HELOINDONESIA.COM - Doner kebab, salah satu makanan kegemaran di ibu kota Jerman, menjadi topik hangat setelah pemerintah Turki mengeklaimnya sebagai sajian khas mereka. Apabila gugatan dikabulkan, maka jajanan populer itu diharuskan berubah nama.
Doner kebab boleh jadi merupakan simbol pemersatu warga Berlin. Semua kalangan secara rutin mengunjungi kedai kebab yang terletak di seluruh penjuru ibu kota Jerman.
Mulai dari pekerja kantoran yang berburu santap siang di tengah kesibukan, anak-anak pulang sekolah yang butuh camilan, sampai para penikmat hiburan malam yang mencari pengganjal perut.
Versi Jerman dari doner kebab Turki tradisional begitu menggugah selera warga Berlin: daging sapi yang dibaluri bumbu dan dimasak di atas tusuk vertikal, diiris tipis, dan ditumpuk dalam roti pita dengan salad renyah. Tak lupa saus yoghurt berbumbu bawang putih.
Baca juga: Diskon Token listrik PLN, Potongan 50 Persen Berlaku Hingga Februari 2025
Adapun sajian tradisional Turki menempatkan daging yang sama tetapi disajikan di piring dengan nasi dan salad.
Situs Visit Berlin menyebut saat ini ada lebih dari 1.000 toko döner di Berlin. Namun, apabila pemerintah Turki memenangkan gugatannya, maka semua toko—di seluruh Jerman, bukan hanya di Berlin—akan dilarang menggunakan nama itu.
Gugatan yang dilayangkan Turki ke Komisi Eropa menuntut pengakuan atas döner kebab sebagai makanan khas Turki.
Hal ini mengingat sajian itu lahir dan berkembang di wilayah yang sekarang dikenal sebagai negara Turki.
Döner kebab bisa jadi akan memiliki status yang sama dengan pizza Neapolitan Italia atau ham Serrano Spanyol.
Gugatan Turki menyatakan hanya kebab yang memenuhi kriteria ketat yang dapat disebut döner kebab.
Dengan kata lain, versi Berlin yang lebih “praktis” tidak akan lolos tes.
Kementerian Pangan dan Pertanian Federal Jerman adalah salah satu dari 11 organisasi yang mengajukan keberatan.
“Döner kebab adalah bagian dari budaya Jerman. Variasi metode memasaknya mencerminkan keragaman negara kita—ini selayaknya dilestarikan,” lanjutnya.
“Demi kepentingan banyak penggemar kebab di Jerman, kami berkomitmen untuk memastikan bahwa döner kebab akan tetap sama.”
Versi Berlin dari döner kebab—yang kemudian diadopsi di seluruh penjuru Jerman—lahir pada awal 1970-an, menurut situs Visit Berlin.
Ada dua orang yang mengeklaim sebagai penciptanya: Mehmet Aygün dan Kadir Nurman.
Mereka adalah bagian dari gelombang “pekerja tamu” Turki yang turut mendorong kebangkitan ekonomi pasca-perang Jerman.
Aygün dan Nurman terinspirasi dari döner kebab Turki klasik dan mengubahnya menjadi sandwich yang mudah dimakan. Alhasil, döner kebab ini pun menjelma sebagai kekuatan ekonomi tersendiri.
Asosiasi Produsen Döner Turki di Eropa yang berbasis di Berlin menyatakan hidangan sederhana ini diperkirakan menghasilkan sekitar €2,3 miliar (Rp38,6 triliun) per tahunnya dari penjualan di Jerman saja.
Baca juga: Awali Tahun Baru 2025, Ketua Kamar Pengawasan MA Lakukan Pembinaan di Kepaniteraan
Di seluruh Eropa, angka ini mencapai €3,5 miliar (Rp58,8 triliun).
Harga döner kebab yang terjangkau membuat hidangan ini dapat dipolitisasi.
Awal tahun ini, misalnya, partai sayap kiri Jerman, Die Linke menuntut pemerintah untuk memperkenalkan Dönerpreisbremse, atau batas harga döner.
Pemerintah Jerman menolak usulan ini.
Deniz Buchholz, pemilik Kebap with Attitude di Berlin, berpendapat naiknya popularitas sandwich sederhana ini menjadi makanan pokok sehari-hari merupakan pencapaian luar biasa satu generasi pria Turki.
“Tidak ada resep tertulis. Cara menyajikan kebab diteruskan dari mulut ke mulut. Masyarakat tidak menghargai apa yang mereka lakukan, tetapi mereka tetap teguh,” ujar pria Jerman keturunan Turki itu.