HELOINDONESIA.COM - Etnaprana sebagai akar budaya kesehatan tradisional Indonesia harus menjadi salah prioritas Pemerintahan Prabowo Subianto sebagai Wellness Tourism yang mampu mengundang banyak turis mancanegara, bisa menjadi salah satu penopang ekonomi negara dan kuat di negeri sendiri.
Hal ini diungkapkan oleh Founder Board of Etna, Dr Agnes Lourda Hutagalung seperti dikutip melalui akun YouTube IWTIF pada Rabu (24/12/2024).
Dikatakan Agnes Lourda, saat ini total ekosistem Etnaprana itu sendiri adalah industri pendidikan sertifikasi dan lembaga sertifikasi profesi.
“Bagaimana caranya kita mengembangkan etnaprana ada tiga area. Pertama adalah B to C (Business to Consumer). Mewujudkan kolaborasi dan rekam medis melalui etnaprana wellness Clinic. Jadi mulai tahun ini kita menyetarakan kesaktian praktik Kesehatan non medis bersanding dengan teknologi moderen kedokteran yang disebut Stem Cell,” papar Lourda.
Baca juga: Jajaran Forkopimda Kendal Gelar Monitoring, Pastikan Perayaan Natal Aman
Menurutnya, Stem Cell adalah sel punca. Terdapat rejuvenasi yang dilakukan dari dalam tubuh dengan sel punca. Namun demikian, sel yang terbilang masih mahal ini juga tidak akan bisa bekerja maksimal kalau kita sebagai manusia punya negatif plus.
“Kita masih resah, kita masih stres, kita masih kesel sama orang, pikirannya sumpek. Jadi itu semua harus dibantu dengan non medis dulu, baru kemudian Stem Cell ini masuk. Dan kita sudah menguji coba melalui Etna Wellness Clinik yang di Jakarta saat ini sudah ada empat tempat,” ungkapnya.
B to C lain, sambungnya, Board of Etna juga sudah bekerja sama dengan produk esensial. Seperti halnya di Board of Etna juga sudah 35 asosiasi yang bergandeng-gandengan tangan sampai dengan saat ini.
Kedua adalah B to G atauBusiness to Government. Dia mengimbau kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk program kerja kesehatan promotif preventif rehabilitatif agar bisa menekan biaya BPJS.
Baca juga: Evaluasi Kinerja PN Jakarta Selatan 2024, Terbaik dengan Penurunan Pengaduan Hingga 50%
“Ada rancangan undang-undang yang sudah kita pelajari. Ada undang-undang nomor 9 tahun 2010 yang sedang kita coba ajukan revisinya,” ujarnya.
Kemudian, melalui budaya kesehatan Indonesia, Board of Etna juga akan membuat sosialisasi melalui buku dan sebagainya.
Wellness Tourism sendiri akan kita terus push untuk anything Indonesia original. Supaya mereka (turis) datang ke sini bisa stand lebih banyak.
“Kita akan mencoba menyarankan kepada pemerintah Visa gratis untuk Wellness Tourism. Kita lihat aja nanti bagaimana bisa kabinet yang sekarang lumayan gemuk ini,” jelasnya.
Board of Etna akan menyampaikan harapan kepada kementerian terkait untuk regulasi dan dukungan lain yang dimungkinkan selain kementerian pariwisata, kesehatan, pendidikan, Kebudayaan, peranan Wanita, tenaga kerja, pertanian, UMKM, olahraga, ekonomi kreatif luar negeri dan BPOM.
Baca juga: Gurita dan Raksasanya Sungai Budi Grup, Nomor 1 di Lampung
“Jadi untuk teman-teman yang produk tadi Kalau ada masalah dengan BPOM mungkin juga bisa menghubungi Wellness & Healthcare Entrepreneur Association
(WHEA) untuk kita coba cari jalan keluarnya,” katanya.
Ketiga, B to B atau Business to Business. Saat ini Board of Etna bekerjasama juga dengan berbagai pihak untuk dapat mengangkat harga dan paket wellness tourism ini baik travel agent, rumah sakit dan lain-lain.
“Yang jelas mari kita berbangga dengan produk-produk yang menjadi bagian dari Wellness Indonesia ini,” tandasnya.
