Di Tengah Suasana Keprihatinan, Event IWTIF 2025 yang ke 5 Diharapkan Menjadi Salah Satu Upaya Pemulihan Bangsa

Rabu, 3 September 2025 19:53
Ketua Panitia event internasional IWTIF 2025, Dra Yulia Himawati. Foto: tangkapan layar

HELOINDONESIA.COM - Di tengah suasana Indonesia yang sangat memperihatinkan tak menyurutkan kegiatan Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2025 digelar.

Diharapkan, acara yang sudah berlangsung untuk kelima kalinya ini menjadi sarana pemulihan bangsa ini setelah melewati minggu-minggu yang mendebarkan.

Demikian harapan yang disampaikan Sekjen Board of Etnaprana, Vivid Sambas saat membuka acara IWTIF 2025 pada Rabu (3/9/2025) siang pukul 13.00 - 15.00 WIB

"Penyelenggaraan festival internasional yang kelima ini sebuah capaian yang luar biasa. Selama satu bulan penuh di September ceria ini, kita akan bersama-sama mengikuti rangkaian webinar dengan narasumber terbaik. Mereka akan membahas wellness nusantara sebagai sumber kesehatan, kebahagiaan dan daya tarik wisata Indonesia di mata dunia," papar Vivid Sambas.

Baca juga: 50 Tokoh Perempuan Lampung Dilatih Jadi Agen Ketahanan Keluarga

Dikatakan Vivid, kendati ujian berat yang sedang dihadapi bangsa ini, acara IWTIF diharapkan tetap dengan rasa penuh semangat.

Menurutnya, suasana yang cukup memprihatinkan dan mendebarkan itu merupakan sebuah fase yang perlu dilalui bersama sebagai anak bangsa.

Segenap panitia gelaran IWTIF, Board of ETNA menyampaikan turut berduka untuk seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka dari berbagai pihak, termasuk aparat keamanan.

"Semoga negara kita segera melalui fase ini dengan sebaik mungkin," harapnya optimis.

Baca juga: Ironis, Honorer 8 Tahun DLH Tewas Tertimpa Pohon Tepi Jalan

Acara IWTIF tahun ini dihadiri oleh para pelaku industri pariwisata, baik di dalam dan di luar negeri, para pakar kebudayaan, kesehatan dan kebugaran khas nusantara.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa untuk bangsa, sambutan dari ketua IWTIF 2025, Yulia Himawati dan serangkaian kegiatan webinar terkait Etnaprana Nusantara (ETNA).

Dalam sambutannya, Ketua Panitia IWTIF, Yulia Himawati menyampaikan rasa hormatnya kepada hadirin, para profesor, pengusaha spa wellness Indonesia para manager dari berbagai hotel.

"Kita dapat bertemu kembali di dalam keadaan sehat dan bahagia menghadiri rangkaian acara webinar series kegiatan dari Indonesia Wellness dan International Festival kelima dengan tema "Etnaprana Wellness Nusantara untuk Dunia".

Diungkapkan Yulia, kegiatan festival ini pertama kali diadakan pada tahun 2021 yang lalu digagas oleh tiga asosiasi yakni Indonesia Wellness Master Association (IWMA), Wellness and Healthcare Association (WHEA) dan Indonesia Spa Profesional Association (IWSPA).

Baca juga: Bentuk Transparansi, Baznas Tubaba Beberkan Dana Hibah dari Pemkab

Kemudian di tahun 2024 mulai banyak yang mendukung kegiatan ini antara lain yang tergabung di dalam Board of Etnaprana.

Board of ETNA ini merupakan kumpulan atau Konfederasi yang terdiri dari 40 asosiasi yang bergerak di bidang wellness Indonesia.

Dikatakan Yulia bahwa berjalannya acara tahunan tingkat internasional ini merupakan wujud atau karya nyata dari anak bangsa yang cinta akan budaya kesehatan nusantara.

"Kita sepaham tentunya tentang kesehatan tradisional Indonesia yang berbasis budaya sangatlah kaya. Para leluhur kita sangat pandai bagaimana menjaga kesehatan kebugaran tubuh," terangnya.

Para leluhur tersebut, lanjut Yulia, memiliki kemampuan perawatan kesehatan secara preventif dan promotif.

Baca juga: Besok, Bupati Tubaba Mulai Rolling Pejabat

"Dengan berbagai cara, para leluhur mengajarkan kita untuk merawat tubuh baik itu melalui pijatan, minum-minuman herbal, rempah-rempah atau baluran berupa lulur, boreh, penggunaan aroma atau wewangian sebagai terapi, baik yang dihirup misalnya melalui uap atau penguapan ataupun berupa pengasapan yang dialihkan ke seluruh tubuh demi menjaga kesehatan dan kebugaran, baik jasmani maupun rohani," urainya

Begitulah, menurut Yulia, para leluhur telah banyak mengajarkan, memberikan bukti-bukti otentik dan telah ditemukenali oleh para ahli yang tergabung dalam asosiasi IWMA.

Saat ini telah dilakukan riset sebanyak 15 etno atau suku bangsa antara lain dari Sumatera Utara yang dikenal oukup, Sumatera Barat dikenal Batangeh Minang, Madura dikenal Micet.

Dari Jawa dan Bali yang sudah tidak asing lagi di mana orang selalu mengatakan spa Jawa dengan lulur atau boreh pengaruh Bali.

Lalu sampai juga ke Jawa ada peranakan Semarang, di mana di situ juga memang asimilasi budaya Jawa Indonesia dengan budaya dari Tiongkok.

Baca juga: Alih-Alih Beri Sanksi, Ketua HIPMI Malah Bela 5 Anggotanya Pesta Narkoba

Dari Kalimantan juga dikenal berbagai treatment atau pelayanan kesehatan tradisional. Sulawesi hingga ke Papua dan Maluku.

"Itu semua tentunya mengandung kearifan lokal dari setiap daerahnya masing-masing," jelasnya.

Dengan demikian, sambung Yulia, kita patut berbangga hati dengan warisan para leluhur kita.

Di event tersebut, Yulia memohon kepada para praktisi spa, pengusaha spa wellness para profesional atau sumber daya manusianya di Indonesia mau mempelajari Etnaprana sebagai layanan unggulan di tempat usaha Anda.

Karena itu, tegasnya, jangan selalu bangga dengan produk-produk asing yang sudah tidak asing lagi dikenali oleh para penggemar spa wellness di Indonesia maupun di mancanegara. Seperti Swedish Massage, Shiatsu Jepang, Ayuverda India, Thai Massage dan sebagainya.

Baca juga: Deni Ribowo: Deflasi Pendidikan 15 Persen Bukti Kebijakan Pro-Rakyat

"Tapi itu semua produk budaya asing. Kita perlu mensupport upaya pemerintah Indonesia yang tengah mengembangkan wellness tourism atau yang dikenal dengan pariwisata kesehatan dan kebugaran yang merupakan salah satu trend global yang berkembang pesat," papar ya.

Sekali lagi, Yulia menegaskan bahwa Indonesia dengan kekayaan alam, budaya dan kearifan lokalnya memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi destinasi keunggulan di bidang wellness tourism tersebut.

Berbagai tradisi perawatan tubuh, ritual kesehatan, serta praktik penyembuhan tradisional yang diwariskan oleh secara turun-temurun merupakan aset bangsa yang bernilai tinggi.

Maka, sebagai upaya memperkenalkan dengan mengangkat potensi tersebut ke level internasional festival IWTIF tahun ini hadir kembali dengan rangkaian kegiatan melibatkan para pemangku kepentingan.

Baca juga: Pemkab Kendal Serahkan Hibah kepada 13.938 Tenaga Pendidik Keagamaan

"Tentunya materi-materi kita yang dimulai sejak tanggal 3 September hingga 30 September menghadirkan para pembicara yang profesional di bidangnya, juga dengan materi yang sangat menarik untuk kita kaji dan kita dengarkan," pungkas Yulia.

Berita Terkini