Special Screening Pesugihan Sate Gagak di Semarang, Penonton Diajak Ngakak oleh Kisah Satire Trio Gagak

Minggu, 9 November 2025 17:19
Suasana penonton yang mulai mengisi tempat duduk saat special screening film Pesugihan Sate Gagak di Citra XXI Mal Citraland Semarang. Salah scene dalam film tersebut.

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Sebelum rilis serentak pada 13 November 2025 di seluruh bioskop Indonesia, penggemar film di Kota Semarang mendapatkan kesempatan menonton  ''Pesugihan Sate Gagak'' dalam Special Screening di Citra XXI Mal Citraland Semarang, Sabtu sore 8 November 2025.

Dari kuota 78 kursi yang disediakan untuk penonton, hanya lima kursi yang kosong. Ini pertanda, film yang diproduksi Cahaya Pictures dan BASE Entertainment, berkolaborasi dengan PK Films, Arendi, Laspro, IFI Sinema, dan Anami Films mendapatkan apresiasi yang sangat bagus.

Baca juga: Ini Syarat-syarat dalam Meningkatkan Kualitas Industri di Bidang Pariwisata

Bahkan hingga film usai penonton belum juga beranjak, namun menyaksikan credit title dan credit scene yang menampilkan cuplikan adegan yang salah. Bukan tak mungkin, dari mereka akan menonton kembali saat penayangan reguler nanti.

Film ‘’Pesugihan Sate Gagak (PSG) memang bukan film horor biasa meskipun mengangkat cerita tentang pesugihan yang identik dengan tumbal manusia dan kisah yang mencekam. Namun sinema besutan sutradara Etienne Caesar dan Dono Pradana mengemas tema itu dalam balutan komedi horor super ringan yang menjadi obat penghilang stres buat penonton.

Adegan dibuka dengan kehidupan yang lekat dengan keseharian. Tentang orang yang hidup susah, utang menumpuk dan memperjuangkan cinta wanita agar bisa dinikahi. Bercerita sosok  Anto, pelayan warteg yang diperankan Ardit Erwandha yang hendak mempersunting Andini (Yoriko Angeline). Tapi di luar dugaan, ibu Andini yang diperankan dengan apik dan natural oleh komedian Nunung meminta mahar perkawinan sebesar Rp 150 juta. Nominal itu terang saja bikin Anto limbung.

Baca juga: 56 Anggota FKP3 Semarang Raya Ikuti Bimtek Cara Tepat Tangani Kecelakaan Kendaraan

Pada saat yang sama Dimas (Yono Bakrie) juga tengah berjuang membangun toko pakaian buat ibunya (Niniek Arum), serta Indra (Benicditus Siregar) yang bingung terjerat utang pinjol gara-gara tertipu dikabari kakeknya, Mbah Jati (Ence Bagus) mengalami kecelakaan.

Akibat butuh duit banyak, ketiga pria muda ini pun bersatu dan merancang jalan pintas mencari pesugihan agar bisa menjadi orang kaya. Indra yang merupakan cucu Mbah Jati mengusulkan pesugihan sate gagak. Alasannya pesugihan ini tanpa tumbal apapun, meskipun harus berurusan dengan para demit. Mereka sepakat.

Selama ritual membakar sate gagak inilah, adegan demi adegan sering bikin penonton tertawa ngakak. Misalnya adegan para demit seperti genderuwo, pocong, kuntilanak, suster ngesot, dan tuyul protes karena satenya habis, dengan tenang Indra meredam mereka dengan kalima,’’Tenang, tenang, semua bisa dibicarakan..’’.  Atau saat promosi sate gagak racikan Anto, Indra menggunakan kalimat’’Gigitan pertama nikmatnya sampai akhirat..’’.

Baca juga: Menanti Delapan Tahun, Sepakbola Jateng Kembali Sabet Emas Popnas

Adegan ikonik film ini, ada pada gaya Dimas yang mengetuk-ketuk giginya saat berpikir dan kalimat Anto kepada Indra yang selalu tampil kucel saat kumpul bersama,’’Lha ini demitnya datang,’’. Atau saat Abah Budi (Firza Valaza) yang sedang menyembuhkan Nunung dari kesurupan,  tiba-tiba melepaskannya demi menyalami Indra dan Dimas. Akibatnya Nunung pun jadi lepas kendali, hingga mencekik suaminya (Arief Didu).

Film PSG yang skenarionya ditulis Nugro Agung boleh dikata merupakan satire terhadap potret sosial sebagian masyarakat kita yang masih percaya tahayul, mencari jalan pintas, dan mendambakan menantu lelaki pada aspek filosofi wisma (punya rumah), turangga (punya mobil), dan kukila (pekerjaan mapan).

Sejumlah nama lain juga mendukung film ini seperti Arif Alfiansyah, Akbar Kobar, dan Ciaxmen.

Pesan Moral

Mahasiswa Unwahas Semarang, Muhamad Anugerah Rizki yang menonton film ini, mengaku sangat terhibur dan puas. Sebagai pecinta film, dia melihat PSG lebih kental dengan komedi ketimbang horornya.

‘’Daya tarik film ini pada genre baru komedi-horor. Pesan moral yang disampaikan pun mengena: jangan cari kekayaan lewat jalan pintas, tapi kerja keras dan kerja cerdas. Yoriko juga tetap cantik meskipun lagi adegan kesurupan, hahaha,’’ katanya.

Di bagian lain, staf marketing Gaul FM, Naila Zulfa pun melihat keunggulan film ini adalah ceritanya yang ringan, dan kematangan akting pemainnya yang rata-rata komedian berpengalaman.

‘’Sebagai tontonan, ada tuntunan di sana, bahwa kita harus kerja halal dan keras untuk bisa jadi orang kaya. Bukan malah berkolaborasi dengan demit,’’ ujarnya.

Keduanya pun merekomendasikan Pesugihan Sate Gagak sebagai film layak tonton bersama keluarga.

Dalam rilis yang dikirim Cahaya Pictures, kekuatan film ini bertumpu pada tiga komika ternama: Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benedictus Siregar yang berperan sebagai Trio Gagak. Untuk pertama kali, ketiganya tampil sebagai pemeran utama dalam satu film layar lebar. Chemistry alami mereka memunculkan dinamika persahabatan yang cair dan komedi yang spontan.

Baca juga: Alih alih Mereda, Ketegangan Politik di Sidoarjo Malah Meningkat, W2 Tersinggung

Terlebih beradu akting dengan kondisi telanjang menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain. “Berakting komedi sudah biasa saya lakukan di film-film sebelumnya, tapi berakting komedi sekaligus horor sambil telanjang, sepertinya cuma akan terjadi di film ini,” ujar Ardit.

Yono Bakrie menambahkan,  ini adalah kesempatan langka baginya untuk dipercaya sebagai pemeran utama. Sebelumnya, ia lebih sering tampil sebagai pemeran pendukung atau cameo.

Sementara itu, Benidictus Siregar mengakui bahwa proyek ini terasa sangat spesial baginya. Dari berbagai peran yang pernah ia mainkan, Beni lebih sering tampil dalam genre komedi, tapi kali ini ada unsur dramanya.

Meskipun dari segi jalan cerita dan setting agak absurd, Etienne Caesar berhasil menghadirkan rangkaian adegan yang membekas dan mampu mengarahkan para pemain untuk tampil maksimal terutama keluar dari zona nyaman mereka di ranah komedi menjadi drama. Dialog Jawa-nya begitu lancar dan spontan didukung akting yang kuat.

Melengkapi visi penyutradaraan EC, Dono Pradana berangkat dari sensitivitasnya dalam membaca keresahan banyak orang terhadap tekanan hidup, utang, dan keinginan untuk cepat sukses. Melalui film ini, Dono ingin menghadirkan potret sosial dengan cara ringan dan membumi. (Aji)

 

Berita Terkini