Di Lampung, Nobar Film *Pesta Babi* dari Tugu Adipura hingga Liwa

Jumat, 15 Mei 2026 16:23
Nobar Film Pesta Babi di Lampung HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Seperti air bah yang meluap selepas hujan panjang, gelombang nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita terus mengalir dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung, dari Tugu Adipura hingga Liwa yang dijuluki "Negeri di Atas Awan" 

Di tengah kontroversi film tersebut, Yusril Ihza Mahendra menyatakan pemerintah tidak pernah mengianstruksi pembubaran nonton bareng film tersebut. Pembubaran di sejumlah daerah, masalah administratif, katanya. 

Film yang menyoroti cepatnya alih fungsi jutaan hektare lahan di Papua itu kini menjadi bahan diskusi publik, dari ruang-ruang komunitas hingga pusat keramaian kota dan dibedah para penggiat lingkungan hidup hingga akademisi. 

Di Kota Bandarlampung dan Kota Metro, pemutaran film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita berlangsung ramai dan mendapatkan perhatian masyarakat, terutama pada anak muda. 

Di Bandarlampung, kegiatan nobar yang diprakarsai Cipayung Plus bahkan digelar terbuka di jantung kota, tepatnya di kawasan Tugu Adipura, Kelurahan Enggal, Selasa (13/5/2026) malam sekitar pukul 20.00 WIB.

Di bawah cahaya lampu kota dan lalu lalang kendaraan, layar dokumenter itu menjadi ruang bersama untuk menyaksikan kisah tentang tanah, hutan, dan manusia Papua yang perlahan terdesak arus investasi.

Sementara di Kota Metro, kegiatan nobar dan diskusi digelar komunitas Literasi Pustakaloka Cendekia pada Senin (11/5/2026). Acara berlangsung tertib, hangat, dan diikuti masyarakat setempat dengan antusias.

Gelombang pemutaran film tersebut belum berhenti. Sabtu besok (16/5/2026), agenda nobar kembali digelar di dua lokasi sekaligus, yakni Kota Bandarlampung dan Liwa, Kabupaten Lampung Barat.

Di Bandarlampung, Gerakan Pemuda Lampung (GPL) bersama BEM Malahayati akan mengadakan nobar di Cafe Roemah Jus, Jalan Pramuka, mulai pukul 19.00 WIB.

Pada hari yang sama, pemutaran Pesta Babi juga akan berlangsung di Padang Cahya, Liwa, Lampung Barat, pukul 19.00 WIB. Ajakan kegiatan itu tersebar luas di media sosial dengan kalimat bernada akrab: “Sekelik, malam Minggu ini ada agenda berfaedah yang nggak boleh dilewatkan.”

Film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono tersebut merupakan hasil kolaborasi WatchDoc dan Greenpeace.

Meski demikian, Pesta Babi sempat menuai kontroversi di sejumlah daerah. Beberapa agenda pemutaran dikabarkan mengalami pembubaran oleh aparat maupun penolakan dari kelompok tertentu, terutama di lingkungan kampus.

Secara keseluruhan, Pesta Babi bukan sekadar tontonan visual, melainkan semacam catatan zaman tentang benturan pembangunan, lingkungan, dan nasib masyarakat adat di ujung timur Indonesia.

Dokumenter ini banyak direkomendasikan bagi mereka yang tertarik pada isu lingkungan hidup, hak asasi manusia, konflik agraria, hingga kajian sosial-politik.

Film tersebut menantang narasi pembangunan arus utama dan mengajak publik melihat lebih dekat dampak investasi terhadap ruang hidup masyarakat adat Papua. (HBM)

Berita Terkini