SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Universitas Semarang (USM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional.
Kali ini, USM berhasil meraih Bronze Award dalam ajang kompetisi kuliner bertajuk 2026 China-ASEAN Culinary Skills Competition for Students of Vocational Colleges yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di Nanning Vocational and Technical University, Cina.
Prestasi tersebut dibahas dalam program talkshow USM Update yang disiarkan melalui Radio USM Jaya Semarang, Kamis 5 November 2026.
Baca juga: Borong Gelar GM-DTGI 2026, Wali Kota Semarang Tegaskan Manfaat Digital
Talkshow menghadirkan Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) USM, Aldila Sagitaning Putri SSi MSc, dan mahasiswa FTP USM, Gamaliel Corsel, untuk berbagi pengalaman mengenai proses persiapan, tantangan, hingga pencapaian mahasiswa USM dalam kompetisi kuliner internasional tersebut.
Dalam kompetisi itu, USM mengirimkan empat mahasiswa yang terbagi dalam dua kategori perlombaan, yakni Western dan Flavorful Snack. Mereka adalah Maulana Ardian dan Gamaliel Corsel pada kategori Western, serta Fita Maulida Lestari dan Nadia Aneira pada kategori Flavorful Snack. Salah satu penghargaan berhasil diraih Gamaliel Corsel yang memperoleh Bronze Award.
Aldila menjelaskan, keikutsertaan USM dalam kompetisi tersebut berawal dari undangan yang diterima universitas. Persiapan dilakukan dalam waktu relatif singkat dengan melibatkan mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian dan bidang pariwisata. Para peserta juga mendapatkan pembekalan teknik memasak dan pengembangan hidangan dengan bantuan chef.
''Persiapannya cepat sekali. Kami melakukan latihan produk, plating, kemudian mengundang chef untuk mengajarkan bagaimana membuat Beef Wellington dan kreasi snack,'' jelas Aldila.
Namun, terdapat perubahan ketentuan ketika peserta tiba di China. Perlombaan yang sebelumnya dipersiapkan secara berkelompok ternyata harus dilakukan secara individu. Kondisi tersebut membuat mahasiswa harus menyesuaikan hidangan dan mempersiapkan kembali konsep masakan masing-masing dalam waktu terbatas.
Gamaliel mengaku bangga mendapatkan kesempatan mewakili USM dalam kompetisi internasional tersebut. Terlebih, kompetisi memasak itu merupakan pengalaman pertamanya mengikuti perlombaan di bidang kuliner.
Dalam kompetisi tersebut, Gamaliel menyajikan Indonesian Beef Steak with Gravy Sauce. Ia mengungkapkan bahwa persiapan hidangan dilakukan secara mendadak setelah mengetahui perubahan ketentuan perlombaan.
''Awalnya saya sedikit stres karena ternyata harus individu. Saya belajar menu hanya satu malam dengan bantuan Mas Abe yang sudah lebih berpengalaman. Saya belajar dan menghafalkan tekniknya, hingga akhirnya bisa menyelesaikan hidangan tersebut,'' ungkap Gamaliel.
Selain kemampuan teknik memasak, peserta juga menghadapi berbagai tantangan selama kompetisi, mulai dari keterbatasan bahan baku, perbedaan peralatan memasak, hingga kendala komunikasi karena sebagian panitia tidak menguasai bahasa Inggris. Bahkan, keterlambatan penyediaan bahan baku sempat menyebabkan jadwal perlombaan mundur.
Baca juga: Gebrakan Ekonomi Sirkular, Tim PkM USM Kenalkan Sistem Kelola Sampah Cerdas di Peterongan
Sementara itu, pada kategori Flavorful Snack, mahasiswa USM menghadirkan kreasi kue lumpur dengan sentuhan kopi Gayo asal Aceh. Menurut Aldila, pengembangan makanan tradisional menjadi hidangan modern tidak selalu membutuhkan bahan mahal maupun teknik memasak yang rumit. Kreativitas dalam mengolah bentuk, tekstur, penyajian, serta mempertahankan cita rasa asli menjadi hal penting dalam inovasi kuliner.
Dia menambahkan, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kompetensi utama yang perlu dimiliki mahasiswa ketika mengikuti kompetisi internasional. Mahasiswa dituntut mampu menyesuaikan diri dengan keterbatasan bahan, peralatan, hingga karakteristik cita rasa masyarakat di negara tujuan.
''Makna prestasi ini bukan sekadar keberhasilan mendapatkan juara atau membawa pulang piala. Lebih dari itu, prestasi merupakan bukti nyata dari kerja keras, kemampuan, kreativitas, dan komitmen mahasiswa dalam membawa nama baik fakultas maupun universitas,'' tutur Aldila.
Baca juga: Tangkal Maraknya Pinjol dan Judol, MUI Jateng Sinergi dengan OJK Perkuat Literasi Keuangan
Bagi Gamaliel, pengalaman mengikuti kompetisi tersebut memberikan banyak pelajaran berharga, terutama mengenai kerja sama, saling membantu, manajemen waktu, serta keberanian mencoba hal baru. Ia juga berkomitmen untuk terus mengembangkan kemampuan memasaknya meskipun belum berencana menjadikan bidang kuliner sebagai profesi utama.
Melalui talkshow tersebut, keduanya berharap pengalaman dan prestasi yang diraih dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa USM lainnya untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, serta berani mencoba hal baru melalui berbagai kompetisi.
Aldila berpesan agar mahasiswa tidak hanya berlomba untuk menjadi juara, tetapi juga menghasilkan karya yang memiliki makna dan mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang. (Aji)
