Helo Indonesia

Risiko di Balik Ukuran Celana Jeans: Fakta atau Sekadar Lelucon Menteri?

Kamis, 22 Mei 2025 16:58
    Bagikan  
Risiko di Balik Ukuran Celana Jeans: Fakta atau Sekadar Lelucon Menteri?

dr Arti Indira dan dr Irwin Lamtota dalam Program Unlimited Talks Indonesia

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Pernyataan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, yang menyebut bahwa “Ukuran celana jeans pria 33-34 ke atas bisa dipastikan obesitas dan lebih cepat ‘’menghadap’’ Tuhan, sontak memicu perbincangan luas.

Kalimat yang terkesan satir sekaligus mengejutkan ini mengundang reaksi beragam—dari tawa, kekhawatiran, hingga keingintahuan. Apakah benar ukuran celana bisa menggambarkan risiko kesehatan seseorang? Seberapa ilmiah pernyataan ini?

Untuk membahas lebih dalam, program Unlimited Talks Indonesia yang dipandu Unik Oke melalui siaran langsung Instagram pada Rabu, 21 Mei 2025, mengangkat tema “Risiko di Balik Ukuran Celana Jeans” bersama dua narasumber ahli: dr Arti Indira MGz SpGK, FINEM, Dokter Spesialis Gizi Klinik dari BeYoutiful by drT, serta dr Irwin Lamtota, MKed(OG) SpOG, Dokter Spesialis Kandungan dari RSIA Anugerah dan RSUD Wongsonegoro.

Baca juga: Perkuat Institusi, Program Pascasarja USM dan Universitas Borobudur Jalin Kerja Sama

Menurut dr Arti, pernyataan Menkes bisa jadi disengaja untuk menjadi semacam shock therapy bagi masyarakat. “Kalau nggak dikagetin, masyarakat tuh susah sadar. Ukuran celana itu kan simbol yang gampang diingat, dan kalau itu dikaitkan dengan risiko kematian, ya pasti langsung nempel di kepala orang,” ujarnya. Ia menilai pendekatan Menkes cukup cerdas karena berhasil mengundang perhatian publik terhadap isu serius: obesitas.

unik

Dalam penjelasannya, dr Arti menegaskan bahwa ukuran lingkar pinggang memang erat kaitannya dengan status gizi seseorang, dan bisa menjadi indikator awal obesitas. “Untuk orang Asia, lingkar pinggang normal adalah di bawah 90 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan. Kalau lebih dari itu, sudah masuk kategori obesitas sentral,” jelasnya.

Meski begitu, lingkar pinggang bukan satu-satunya alat ukur. Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) tetap digunakan sebagai metode dasar untuk menilai status gizi. BMI dihitung dengan membagi berat badan (dalam kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Untuk populasi Asia, nilai BMI di atas 23 sudah dikategorikan sebagai overweight dan di atas 25 sebagai obesitas.

Baca juga: Tinjau Rumah Pompa, Wali Kota Semarang Pastikan Genangan Akibat Hujan Lebat segera Surut

Namun, keduanya—baik BMI maupun lingkar pinggang—memiliki keterbatasan. BMI, misalnya, tidak mampu menunjukkan komposisi tubuh secara akurat. “Bisa aja seseorang BMI-nya tinggi karena massa ototnya besar, tapi kadar lemaknya rendah. Seperti Aderai, misalnya,” ujar dr Arti sambil tersenyum. Karena itu, ukuran lingkar pinggang digunakan sebagai indikator tambahan karena mampu mencerminkan lemak viseral—jenis lemak yang melapisi organ dalam tubuh dan lebih berbahaya dibanding lemak superficial yang berada di bawah kulit.

“Lemak viseral ini yang jadi biang kerok. Dia memicu inflamasi, memperburuk resistensi insulin, menyumbat pembuluh darah, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, stroke, dan kolesterol tinggi,” imbuhnya.

Bentuk Tubuh

Menariknya, dr Arti juga menjelaskan bahwa bentuk tubuh pun bisa menjadi indikator risiko metabolik. “Orang dengan bentuk tubuh ‘apple’—lemak menumpuk di perut—memiliki risiko penyakit metabolik yang lebih tinggi dibanding yang berbentuk ‘pear’, di mana lemak lebih banyak di paha atau bokong.”

Meskipun lemak superficial memiliki risiko yang lebih rendah dibanding lemak viseral, jumlah total lemak tetap menjadi faktor penting dalam menentukan kesehatan jangka panjang.

Sementara itu, dr Irwin Lamtota memberikan pandangan dari sisi kesehatan reproduksi. Ia mengungkapkan bahwa obesitas tidak hanya berdampak pada penampilan fisik atau risiko penyakit metabolik, tetapi juga memengaruhi kesuburan, terutama pada pria. “Penelitian dalam tiga hingga empat tahun terakhir menunjukkan bahwa kelebihan berat badan bisa menurunkan kualitas sperma, baik dari segi jumlah, pergerakan, maupun bentuk,” jelasnya.

Baca juga: Operasi Aman Candi, Polres Kendal Berhasil Ungkap 6 Kasus dan Temukan Senjata Api Rakitan

Obesitas dapat mengganggu keseimbangan hormon, meningkatkan suhu skrotum, dan menyebabkan stres oksidatif yang berujung pada penurunan kesuburan. Hal ini menjadi alarm penting, khususnya bagi pasangan usia subur yang sedang merencanakan kehamilan.

Kesimpulannya, ukuran celana jeans memang bukan satu-satunya alat ukur kesehatan, tetapi bisa menjadi sinyal awal untuk lebih waspada terhadap risiko obesitas. Seperti dikatakan dr. Arti, “Ukuran celana adalah simbol. Kalau celana kita makin sempit, mungkin bukan hanya soal fashion, tapi juga alarm bahwa tubuh kita sedang memberi sinyal bahaya.”

Maka, jangan remehkan perubahan kecil pada tubuh, terutama di sekitar pinggang. Bisa jadi, pernyataan Menkes bukan semata sindiran, tapi peringatan. Ukuran celana memang tak bisa bicara, tapi diam-diam bisa membawa pesan penting tentang kesehatan—dan mungkin, juga tentang umur. (Aji)