Helo Indonesia

Terbukti Secara Ilmiah, Penikmat Kopi Memiliki Risiko Lebih Rendah Terkena Diabetes Tipe 2

Syahroni - Ragam -> Kesehatan
Senin, 31 Juli 2023 21:06
    Bagikan  
Kopi Ilustrasi
Pinterest/ Nadya So

Kopi Ilustrasi - Kopi bisa menurunkan rosoko terkena diabetes tipe 2.

HELOINDONESIA.COM - Bagi banyak orang, memulai pagi dengan secangkir kopi bisa memberikan dorongan energi ekstra yang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas selama seharian.

Yah, kafein dalam kopi adalah zat yang digunakan untuk meredakan rasa kantuk, sehingga seseorang dapat tetap terjaga. Selain itu, kafein juga sering ditemukan di dalam obat untuk meredakan migrain.

Meski cukup dikenal karena manfaat kesehatannya yang sudah umum diketahui, penelitian baru yang diterbitkan dalam Jurnal Clinical Nutrition menunjukkan bahwa peminum kopi juga memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2.

Baca juga: Ubah Kebiasaan, Minum Kopi Sebelum Sarapan Bisa Mempengaruhi Gula Darah Anda

Diabetes tipe 2, merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan resistensi insulin. Insulin adalah hormon yang mengatur gula darah, sehingga penderita diabetes tipe 2 mungkin memiliki kadar gula darah yang tinggi.

Dampak tingginya gula darah inilah yang bisa menyebabkan penyakit jantung, kehilangan penglihatan, dan penyakit ginjal. selain itu diabetes juga terkait dengan tingkat peradangan yang tinggi.

Para peneliti telah lama menduga bahwa kafein dapat membantu menurunkan peradangan, tetapi tim studi baru ini menemukan bahwa penelitian sebelumnya tentang topik tersebut memiliki keterbatasan dan hasil yang bertentangan.

Menggunakan data yang diambil dari dua studi populasi besar (studi UK-Biobank dan studi Rotterdam), mereka berangkat untuk memahami mekanisme di balik hubungan baik antara konsumsi kafein yang lebih tinggi dan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah.

Baca juga: Rutin Minum Kopi 2 atau 3 Cangkir Sehari Bisa Bikin Umur Panjang dan Jauh dari Penyakit Jantung

Studi UK-Biobank melibatkan 502.536 orang di Inggris Raya dari tahun 2006 hingga 2010, dan itu termasuk data tindak lanjut peserta pada tahun 2017. Tujuannya adalah untuk memahami pengaruh genetik dan gaya hidup pada penyakit umum.

Studi Rotterdam, yang dimulai pada tahun 1990, sedang berlangsung di Belanda. Para penulis studi Jurnal Clinical Nutrition baru-baru ini mengamati tiga kelompok studi Rotterdam yang berjumlah 14.929 orang dari tahun 1990 hingga 2006 dan termasuk data tindak lanjut dari tahun 2015.

Mereka memilih kumpulan data ini karena beberapa alasan. Sebagai permulaan, mereka berdua mendokumentasikan kebiasaan konsumsi kopi para peserta dan memiliki periode tindak lanjut yang panjang.

Studi UK-Biobank sebelumnya digunakan dalam penelitian yang menyimpulkan bahwa konsumsi kopi ringan hingga sedang (sekitar setengah cangkir hingga tiga cangkir setiap hari) dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah.

Baca juga: Baik Diminum Atau Dioles Langsung, Berikut Ini 7 Cara Ajaib Kopi Meremajakan Kulit Anda

Sementara itu, studi Rotterdam telah dianalisis untuk lebih memahami bagaimana konsumsi kopi dapat memengaruhi fungsi ginjal. Peserta studi UK-Biobank minum rata-rata tiga hingga empat cangkir kopi per hari, sedangkan peserta studi Rotterdam rata-rata minum antara setengah cangkir dan dua cangkir setiap hari.

Para peneliti memiliki tiga tujuan ketika mereka menganalisis data yang luas ini: untuk mengetahui bagaimana kebiasaan minum kopi jangka panjang memengaruhi resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

Selain itu mereka juga ingin memahami sejauh mana penanda peradangan terkait diabetes tipe 2 memediasi efeknya, serta untuk melihat apakah dan bagaimana efeknya berubah berdasarkan jenis kopi dan kebiasaan merokok.

Temuan mereka mengkonfirmasi hubungan antara kebiasaan konsumsi kopi yang lebih tinggi dan risiko diabetes tipe 2 dan resistensi insulin yang lebih rendah. Peminum kopi bubuk (disaring atau espresso) kemungkinan besar mendapat manfaat, dibandingkan dengan orang yang minum kopi instan atau kopi tanpa kafein.

Baca juga: Benarkah Kopi Baik untuk Kesehatan? Simak 7 Manfaat dan Efek Sampingnya Menurut Penelitian

Penikmat kopi yang bukan perokok juga siketahui lebih mungkin mendapat manfaat ini dibanding penikmat kopi yang aktif merokok.

Para peneliti sampai pada kesimpulan itu setelah menemukan bahwa minum kopi dikaitkan dengan konsentrasi biomarker peradangan yang lebih rendah, termasuk protein C-reaktif dan leptin, serta konsentrasi biomarker anti-inflamasi yang lebih tinggi, seperti adiponektin dan interleukin.

Mereka menemukan bahwa peningkatan konsumsi kopi (minum satu cangkir kopi tambahan setiap hari) dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 4% lebih rendah. Namun, para peneliti menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut tentang biomarker peradangan dan jenis kopi diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan mereka.

Penelitian ini berfungsi sebagai pengingat bahwa selama Anda tidak peka terhadap kafein, kopi dapat menjadi bagian yang sehat dari rutinitas kesehatan Anda (asalkan Anda meminumnya pada waktu yang tepat).