Pemakaian Jangka Panjang Paracetamol Ada Sejumlah Risiko

Kamis, 19 Desember 2024 10:54
Ilustrasi Freepik

HELOINDONESIA.COM -Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa penggunaan rutin obat pereda nyeri yang sering digunakan oleh lansia dapat meningkatkan risiko masalah pada saluran pencernaan, jantung, dan ginjal.

Menurut laporan Medical Daily, Senin (16/12), paracetamol atau asetaminofen biasanya digunakan untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat, serta dikombinasikan dalam obat alergi, pilek, dan flu.

Lho lho lho

Baca juga: Dinamika Geopolitik Suriah yang Rumit, Ada Kepentingan Regional dan Global

Meski mudah diakses, mengonsumsi lebih dari empat gram asetaminofen per hari berbahaya bagi kesehatan. Total kandungan asetaminofen dari berbagai sumber makanan juga sulit dilacak.

Dalam penelitian yang dimuat di Arthritis Care and Research, para ilmuwan meneliti dampak penggunaan paracetamol jangka panjang untuk mengatasi nyeri kronis akibat osteoartritis. Hasilnya, ditemukan bahwa konsumsi rutin obat ini berhubungan dengan risiko komplikasi serius, seperti tukak lambung, hipertensi, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronis.

"Karena dianggap aman, parasetamol telah lama menjadi rekomendasi pengobatan pertama untuk osteoartritis dalam berbagai panduan medis, terutama bagi lansia yang rentan terhadap komplikasi obat," kata Profesor Weiya Zhang.

Belum bisa menerima kekalahan 

Baca juga: Yang Terjadi di Set ke 2 Hingga Ko He Jin Melongo, Red Sparks Gagalkan Impian Pink Spiders

Dalam studi tersebut, catatan kesehatan lebih dari 180.000 orang dewasa berusia 65 tahun ke atas yang menerima dua resep paracetamol atau lebih dalam enam bulan dianalisis. Data ini dibandingkan dengan sekitar 400.000 individu dalam kelompok usia yang sama tanpa resep parasetamol berulang.

Penelitian menunjukkan risiko pendarahan tukak lambung naik hingga 24 persen, tukak lambung tanpa komplikasi sebesar 20 persen, pendarahan saluran cerna bawah 36 persen, gagal jantung sembilan persen, hipertensi tujuh persen, dan penyakit ginjal kronis 19 persen.

"Penggunaan paracetamol sebagai pereda nyeri lini pertama untuk osteoartritis pada lansia perlu dipertimbangkan dengan hati-hati," ujar Zhang.

Ia juga menekankan bahwa efek pereda nyeri paracetamol tergolong minimal sehingga penelitian lebih lanjut diperlukan.***

Berita Terkini