dan masyarakat.

Ruang gelap dipilih sebagai medium untuk menghadirkan pengalaman audiovisual. Proyeksi holografik, projection mapping, tata cahaya, dan soundscape digunakan untuk menghidupkan kembali perjalanan gagasan arsitektur Menara Siger.

Bangunan yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan seakan mendapatkan kehidupan baru.
Menara Siger tidak lagi sekadar menjadi bentuk. Ia menjadi gagasan tentang identitas Lampung. Tentang bagaimana arsitektur dapat mengambil inspirasi dari kebudayaan, sejarah, lingkungan, dan cara sebuah masyarakat memandang dirinya sendiri.

Pada ruang teknologi dan lingkungan, pengunjung dibawa kepada sisi lain pemikiran Anshori. Teknologi, dalam pandangannya, tidak selalu harus mahal dan rumit. Ia dapat lahir dari kreativitas, kebutuhan, serta kemampuan membaca lingkungan.

Praktik Kite Aerial Photography menjadi salah satu contoh. Layang-layang yang selama ini akrab dengan permainan masa kanak-kanak dapat berubah menjadi alat untuk memetakan wilayah pesisir dan mendokumentasikan kondisi lingkungan.

Pengalaman pemetaan pesisir Lampung hingga dokumentasi pascatsunami Aceh memperlihatkan satu gagasan penting: teknologi dapat menjadi cara manusia memahami alam. Dari sana, pembicaraan bergerak menuju konservasi dan lingkungan, termasuk perjalanan Anshori bersama Gita Persada.

Teknologi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berhadap-hadapan dengan alam. Ia justru menjadi salah satu cara untuk merawatnya. Rumah, tapis, dan ingatan. Di ruang budaya Lampung, cerita kembali kepada akar.

Rumah adat dan tapis menjadi dua pintu untuk memasuki dunia pengetahuan masyarakat Lampung. Rumah adat bukan sekadar bangunan. Di dalamnya tersimpan cara sebuah masyarakat memahami ruang, hubungan sosial, keluarga, lingkungan, dan kehidupan bersama.

Begitu pula tapis yang benang dan motifnya bukan sekadar hiasan. Di dalamnya tersimpan simbol, filosofi, keterampilan, dan ingatan yang diwariskan lintas generasi. Melalui ruang ini, kebudayaan Lampung diposisikan bukan sebagai benda museum yang selesai, melainkan sebagai pengetahuan hidup.

Menanam Masa Depan

Pada akhirnya, “Kayu Ara” bukan hanya pameran tentang Anshori Djausal. Ia adalah percakapan antargenerasi. Sejumlah anak muda mencoba membaca perjalanan seorang tokoh yang telah melewati empat dekade, lalu membawanya ke dalam bahasa mereka sendiri: bahasa seni instalasi, teknologi digital, arsip, ruang, cahaya, dan pengalaman.

Ada sesuatu yang terasa seperti pesan dari sebuah pohon. Bahwa kehidupan bukan tentang siapa yang paling tinggi tumbuhnya, tetapi tentang seberapa kuat akar yang ditanam dan seberapa luas teduh yang diberikan. Anshori Djausal telah menanam sebagian akarnya melalui arsitektur, teknologi, lingkungan, dan kebudayaan.

Kini, generasi muda mencoba merawatnya. Barangkali itulah makna terdalam “Kayu Ara”: bukan sekadar melihat kembali masa lalu, melainkan bertanya kepada masa depan—pengetahuan apa yang hari ini kita tanam agar kelak masih menjadi teduh bagi anak cucu?
***