LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -Pihak Universitas Malahayati tak mengijinkan kegiatan Diskusi dan Bedah Film "Pesta Babi" di Kibara Aceh, lingkungan kampus setempat, Sabtu, 16 Mei 2026, pukul 18.10 WIB. Rektorat beralasan tempat tersebut buat kegiatan sosial santunan anak yatim.
Gerakan Pemuda Lampung (GPL) dan BEM Malahayati tetap akan menggelar acara tersebut sesuai jadwal, Sabtu, 16 Mei 2026, pukul 18.10 WIB. Panitia sepakat pindah ke Cafe Roemah Jus, dekat Kampus Malahayati, Jalan Pramuka, Bandarlampung.
Sebelumnya, pihak rektorat telah menyetujuinya pada Rabu (13/5/2026), pukul 15.49 WIB. Namun, pada Kamis (14/05), pukul 15.03 WIB, panitia belum dapat mengijinkan, kata Ketua Kegiatan Muhammad Yasir Setiawan, Jumat (15/5/2026).
"Apapun dasar dan alasannya, apakah benar seperti yang disampaikan (ada kegiatan sosial santunan anak yatim piatu) atau ada hal lain, kami tidak tahu, tapi kami tetap menghormati keputusan pihak kampus,” ujar Muhammad Yasir Setiawan.
Enam pemantik telah menyatakan kesiapannya hadir, yakni Direktur Eksekutif WALHI Lampung Irfan Tri Musri; Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung Dian Wahyu Kusuma; dosen Teknik Lingkungan Universitas Malahayati Mokhram Ari Arbi; tokoh adat M. Arif Sanjaya Tuan Penutup Bangsorayo Sakti; Ketua Umum DPP YLHBR-ABR Indonesia Hermawan; dan anggota DPRD Provinsi Lampung M. Syukron Muchtar.
Diskusi nanti akan dipandu Sujarwo Songha, MC kondang asal Lampung yang pernah mengajar di Papua pada tahun 2016 - 2017. Closing statement akan disampaikan Ketua Pelaksana Muhammad Yasir Setiawan.
Panitia berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang edukasi publik yang sehat, terbuka, dan berani membicarakan persoalan sosial maupun lingkungan secara kritis namun damai.
Tujuan utamanya, bagaimana membangun kesadaran publik tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup, peduli terhadap kondisi sosial masyarakat, serta memperkuat budaya diskusi yang sehat dan terbuka.
"Kami ingin masyarakat lintas generasi dan khususnya anak muda, semakin sadar bahwa lingkungan hidup dan kondisi sosial di sekitar kita adalah tanggung jawab bersama. Karena itu kegiatan ini tetap harus berjalan," ujar Muhammad Yasir Setiawan.
Adit Gumilang, salah satu peserta sekaligus penyelenggara kegiatan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah progresif dalam membangun ruang dialog yang kritis, terbuka, dan berorientasi pada peningkatan kesadaran sosial masyarakat.
"Kami percaya karya film dapat menjadi media edukasi, refleksi, sekaligus penguatan nilai demokrasi dan kebebasan berpikir di tengah kehidupan berbangsa,” ujar Ketua DPW YLHBR-ABR Lampung. (Rls/HBM)