Oleh Prof. Sudjarwo*
BEBERAPA hari lalu, penulis melihat link berita seorang kepala daerah mendapatkan plakat penghargaan atas supporting suatu kegiatan. Sang pemimpin tampak sumringah dan berbunga-bunga. Fenomena ini terjadi dimana-mana di negeri ini. Mereka tak tahu ada yang malah bergumam prihatin.
Gumamannya, kasihan, kepalamu kopong, tak berisi gagasan visioner bagi kesejahteraan rakyatnya. Kegirangan kepala daerah itu ketika rakyatnya nyaman, kebutuhan terpenuhi, dan fasos fasum semakin oke. Jangankan sejauh itu, mereka yang di sekitarnya saja kerap mengeluh honor selalu tersendat.
Gumanan penuh mana ini menjadikan perenungan tersendiri akan mahluk Tuhan yang bernama manusia. Sama halnya jika tamsil itu kita metaforakan dalam bentuk lain, salah satu diantaranya “mengundang pejabat yang sejatinya penjahat”.
Kita tinggalkan sejenak peristiwa itu, kita telusuri arti kata kopong dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni [a] (1) kosong; tidak ada isinya; (2) tidak berisi daging buah (tt buah-buahan): Demikian makna secara harfiah, dan jika dikaitkan dengan pemimpin, maka makna menjadi sangat luas.
Untuk tulisan ini lebih fokus pada makna “kepala kopong” dalam arti substatif. Pembahasan menjadi semakin menarik manakala kekopongan itu dikaitkan dengan pemimpin, apapun kelembagaannya atau institusinya.
Seorang pemimpin menurut falsafat Minangkabau "didahulukan selangkah ditinggikan seranting" karena berada pada wilayah ide, bukan teknis atau operasional. Jika berfikir sendiri, mengerjakan sendiri, mengeksekusi sendiri, mengevaluasi sendiri, pemimpin seperti ini model kepemimpinan tukang sate.
Hal ini masih ada bagusnya dibandingkan pemimpin yang pekerjaannya hanya pada wilayah operasional, tidak menyentuh wilayah strategis visioner ke depan. Oleh sebab itu pemimpin model begini tidak ubahnya sebagai kepala dari satu satuan kerja; kemampuannya hanya sebatas pada unjuk kerja.
Pemimpin kepala kopong ini tampaknya sedang menjadi tren masa kini, baik dari tingkat ketua rukun tetangga sampai menteri sekalipun. Bisa dibayangkan jika masih ada menteri yang tertangkap “mencuri” uang negara; padahal contoh soal sudah berkali-kali ada menteri ketangkap berganti baju oranye.
Namun masih juga ada yang ingin mengikuti baris di belakangnya. Kita semua mengetahui sekelas menteri untuk hidup di negeri ini sudah lebih dari cukup, belum lagi di bawahnya yang ikut-ikutan, barisan akan makin panjang jika dideret makin ke bawah.
Benar kata orang bijak bahwa pemimpin itu tidak cukup memiliki bekal kantong dan omong saja; akan tetapi kepala tidak boleh kopong; karena ide-ide brilian harus muncul pada saat melihat persoalan di lapangan.
Sebab jika urutan penyelesaian masalah secara normatif administratif, itu sudah wilayah Badan Perencanaan, dan dinas instansi terkait sebagai eksekutornya. Untuk di luar wilayah itu, inilah domain pimpinan tertinggi untuk membawa institusinya kepada hal yang lebih baik lagi, terutama meyangkut hal-hal strategis ke depan dan tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat serimonial belaka.
Karena sistem yang terbangun tidak memberikan ruang posisi wakil, kecuali sebagai ban serep saja; maka kesan “bermain tunggal” tidak bisa dilepaskan.
Kondisi ini sebenarnya menguntungkan jika dilihat dari kepentingan yang lebih luas, namun sering dimanfaatkan oleh pemain tunggal untuk “sapu bersih” terhadap apapun acara yang disodorkan oleh para penjilat kekuasaan.
Akibatnya kekopongan kepala semakin kelihatan kepermukaan, dan sesuai hukum alam, maka yang lebih mengemuka akan dijadikan sasaran tembak, apapun motifnya.
Anehnya karena kekopongan kepala inilah menjadikan kebutaan seseorang akan hajat hidup orang banyak, yang ada di kepalanya hanya hajat dirinya.
Jika ini melanda kepada pemimpin, dampaknya adalah selalu ingin tampil jika itu menguntungkan dirinya, dalam pengertian menaikkan ektabilitas; padahal itu semu.
Oleh karena itu fatamorgana sosial seperti ini tidak jarang pada akhirnya memakan korban, yaitu dirinya sendiri. Contoh lain dalam khasus yang berbeda namun bersetting sama; ada tokoh nasional yang hari gini mengajak masyarakat untuk melakukan “perlawan sosial” kepada pemerintah.
Tentu saja ajakan ini ditangkap oleh masyarakat sebagai ajakan yang aneh, karena mereka merasa dianggap orang bodoh yang bisa dibodohbodohi. Ketersinggungan kolektif seperti ini tentu sangat merugikan si- penggagas; akibatnya masyarakat maya (nitizen) melakukan perlawanan dengan caranya.
Banyak diantara kita tidak menyadari bahwa pada abad ini teori masyarakat bertambah satu yaitu “Teori Masyarakat Maya”; salah satu ciri masyarakat ini bisa menghakimi siapa saja, termasuk sesama mereka.
Oleh karena itu bagi mereka yang tidak biasa dengan perbedaan sudut pandang, maka melihat perubahan ini menjadi terkena “gegar budaya”; akibat lanjut mereka akan mengalami disorientasi nilai.
Perbedaan sudut pandang inilah yang bagi mereka berkepala kopong menjadi sesuatu keanehan tersendiri, sampai-sampai penampilan salah tingkah, salah rasa, dan lain sebagainya menjadi mengemuka. Akibat lanjut pembenaran akan diri sendiri atau bahkan pembelaan diri, menjadi begitu dominan.
Semoga kepala kopong bukan penyakit menular; sehingga yang terkena sindrom ini cepat sadar bahwa dirinya perlu bantuan untuk mengisi kekopongan kepalanya melalui banyak diskusi dengan segala sumber; dengan demikian perbedaan di dalam diskusi menjadi sumber inspirasi menemukan jati diri.
Termasuk mau membaca apa yang tidak terbaca oleh bawahannya secara struktural; diantarnya setiap pagi Sang Pemimpin dilayani oleh sistem protokoler standard tertentu, coba tanyakan untuk cek and re cek, sudahkah hak-hak mereka diberikan sebagai mana sesuai aturan perundangan yang berlaku.
Jika sudah beri mereka dorongan semangat untuk meningkatkan kinerja; dan jika belum, segera usahakan terobosan karena itu hak hajat hidup mereka.
* Pengamat masalah Sosial dan Pendidikan
