Helo Indonesia

Dinamika Geopolitik Suriah yang Rumit, Ada Kepentingan Regional dan Global

Satwiko Rumekso - Internasional -> Timur Tengah
Kamis, 19 Desember 2024 10:46
    Bagikan  
Serangan Israel di Suriah
Reuters

Serangan Israel di Suriah - Serang Israel di Suriah

HELOINDONESIA.COM -Situasi geopolitik di Suriah telah menjadi semakin kompleks setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad, yang berlangsung dengan cepat dan mengejutkan. Kejatuhan ini tidak hanya mengubah peta kekuasaan di dalam negeri, tetapi juga memicu reaksi dari berbagai aktor internasional, termasuk Rusia, Iran, Turki, dan Israel.

Berikut ini adalah benang ruwet yang menggambarkan situasi di Suriah dari berbagai kelompok dan negara yang punya kepentingannya masing masing terhadap Suriah.

1. Hayat Tahrir al-Sham (HTS)

HTS adalah kelompok jihad terbesar yang dibentuk pada 2017 dari penggabungan beberapa faksi pemberontak, termasuk Front al-Nusra.

Lho lho lho

Baca juga: Yang Terjadi di Set ke 2 Hingga Ko He Jin Melongo, Red Sparks Gagalkan Impian Pink Spiders

HTS menggulingkan rezim Bashar al-Assad dan mendirikan pemerintahan Islam di Suriah, dan saat ini berusaha empertahankan wilayah yang dikuasai dari serangan pemerintah Suriah dan sekutunya.

Kehebatan HTS adakah, mereka berhasil menguasai sebagian besar wilayah Idlib dan sekitarnya meskipun tanpa dukungan resmi dari negara-negara besar, tetapi mereka mendapatkan dukungan lokal dan sumber daya dari masyarakat di wilayah yang mereka kuasai. Mereka juga berinteraksi dengan kelompok pemberontak lainnya untuk memperkuat posisi mereka.

2. Tentara Nasional Suriah (SNA)

SNA adalah aliansi faksi-faksi pemberontak yang didukung oleh Turki dan negara lain yang merupakan oposisi Suruah. Kelompok ini dibentuk untuk bersatu melawan rezim Assad.

SNA terdiri dari berbagai faksi, termasuk mantan anggota militer dan kelompok Islamis.

Waduh ada ada saja 

Baca juga: Lemparan Pratama Arhan Ciptakan Putaran Pelangi, Namun Asisten Pelatih Vietnam Menilai Curang

Meskipun bertujuan sama yakni menggulingkan rezim Assad, namun SNA akan membangun pemerintahan yang lebih pro-Turki.

Saat ini SNA sedang bergerak di zona aman di utara Suriah untuk melindungi perbatasan Turki dan mengatasi ancaman dari kelompok Kurdi.

3. Pasukan Demokratik Suriah (SDF)

SDF adalah aliansi yang dipimpin oleh YPG (Unit Perlindungan Rakyat), kelompok Kurdi yang berjuang memerangi ISIS dan menjaga keamanan wilayah yang dikuasai, namun tujuan terakhir adalah mendirikan kekuasaan otonomi Kursi di wilayah utara Suriah.

SDF dikenal mendapatkan dukungan signifikan dari Amerika Serikat dan koalisi internasional dalam memerangi ISIS. Namun, SDF menghadapi penolakan dari Turki, yang melihat YPG sebagai cabang PKK (Partai Pekerja Kurdistan) yang terlibat dalam pemberontakan di Turki.

4. Peran Israel

Setelah jatuhnya rezim Assad, Israel menghadapi Ancaman Iran: Israel berusaha melemahkan kehadiran militer Iran dan kelompok pro-Iran seperti Hizbullah di Suriah, yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.

Saat ini Isreal telah menguasai Dataran Tinggi Golan dengan mudah, bahkan Israel telah memperluas kendali atas zona penyangga di Dataran Tinggi Golan dengan alasan sebagai langkah defensif untuk mencegah serangan dari Suriah.

Israel secara rutin melancarkan serangan udara terhadap pangkalan militer Suriah dan lokasi yang diduga terkait dengan produksi senjata kimia, untuk mencegah senjata jatuh ke tangan ekstremis termasuk pangkalan militer Rusia yang membantu Rezim Assad.

Aksi Israel ini langsung direspon oleh Pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menyatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Suriah digunakan sebagai basis serangan terhadap Israel, menunjukkan keinginan untuk menjaga stabilitas pasca-konflik. Namun saat ini HTS masih berfokus pada pembangunan dan konsolidasi.


5. Peran Rusia

Rusia memainkan peran kunci dalam konflik Suriah dengan mendukung rezim Bashar al-Assad sejak awal perang saudara yang dimulai pada 2011. Intervensi militer Rusia secara resmi dimulai pada 30 September 2015, setelah permintaan dari pemerintah Suriah untuk bantuan melawan pemberontak dan kelompok teroris.

Setelah berhasil membantu Assad mempertahankan kekuasaan, Rusia beralih menjadi mediator dalam upaya perdamaian, berusaha menengahi antara pemerintah Suriah dan kelompok oposisi.

Melalui inisiatif seperti perundingan Astana, Rusia berkolaborasi dengan Iran dan Turki untuk menciptakan zona de-eskalasi dan memfasilitasi dialog politik. Pendekatan ini menunjukkan perubahan strategi Rusia dari sekutu langsung menjadi penjamin stabilitas di Suriah.

Rusia telah menunjukkan respons yang tegas terhadap serangan Israel di Suriah, terutama yang terjadi di Palmyra baru-baru ini. Kementerian Luar Negeri Rusia mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan Suriah dan norma-norma hukum internasional.

Dalam pernyataan resmi, juru bicara Maria Zakharova menyoroti bahwa serangan itu menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan besar pada infrastruktur sipil, serta memperingatkan bahwa tindakan seperti ini dapat menghambat prospek perdamaian di Timur Tengah.

Selain itu, Rusia juga memberikan peringatan kepada Israel terkait manuver untuk mencaplok Dataran Tinggi Golan, yang dianggap tidak dapat diterima. Wakil Menteri Luar Negeri Sergey Ryabkov meminta Israel untuk menghormati perjanjian pelepasan diri tahun 1974 dengan Suriah dan tidak terbuai (aji mumpung) oleh situasi yang sedang berlangsung.

Rusia menekankan pentingnya semua pihak untuk menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut yang dapat memperburuk ketegangan di kawasan.*** Sumber utama Reuters, Artikel ini didukung oleh AI