KENDAL, HELOINDONESIA.COM - Wajah Slamet (56) pada Kamis pagi 13 Maret 2025 tampak tenang, saat duduk mengantre bersama belasan warga lansia di aula belakang Puskesmas Limbangan, Desa Limbangan, wilayah Selatan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Dia datang untuk cek tekanan darah, berat badan, memeriksakan gula darah, selanjutnya menerima seplastik obat.
Meskipun bulan Ramadan, saat itu suasana aula di puskesmas sudah riuh oleh derai tawa warga yang mayoritas emak-emak dan kaum bapak. Ada dua dokter wanita yang sedari tadi membuka ruang konsultasi. Di sebelahnya, sejumlah perawat dan bidan mendata kehadiran, membagikan obat untuk jatah sebulan, dan melilitkan sphygmomanometer (tensimeter) ke lengan warga.

Di ujung sana, dua petugas dengan baju hazmat dari Labkesda Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kendal mulai menyiapkan perlengkapan medis, guna mengambil sampel darah.
Baca juga: Rizky Aritonang Siap Pasang Badan Hadapi Pemilik Stockpile Nakal
Pemandangan seperti itu, hanya bisa dijumpai tiap bulan sekali di Puskesmas Limbangan, tepatnya hari Kamis pagi minggu kedua. Dan mereka yang berkumpul adalah para peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), kegiatan yang terintegrasi antara BPJS Kesehatan, puskesmas dan pasien.
Dan Slamet adalah salah satu peserta Prolanis. Sudah dua tahun perangkat desa asal Gonoharjo ini rutin memeriksakan kesehatan di puskesmas yang sejak 2023 berakreditasi Paripurna (tingkatan tertinggi) dari Kemenkes RI itu.
Dia berkisah, sekitar 2023 lalu pernah berobat ke Puskesmas Limbangan tapi kemudian dirujuk ke Charlie Hospital karena gula darahnya tinggi. Setelah sempat opname dan menjalani rawat jalan, kondisinya pulih. Usai kesehatannya stabil, dia dirujuk kembali ke puskesmas untuk menjalani Prolanis.
''Saya merasakan manfaat dari Prolanis. Selain cek gula darah, saya juga bisa berkonsultasi dengan dokter di sini. Dulu kadar gulanya tinggi banget sampai 300-400 mg/dL, sekarang lumayan normal 123 mg/dL,'' kata lelaki yang selalu berpeci ini.
Rekannya, Sukiran (71) juga mengaku hidupnya lebih bersemangat usai bergabung di Prolanis. Pria penderita hipertensi itu mengaku tak hanya menerima edukasi tentang gizi, tapi juga memperoleh banyak kawan baru dari berbagai penjuru desa. Menurutnya, karena punya keluhan sama yaitu darah tinggi dan kencing manis, tanpa sadar tumbuh rasa persaudaraan untuk saling support antarpenderita penyakit kronis itu.
Rutinitas bertemu melalui Prolanis, membuat anggotanya mendirikan paguyuban Madya Sehati Limbangan dan memiliki jersey yang seragam. Salah satu acara yang mengasyikkan bagi mereka adalah berwisata bersama melalui pendanaan secara swadaya atau lomba Agustusan berkostum merah putih.
Hal itu diakui Sustin (58), perempuan yang rutin memeriksakan gula darahnya. Dia bersyukur, badannya kini lebih bugar dan terkontrol. Satu hal yang membuatnya happy datang ke Prolanis adalah nuansa kegembiraan yang dihadirkan.
''Kami diajak senam dengan suasana riang gembira. Ada senam poco-poco, Maumere, prau layar sampai senam ayam Warkop DKI, Chicken Dance yang gerakannya lucu dan menghibur. Bikin kami semakin akrab,'' kata mantan pengojek asal Tamanrejo itu.
Kualitas Kesehatan
Kepala Puskesmas Limbangan M Budiyati SST Keb melalui Penanggung Jawab Prolanis dr Erna Ridawati mengungkapkan, pasien Prolanis merupakan pasien dengan penyakit tertentu yang oleh rumah sakit sudah dinyatakan stabil, lalu dirujuk balik ke puskesmas.
Penderita Prolanis adalah mereka yang lama berkawan dengan hipertensi dan diabetes melitus. Dua penyakit ini tak bisa disembuhkan total tapi bisa dikontrol agar tak menyebabkan komplikasi. Tujuan utama program ini memang menurunkan risiko komplikasi yang mungkin timbul dari penyakit kronis melalui perawatan berkelanjutan.

Menurut dr Erna, sejak digulirkan 2017 lalu, sebenarnya Puskemas Limbangan memiliki 100-an peserta Prolanis, tapi yang masih aktif memeriksakan diri sekitar 40-an orang. Jadwal pemeriksaan yaitu tiap Kamis pekan kedua.
''Pelayanan yang diberikan untuk meningkatkan kualitas kesehatan peserta Prolanis, di antaranya konsultasi medis, penyuluhan, tes laboratorium dari Labkesda, dan senam bersama. Yang pasti, lewat kegiatah ini mendorong peserta untuk memantau kondisi kesehatannya secara berkala,'' ujar penanggung jawab Klaster 4 (Pencegahan Penyakit Menular dan Kesling) di puskesmas ini.
Diakui Erna, faktor pembeda Prolanis Puskesmas Limbangan dibanding faskes lainnya yaitu adanya agenda wisata. Meskipun rata-rata sudah lansia, namun semangat anggota untuk berkumpul dan jalan-jalan bersama begitu tinggi. Sejumlah lokasi wisata di Kendal, Semarang, Batang, Solo, dan Bandungan pernah disambangi anggota Prolanis. Tahun ini berencana untuk healing ke Kebun Teh Medini.
Sementara itu, Wulan dan Fitri dari Labkesda DKK Kendal mengapresiasi antusiasme peserta Prolanis yang memeriksakan diri di puskesmas melalui tes darah. Ini penanda munculnya kesadaran untuk senantiasa menjaga kesehatan.
Menurut keduanya, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan, diantaranya untuk skrining suatu penyakit, menunjang diagnosis, dan menentukan treatment atau pengobatan yang tepat. (Aji)
