HELOINDONESIA.COM - Bulan Ramadhan bagi umat muslim merupakan bulan yang ditunggu-tunggu, nanmun tidak demikian dengan pejabat di Israel.
Baginya bulan Ramadhan merupakan bulan yang menakutkan, lantaran banyak aktivitas ritual keagaan yang dilakukan selama bulan Ramadhan, sehingga peningkatan umat di sekitar Al-Aqsa juga tinggi.
Bahkan untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Israel akan membatasi kaum Muslim Palestina yang masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa.
Baca juga: Mahkamah Agung Menyerahkan Bantuan Palestina Kepada Baznas RI
Kekhawatiran ini terjadinya peningkatan situasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki selama bulan Ramadhan.
Menteri Ekstremis Warisan Israel, Amichai Eliyahu menyatakan keinginan untuk ‘menghapuskan' bulan suci Ramadhan dan memperkirakan peningkatan ketegangan di Tepi Barat yang diduduki serta di Jalur Gaza.
Komentar tersebut Amichai Eliyahu sampaikan dalam sebuah wawancara dengan Radio Angkatan Darat rezim tersebut menjelang bulan suci umat Islam, yang akan dimulai sekitar 10 Maret.
Baca juga: Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Siapkan Program Beasiswa Kuliah Gratis Untuk Anak Palestina
“Apa yang disebut bulan Ramadhan harus dihilangkan, dan ketakutan kita terhadap bulan ini juga harus dihilangkan,” kata Eliyahu.
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan keamanan Israel terbaru mengungkapkan kekhawatiran rezim terhadap eskalasi situasi di Tepi Barat yang diduduki dan Al-Quds Timur selama bulan Ramadhan, yang disebabkan oleh aksi genosida Israel di Gaza dan pembatasan yang diberlakukan oleh rezim Tel Aviv terhadap Masjid Al-Aqsa selama bulan suci tersebut.
Masjid ini merupakan salah satu situs paling suci bagi umat Islam dan biasanya ramai oleh ratusan ribu jamaah, terutama selama bulan Ramadhan.
Bulan lalu, Channel 13 Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memerintahkan pembatasan akses warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan, terutama pada hari Jumat.
Langkah ini dianggap sangat provokatif dan berbahaya oleh banyak pengamat dan kelompok hak asasi manusia, terutama setelah serangkaian agresi militer oleh rezim terhadap Gaza sejak 7 Oktober.
Namun, Eliyahu, dalam wawancaranya, mengatakan bahwa potensi ketegangan selama bulan suci Ramadan di Gaza dan Tepi Barat yang terkena dampak perang seharusnya diabaikan oleh rezim.
Dia adalah anggota partai sayap kanan ekstremis Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi), yang dikenal sebagai partai fasis dan anti-Arab.
Partai tersebut dipimpin oleh Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional sayap kanan rezim, yang mendukung pengusiran warga Palestina dari Gaza, pembangunan pemukiman Israel di wilayah tersebut, serta tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak Palestina. **