Helo Indonesia

Firaun dan Kaisar Nero Kecil Bertebaran di Sekitar Kita

Annisa Egaleonita - Lain-lain
Sabtu, 24 Juni 2023 08:31
    Bagikan  
Prof. Sudjarwo

Prof. Sudjarwo -

Oleh Prof. Sudjarwo*


SORE itu, ada chat whatsapp masuk dari seorang guru besar yunior mengkonfirmasi ingin bicara lewat sambungan telepon. Tentu saja, saya menyambutnya dengan senang hati. Apalagi guru besar satu ini sangat santun terhadap senior bahkan jauh sebelum dirinya bergelar profesor.

Agak berbeda dengan beberapa rekannya yang sebelum jadi guru besar super santun, namun setelah menyandang predikat tersebut kepalanya mendadak ikut menjadi besar bahkan kadang meremehkan temannya dengan kalimat: “Dia bukan apa-apa”.

Dengan bahasa yang sangat halus, hanya dawai rasa yang mampu menangkap kegelisahannya, sang profesor santun tadi mengeluhkan banyaknya penguasa, apapun jabatannya, merasa seolah-olah kekuasaannya itu miliknya selamanya.

Periodesasi menurut mereka hanya aturan yang bisa diakali agar tidak berlaku untuknya. Semua bisa didesain dari awal agar hak suara akumulasinya bisa dibeli dengan caranya. Padahal semua tahu ada hukum dunia yang harus ditaati sebagai pengejawantahan kodrat.

Baca juga: Meninggal, Anggota Fraksi Demokrat Lamsel H. Abu Bakrie, S.Pd., MM

Kodrat merupakan hukum Tuhan untuk semua makhluk, termasuk jabatan, yakni setiap waktu ada orangnya, setiap orang ada waktunya”. Dengan kata lain, tak ada yang abadi di dunia ini. Jangankan jabatan, Firaun yang menyamakan dirinya sebagai Tuhan saja tinggal mumi dan piramidnya.

Kita tinggalkan keluhan panjang kali lebar dari sang profesor yang sedang mengalami gagal paham dalam memaknai peristiwa sosial di sekelilingnya. Wajar, beliau guru besar bidang eksak yang rumusannya serba pasti, sementara fenomena sosial bisa beragam tafsir, musabab yang menjadikan sebab.

Pengalaman menulis artikel saja, tujuan penulisan kemana tapi ada saja yang menangkapnya berbeda, sampai-sampai ada yang “singut”. Sama halnya komponis sekaligus pengarang lagu Anjar Any. Ketika menciptakan lagu “Yen Ing Tawang ono Lintang” ditangkap pendengar sebagai orang sedang jatuh cinta. Ketika diklarifikasi, lagu itu ternyata harapan penciptanya ingin mempunyai anak wanita.

Mari kita telusuri dengan suatu kerangka berfikir bahwa proses keperbaharuan itu bersifat abadi. Dalam Ilmu Sosiologi dikenal dalil “tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan”. Dalil ini yang sering dilupakan bahkan mereka yang sedang berkuasa, apapun jabatannya.

Ketika dirinya dikeliling banyak orang yang siap melayaninya, menjalankan perintahnya, berharap kepadanya, bahkan mungkin menghamba kepadanya, sindrom kekuasaan mulai menguasai dirinya hingga melakukan rekayasa sosial agar kekuasaannya abadi.

Rasanya tidak etis kita menunjuk hidung beberapa pemimpin negara di dunia ini ada yang secara sengaja dan sistematis untuk melakukan upaya agar tetap berkuasa. Kadang, mereka tak peduli harus melanggar undang-undang. Sindrom itu yang tampak melanda banyak pihak saat ini.

Banyak pejabat, tidak peduli apakah itu jabatan publik atau jabatan periodik, dirinya tak menyadari bermetamorfosis menjadi Firaun kecil dengan ciri-ciri: tidak mau mendengar saran pihak manapun, beranggapan mereka yang tidak sejalan adalah musuh bersama, menganggap para pendahulu adalah tukang babat alas dan sekarang tidak berarti apa-apa.

Baca juga: 600 Kader PDIP Lampung Meriahkan Haul Bung Karno di GBK

Lebih parah lagi melupakan jasa para pendahulu, dan tidak segan-segan untuk memposisikan pendahulu adalah rivalnya. Ada diantara mereka terkena sindrom dirinya merasa “bajunya lebih sempit dari badannya”; sehingga cara berjalanpun harus punya gaya tersendiri, cara bicara harus berbeda dengan orang lain, pilihan diksipun dibuat-buat agar tampak berbeda.

Jika menerima undanganpun harus dipilih dan dipilah; tidak semua dihadiri jika tidak menguntungkan secara pribadi; alasan menolak hadir sangat sederhana dan rasional yaitu “ada acara yang lebih penting”; walaupun sebenarnya yang bersangkutan hanya tidur pulas di ruangan ber-AC-nya.

Anggapan mereka menghadiri undangan harus sama kasta atau kastanya lebih tinggi kekuasaannya dibandingkan dengan dirinya.
Sikap menganggap kekuasaan adalah segalanya seperti Firaun di abad yang lebih modern sebenarnya sudah pula dilakoni oleh Kaisar Nero pada masanya.

Beliau pernah berkata “segenggam kekuasaan itu lebih penting dari sejuta kebenaran”. Jadi tidak salah jika beliau membakar kota: Menurut catatan sejarawan Roma Tacitus (56-120 M), agar dapat mendirikan sebuah kota Roma yang baru, maka Nero dengan sengaja membakar kota Roma.

Sedikit tentang Nero: Ketika itu, daerah kekuasaan Nero sangatlah luas, membentang mulai dari bagian utara daerah Britania selatan hingga ke selatan daerah Maroko, daerah timur Atlantik hingga barat laut Kaspia sedemikian kuat penampilan luarnya.

Baca juga: Dimediasi Kapolres, Ukur Ulang Lahan PTPN VII Way Berulu Mentok Lagi

Namun Roma justru ada di pusat dari seluruh negara imperialis itu, dan Nero pun memegang tampuk kekuasaan secara total, segala kekuasaan negara berada di tangan sang kaisar seorang. Satuan tentara Roma adalah basis dari kekuasaannya.

Rakyat tak punya hak bicara, lembaga tinggi negara sepertinya hanya nama saja. Kaisar ialah penguasa tertinggi, hukum dan segala perangkatnya ada dalam genggamannya. Nasib orang di seluruh negeri tergantung pada suka atau tidaknya sang kaisar seorang.

Ternyata Nero-Nero baru sekarang banyak bergentayangan ingin membangun kerajaannyanya; mereka lupa bahwa dunia ini adalah rumah besar yang diciptakan Tuhan untuk umatnya. Oleh karena itu rumah ini bukan miliki saya atau anda, -“KU” atau “MU”-; karena pemilik mutlaknya adalah Sang Maha Pemilik dan Maha Pengatur akan segala ciptaannya.

Mari kita sadari bahwa kita didunia ini menurut para Syufi tidak lebih sebagai seorang pengelana yang berhenti sejenak untuk mampir minum; sebelum melanjutkan lagi perjalanan panjangnya.

Orang Semende dari Sumatera Selatan pernah berpesan “…….jangan belagak ige di dunie…..ini bukan dek kamu……ade waktunye kele begisir nga jeme lain…..” terjemahan bebasnya jangan sombong di dunia karena ini bukan punya kamu, ada waktunya nanti bergantian dengan orang lain. Tabik pun.

* Pemerhati masalah Sosial dan Pendidikan